Tampilkan postingan dengan label Humanisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humanisme. Tampilkan semua postingan

Rabu, November 09, 2005

Saat Tuk Memutuskan

DI sebuah milis, beberapa tahun yang lalu, ada sebuah posting menarik. Judulnya, Cinta dan Perkawinan menurut Plato. Ceritanya kira-kira begini.

Syahdan, suatu ketika Plato muda mendatangi gurunya dan bertanya, "Guru, ceritakan padaku mengenai hakikat percintaan!" Sang guru tersenyum, dan dengan penuh kearifan dia balik bertanya, "Jadi kau ingin mengenal cinta, Anakku?" Plato mengangguk pelan. "Baiklah," sambut sang bijak. "Pergilah kau ke hutan itu, dan ambilkan aku sebuah ranting -- hanya sebuah ranting -- yang kau anggap paling menakjubkan!" katanya. "Tapi ingat, kau hanya boleh berjalan lurus searah dan tidak boleh berbalik."

Tanpa banyak bertanya, Plato pun kemudian melaksanakan sesuai perintah gurunya. Selang berapa lama ia sudah kembali. "Apa yang kau dapat, Ananda?" periksa sang bijak. "Tak ada, Guru, saya tak membawa satu pun" jawab Plato murung. Sang Guru heran. "Mengapa, tak adakah ranting yang menakjubkanmu di sana?" selidiknya. Plato mengggeleng. "Ketika masuk hutan tadi, banyak sekali ranting yang indah dan menakjubkan, Guru. Saya hampir mengambilnya satu. Tetapi saya teringat pesan Guru, bahwa yang harus diambil adalah yang paling indah, maka saya memutuskan mencari lagi barangkali ada yang lebih bagus di depan sana. Demikian terus, hingga kemudian saya sadar ternyata sudah berada di ujung hutan, dan belum membawa satu pun" kenangnya lirih. Sang Guru tertawa, "Itulah perumpamaan Cinta, anakku."

Plato terdiam. Dia belum menangkap apa yang dimaksudkan sang Guru. "Lalu apa bedanya dengan perkawinan?" Plato bertanya lagi. Dia memang murid yang tak mudah menyerah, dan sang guru sangat menyadari itu. "Jika kau ingin tahu tentang perkawinan, Anakku, pergilah kau ke taman itu dan bawakan padaku satu bunga yang menurutmu paling indah. Dan tetap, kau tidak boleh berbalik!" titahnya jelas.

Plato kemudian berlari memenuhi perintah. Tak berapa lama dia sudah kembali dengan sekuntum bunga merah di tangannya. "Aku mendapatkannya, Guru," teriaknya riang. "Ini sebuah bunga yang sangat indah." Tapi sang Guru tak tampak gembira. Dia bahkan seakan meragukan pilihan sang murid. "O ya, tapi apakah kau yakin itu yang terindah di seluruh taman?" tanyanya. Plato kembali terdiam. Dia termenung beberapa saat. "Mungkin tidak, Guru," jawabnya sejurus kemudian. "Saya yakin di depan sana masih banyak bunga yang lebih indah dari ini. Tapi pengalaman di hutan tadi mengajarkan saya untuk cepat memutuskan. Saya tak ingin kembali dengan tangan hampa seperti tadi. Maka ketika ada satu bunga yang saya anggap cukup bagus, minimal tidak terlalu jelek, langsung saya mengambilnya. Dan saya tidak menyesal telah mengambil bunga ini sebagai pilihan saya," lanjut Plato mantap. Wajah sang Guru membinar. "Kini, kau telah mengerti, Anakku. Itulah hakikat perkawinan," katanya tersenyum. Dan Plato mengangguk riang.

***

Saya tak yakin cerita itu otentik. Kuat dugaan itu rekaan orang belaka, dan nama besar Plato hanya dipinjam sebagai tokoh perumpamaan. Mungkin untuk menambah efek "bijak". Judulnya pun barangkali lebih tepat: Cinta dan Perkawinan menurut guru Plato, karena ternyata sang guru yang lebih berpendapat. Tetapi bahkan dari jalan cerita, kita mengetahui bahwa tidak begitu tepat menjadikan tema perbandingan Cinta dan Perkawinan sebagai judul karena dua entitas tersebut sama sekali tak diperbandingkan secara utuh menurut pengertian awam kita. Meskipun begitu, pesannya sangatlah jelas: jangan mencari kesempurnaan dalam cinta!

Pikiran serakah kita selalu menginginkan kesempurnaan dalam berbagai hal, termasuk pasangan hidup. Seorang lelaki normal akan mendambakan wanita yang cantik, baik, kaya, atau apa pun sesuai dengan keinginannya, untuk menjadi istri. Begitupun sebaliknya. Itu manusiawi saja. Tetapi, yang harus disadari adalah ternyata ukuran kesempurnaan itu sangatlah tak berbatas, karena selalu saja ada yang nampak lebih cantik --lebih indah, dari apa yang ada di depan mata. Dan celakanya, di sisi lain, kesempatan untuk mencari dan menyeleksi ternyata sangatlah sempit, sangatlah terbatas. Parahnya lagi, dia bagai jalan lurus yang tak pernah kita bisa berbalik, karena demikianlah memang sang waktu berlaku. Sebuah kesempatan tak pernah datang dua kali, kata orang. Dan itu kerap kali terbukti. Salah-salah, jika kita terlalu mendamba kesempurnaan, alih-alih mendapat yang paling, bisa-bisa malah tak mendapat apa-apa, seperti yang dialami Plato pada kesempatan pertama.

Jadi, ada saat kita harus memutuskan untuk memilih. Saat itu harus tepat, karena terlalu tergesa pun tak baik. Kita pun mesti memiliki cukup waktu untuk menimbang-nimbang -- dan pesan Plato (atau siapapun yang mengarang cerita itu), mikirnya jangan terlalu lama. Karena bisa kebablasan, dalam arti momennya habis. Kapankah saat tepat itu? Kita sendiri yang tahu. Kita sendiri yang menentukan.

Plato memutuskan mengambil satu bunga, manakala melihat ada yang dia anggap cukup mewakili seleranya. Dia tidak ingin mencari yang paling, karena dia pikir itu sia-sia. Dan dia tidak menyesal. Kamu?

Sabtu, Oktober 22, 2005

Gus Dur dan Sebuah Perdebatan Kecil

Tiba-tiba saja saya terjebak dalam sebuah perdebatan kecil. Seorang teman menyerang saya dengan pertanyaan tak asing, "Saya heran, bagaimana bisa seorang intelektual sepertimu mengidolakan orang seperti Gus Dur?", katanya prihatin. Seperti biasa, saya tertawa mendengarnya. Saya jawab ringan, "Justru karena saya merasa sebagai seorang intelektual, maka saya mengagumi beliau".

Teman saya itu adalah seorang Islam formalis. Seorang yang selalu berusaha mempraktekkan Islam dengan segala simbolnya dalam kehidupan sehari-hari, dari celana ngatung sampai janggut, sebagaimana trend yang sedang menggejala pada komunitas-komunitas intelektual muda di kota-kota besar belakangan ini. Orang yang idealis tapi tak cukup radikal. Afiliasi politiknya pun bisa ditebak. Dia adalah seorang simpatisan Partai Keadilan Sejahtera.

Dan saya adalah pengagum Gus Dur. Sebuah kekaguman yang tentunya muncul bukan tanpa sebab. Ini berawal sekitar 6 tahun yang lalu, ketika saya suatu kali singgah di Masjid Raya Makassar dalam perjalanan menuju Malinau, Kalimantan Timur, untuk Praktek Kerja Lapang di sebuah HPH BUMN. Karena kesal menunggu kapal, saya iseng-iseng membeli sebuah buku yang dijual di sana. Judulnya sangat menarik dan provokatif: Tuhan Tak Perlu dibela. Sejak semula, saya memang menyukai sesuatu yang yang berbau kontroversial, sehingga tanpa ragu saya memilih buku itu untuk dibeli, selain memang sempat membaca resensinya di sebuah majalah.

Pada saat itu, Gus Dur sedang menjadi berita, karena baru saja terpilih sebagai Presiden RI menggantikan Habibie. Sikap dan sepak terjangnya yang nyleneh, banyak diulas media. Dari yang memuji, sampai mencaci maki. Dan julukan beliau sebagai Guru Bangsa, banyak membuat orang muda seperti saya terheran-heran. Mengapa orang aneh ini mendapat julukan sedemikian terhormat? Apa yang sudah beliau perbuat sehingga sebagian orang memujanya begitu rupa?

Dan pertanyaan itu terjawab setelah saya membaca buku itu. Ajaib, karena hampir semua pandangan saya tentang sosial keagamaan dan keindonesiaan, yang selama ini mendekam di kepala, ternyata diterangkan Gus Dur dengan lancar, lugas dan enak dibaca. Gagasannya tentang pribumisasi Islam, sangat mengena pada saya yang sedang jengkel terhadap perilaku beberapa teman yang berubah ber-ana antum ria semenjak mereka menjadi aktivis kampus. Sikap toleransinya yang begitu tinggi --bahkan kadang berlebihan-- terhadap kaum minoritas dan beda agama, sejalan dengan saya yang selalu merasakan empati yang besar terhadap mereka-mereka yang ditindas dan diasingkan. Ketidaksukaannya terhadap segala bentuk formalisme, termasuk formalisme agama, juga selalu saya rasakan. Pandangannya yang jernih dan adil dalam menilai suatu permasalahan --pada zamannya-- begitu mengagumkan. Pendeknya, sejak saat itu saya jatuh cinta pada buku itu, dan tentu saja pada sosok Gus Dur. Sampai sekarang, Tuhan Tak Perlu dibela, menjadi buku wajib saya yang selalu saya baca di kala ada kesempatan.

Sejak saat itu saya pun menjadi seorang, kata beberapa teman, ABG atau Anak Buah Gus Dur. Semua tulisan Gus Dur dan tentang beliau, saya buru --saya baca. Selalu menarik. Dan bisa ditebak, apa yang terjadi pada Gus Dur, terjadi juga pada saya. Saya hampir selalu menjadi antitesis. Saya jadi kerap terlibat perdebatan sengit, dengan beberapa teman yang umumnya sangat kontra. Saya ingat, ketika menjelang impeachment terhadap Gus Dur oleh MPR, saya adalah satu-satunya dari seratus orang penghuni asrama yang tetap membela.

Setelah Gus Dur turun dari presiden, beliau pernah membuat buku juga. Tapi sayang, kualitasnya jauh berbeda. Ide-ide segar dan enak dibaca tak bisa lagi kita dapati. Yang ada adalah tulisan-tulisan membosankan dan penuh apologi. Rupanya Gus Dur memang telah berubah. Tetapi itu tak mengurangi hormat saya pada beliau.

Tentu saja, pandangan saya ini bertabrakan langsung teman PKS tadi. Dan ini kerap menjadi sumber perdebatan antara kami berdua. Tak jarang kami terlibat dalam diskusi yang cukup rame. Tapi jangan salah sangka. Kami tidak melakukan itu dengan otot-ototan. Semua perdebatan itu kami lakukan dengan tertawa riang, --meski tidak jarang pake hati juga ding!

Dan jawaban tadi saya sambung dengan sebuah pernyataan sedikit menantang. "Orang-orang yang bisa memahami Gus Dur hanyalah orang yang memiliki intleketual tinggi, yang bisa memikirkan agama dengan dewasa", serang saya sambil ketawa.

Teman satu ini tentu tak puas. "Dia itu pengacau tau? Dia sering bikin bingung umat dengan omongan-omongannya yang ngawur", serangnya sengit. "Justru dengan begitu, Gus Dur mendidik umat muslim untuk selalu bersikap cerdas dalam memandang persoalan", jawab saya tak kalah seru.

Dia menyiapkan serangan susulan. "Muslim macam apa yang selalu lebih membela orang non muslim ketimbang teman-teman seagamanya? Kau tahu apa yang dia katakan tentang Ahmadiyah? Masa dia mengatakan kalo Ahmadiyah, yang jelas sesat, harus dibela? Kiayi seperti apa itu?". Dia memang menggebu-gebu. Saya katakan, seharusnya kita berbangga apabila ada seorang muslim ternyata banyak dipuja oleh mereka yang lain agama. Bukankah itu memberi gambaran yang positif tentang seorang muslim. Bahwa Gus Dur terkadang keras terhadap muslim lain, saya ibaratkan seperti seorang bapak yang menjewer anaknya yang nakal untuk mendidik. "Cuma si anak, kadang terlalu manja", kata saya. Gus Dur memang selalu memposisikan sebagai pembela bagi mereka yang tertindas, termasuk kaum Ahmadiyah. Saya katakan, persoalan sesat dan tidak sesat biarlah milik Allah. Yang jelas, adalah tidak dibenarkan kita melakukan kekerasan pada yang lemah, bahkan atas nama agama pun. Dan bila ada yang melakukannya, itu harus dikecam, muslim atau bukan.

Dia masih ingin melanjutkan perdebatan. Tapi, tiba-tiba... "Awas!". Sebuah sepeda motor melintas cepat, nyelonong di depan mobil yang sedang kami kendarai.

Rabu, Agustus 31, 2005

Selamat Jalan, Cak!

SAYA selalu kagum terhadap mereka-mereka yang memegang teguh prinsip dalam hidup, meski prinsip yang dia anut tersebut sangat berbeda dengan kebanyakan orang, bahkan menentang arus. Bagi saya itulah esensi hidup. Dalam hidup, kita harus memiliki kekhasan tersendiri, sehingga orang dengan sadar dapat merasakan kehadiran kita di lingkungannya. Dan itu dapat tergambar dari prinsip yang dia anut.

Begitu pula saya mengagumi mendiang Cak Nur. Salah seorang yang dikenal sangat berprinsip. Kita masih ingat lontaran-lontaran idenya yang kerap melawan arus. Jargon "Islam Yes, Parpol Islam No". Ajakannya untuk bersekularisasi (dalam pengertiannya sendiri), yang sempat menyebabkan dia disuruh tobat oleh Ridwan Saidi. Ide-ide inklusifisme islam, dan lain-lain. Kesemuanya itu memberikan gambaran yang khas tentang Cak Nur. Dan membuatnya dikenal.

Tetapi kita tahu bahwa Cak Nur bukanlah tipe yang asal melawan arus, sehingga membuatnya berbeda. Cak Nur melakukanya justru dengan kesadaran penuh. Sebuah tingkat kesadaran pinandita, yang tidak mudah dicapai oleh orang kebanyakan. Kesadarannya jauh mendahului zamannya. Maka kita pun maklum, jika akhirnya beliau kerap disalahfahami. Dan diakui atau tidak, pada akhirnya, kini kita pun dapat mengakui kebenaran-kebenarannya. Ide-ide dan pengaruhnya secara nyata terasa dalam kehidupan sosial bernegara kita, langsung atau tidak langsung.

Selamat jalan Cak. Mungkin anda tidak mengenal saya, tapi anda telah banyak menginspirasi saya. Selamat, anda telah menjalani ujian hidup ini dengan sukses. Saya selalu berdoa, agar dapat mengikuti jejakmu.

Minggu, Juli 17, 2005

G i e

...Aku besertamu orang-orang malang
(Soe Hok Gie)

TIBA-tiba saja namanya kembali disebut-sebut, setelah sekian lama hampir terlupakan. Ya, Soe Hok Gie, nama lengkap lelaki kecil itu, kini kembali diperbincangkan orang, semenjak kisah hidupnya yang dramatis diangkat ke layar perak oleh Mira Lesmana dan Riri Riza, dalam Gie, yang didukung oleh promosi yang gencar dan bintang-bintang muda tenar.

Maka kita pun kembali teringat pada diri Gie. Pada perjuangan-perjuangannya. Pada kegigihannya membela nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan. Pada ide-idenya tentang perubahan. Pada kritik-kritiknya yang lugas tapi menusuk. Pada kegelisahan-kegelisahannya akan nasib bangsa yang amat dicintainya. Pada keberpihakannya pada rakyat kecil dan tersisihkan. Pada pusi-puisinya yang impresif. Pada kecintaannya mendaki gunung. Dan pada kematiannya yang tragis di kala usia masih sangat muda.

Gie memang mati muda. Dia meninggal tepat satu hari sebelum ulang tahunnya ke-27 di puncak Semeru. Tapi bukan berarti tidak banyak yang ia lakukan. Di usianya yang pendek itu, Gie telah mengisi hidupnya dengan benderang. Sejarah mencatat bahwa pengaruh dan karya-karyanya tak sependek umurnya. Semangatnya, idealismenya terus menjadi inspirasi perjuangan generasi-generasi selanjutnya, yang merindu keadilan dan nilai-nilai kemanusiaan.

Gie pun menjadi legenda. Sebagian orang membandingkannya dengan Che Ghuevara, yang sohor dan sama-sama mati muda itu. Sebagian yang lain menyesali kematiannya yang begitu cepat. Sebagian lagi, memujanya sebagai pejuang yang tetap konsisten dan lurus hingga akhir hayatnya.

Kita berharap, akan masih banyak Gie-Gie baru yang lahir dan bertumbuh di negeri ini.

Selasa, Maret 15, 2005

Mencari Kharakter Sunda yang Hilang

: untuk seorang teman yang merindu progresivitas

ORANG Sunda, umumnya, dikenal sebagai bangsa yang toleran dan cenderung tidak menyukai konflik (baca: pengalah).

Dalam menghadapi sebuah perbedaan (konfrontasi), alih-alih melakukan ngotot-ngototan, mereka lebih senang mencari jalan tengah, atau mengalah.

Sambil berusaha menikmati konsekwensi kemengalahan tersebut, dan sering dengan segala pembenaran terhadap keputusannya tersebut.

Dus, bangsa yang "manis, baik hati dan tidak sombong", selain pandai menghibur diri.

Inilah juga yang konon menyebabkan tidak banyaknya muncul pahlawan nasional dari orang Sunda dulu (dibandingkan dengan orang Jawa misalnya). Karena orang Sunda memang tidak menyukai konflik.

Para pemimpin Sunda jaman kolonial, umumnya memilih ber-"baik-baik saja" dengan penjajah, dibanding harus berkonfrontasi.

Alasanya: melawan dengan kekuatan senjata, selain sulit menang, juga pada akhirnya malah akan lebih menyengsarakan rakyat sendiri, karena akan timbul banyak korban.

Oleh karena itu sikap kooperatif (mengalah dan patuh) dirasa lebih baik, sambil berupaya agar tidak terlalu menyengsarakan rakyat.

Konon, pemerintah kolonial dulu memang relatif lebih menyukai bupati-bupati Sunda, dari pada daerah lain, karena mereka pandai memuaskan keinginan pemerintah kolonial.

Mereka pun digaji dengan nominal yang jauh lebih tinggi dibanding bupati-bupati daerah lain. Istimewanya adalah, bupati-bupati Sunda umumnya juga dapat melindungi rakyatnya dari kesengsaraan yang lebih, meskipun di waktu yang sama harus melayani sang penjajah.

Hal ini menunjukkan bahwa para pemimpin Sunda memang pandai dalam menjalankan posisi nengah seperti itu, tanpa harus berpusing-pusing berkonflik.

Pilihan yang rasional sebenarnya, meskipun kadang ditafsirkan sebagai pengecut dan kurang peduli dengan kebebasan dan harga diri.

Kini pun demikian. Masyarakat Sunda jarang terdengar berkonflik.

Di tempat asalnya, wilayah Pasundan, masyarakat Sunda dikenal sebagai masyarakat yang ramah dan sopan terhadap pendatang, meskipun kemudian pada akhirnya sang tamu ternyata lebih berhasil memanfaatkan sumber daya dari wilayah tersebut dibanding sang pribumi.

Tidak pernah terjaaadi kecemburuan yang kemudian menimbulkan konflik tajam. Juga di perantauan. Jarang terdengar konflik sosial yang melibatkan orang Sunda.

Pada umumnya mereka diterima dengan baik, karena selain tidak pernah berlaku aneh-aneh, mereka juga dengan mudah dapat menyesuaikan diri dengan budaya setempat.

Hal ini, di satu sisi, tentunya positif saja, terutama dipandang dari kepentingan pemeliharaan stabilitas nasional. 

Provinsi Jawa Barat, sebagai tempatnya orang Sunda, relatif selalu aman dan nyaris tanpa gejolak. Bila pun ada, itu disebabkan hal-hal yang memang sangat sensitif, seperti isu agama, yang terjadi di Tasikmalaya beberapa waktu yang silam.

Tetapi di sisi lain, apabila kita telaah lebih jauh, hal ini juga ternyata mengimplikasikan sesuatu yang sangat menghawatirkan dan memprihatinkan, terutama berhubungan dengan eksistensi mereka sebagai sebuah (suku) bangsa.

Sering, karena saking toleran dan tidak mau ada konflik -nya, - atau juga cenderung karena minder (?), keadaan menjadi terbalik-balik.

Dalam hubungan bertetangga misalnya, ketika berkomunikasi dengan tetangga yang bukan sunda, apalagi bila tetangga tersebut memiliki tingkatan sosial yang tinggi, orang Sunda akan cenderung menyesuaikan diri dengan gaya dan bahasa mereka, dan bukan memunculkan kharakter sendiri.

Jadi, alih-alih tetangga, yang nota bene pendatanglah, yang menyesuaikan diri, malahan sang pribumi yang berubah terlebih dahulu. Begitu seterusnya.

Walhasil, jadinya pabaliut. Akhirnya tidak jelas mana yang pribumi mana yang tamu. Apalagi ketika pendatang tersebut semakin membanyak, seperti yang terjadi di kota-kota besar.

Orang Sunda, sebagai pribumi, kian terdesak, di segala bidang, baik politik, ekonomi maupun budaya. Jati kasilih ku Junti. Di bidang politik, posisi orang Sunda sebagai "penguasa" di daaerah sendiri makin terancam.

Pengalaman komposisi Sunda non Sunda di DPRD Jawa Barat periode lalu yang berbanding terbalik seperti sering diributkan orang, membuktikannya. Di bidang ekonomi apalagi. Sejak lama, orang sunda terpinggirkan oleh ekspansi para pendatang, yang ternyata memiliki kemampuan dan daya juang yang lebih tinggi.

Yang menyedihkan juga adalah kekalahan di bidang budaya. Orang-orang Sunda perlahan namun pasti semakin tercerabut dari akar budayanya. Banyak dari mereka yang bahkan telah menanggalkan identitas kesundaannya, karena diangap tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman.

Dengan begitu, mereka sebenarnya telah memutus rantai identitas yang diwariskan leluhurnya, yang selama berabad-abad telah membuatnya berbeda dari bangsa lain. Dan ini sungguh mnemperihatinkan.

Separah itukah yang terjadi? Barangkali terlalu didramatisir. Namun sulit dipungkiri bahwa kharakter sunda yang "terlalu toleran" dan "cenderung pengalah" tersebut memang telah memberi andil yang besar terhadap inferioritas dan inferiorisme orang sunda seperti yang terjadi saat ini.

Saya jadi teringat sebuah "teori" dari seorang teman yang menyatakan bahwa sebenarnya ada kharakter lain yang pernah menonjol dan dominan pada diri orang-orang Sunda.

Yaitu kharakter yang kuat, tegas dan berani dalam membela hak dan harga diri. Paling tidak, hal itu tercermin dari persitiwa sejarah Pasunda Bubat. Ketika saang Prabu Maharaja Linggabuwanawisesa, beserta pengiringnya, memutuskan untuk melawan dengan gagah berani, dan mati dengan terhormat di medan perang Bubat, ketimbang harus mengaku tunduk kepada kekuasaan dan ambisi sang Gajah Mada.

Tentunya kharakter Sunda yang kuat inilah juga yang telah memungkinkan Kerajaan Sunda waktu itu mampu bertahan, dan mejadi satu-satunya wilayah di Nusantara yang tidak dapat dijamah oleh bala tentara Majapahit yang terkenal dahsyat.

Yang membuat Gajah Mada, sang Mahapatih Majapahit yang perkasa, menjadi frustasi, sehingga merasa perlu menjalankan siasat licik untuk menggenapkan sumpahnya menguasai seluruh nusantara itu. Karakter kuat inilah yang pastinya kemudian membawa Kerajaan Sunda (Pajajaran, setelah peristiwa itu, mencapai puncak keemasan, sampai paro abad XVI.

Lalu kemana kharakter itu kini? mengapa seakan hilang tak berbekas? Telah berubahkah orang Sunda?

Teman saya tadi mengatakan bahwa huru-hara menjelang runtuhnya kerajaan Pajajaran di tiga perempat akhir abad XVI-lah yang menjadi pangkal penyebabnya.

Perang, telah megabiskan mereka yang memiliki karakter kuat, baik karena gugur di medan perang, maupun yang kemudian mengasingkan diri karena tidak sudi hidup terjajah.

Dan menyisakan hanya mereka yang berkharakter lemah, yang tunduk dan bersedia hidup di bawah kangkangan bangsa lain. Karakter itulah yang kemudian kita warisi, dan terpelihara sampai kini. Kharakter yang kalah dan terjajah.

Pertanyaannya adalah: akankah kita terus menjadi yang kalah dan terjajah?

Sabtu, Juni 19, 2004

Bahasa Sunda Bisa Mati?

TANDA tanya hitam itu dilontarkan Ajip Rosidi pada Majalah Cupumanik 11/2004 (Basa Sunda Bisa Paeh?). Jawabnya? Bisa, tegas sang begawan. Secara teoritis maupun berdasarkan kondisi faktuil yang ada, semuanya mendukung kemungkinan itu. Secara teoritis, menurut Ajip, sebuah bahasa, termasuk tentunya bahasa Sunda, bukanlah sesuatu yang abadi. Dia bisa saja mati. Ketika sudah tak lagi digunakan oleh para penggunanya, maka suatu bahasa dikatakan mati. Berdasarkan penelitian, pada abad 20 kemarin, konon terdapat ribuan bahasa di dunia yang musnah. Dan di abad ke 21 ini diperkirakan setiap 10 hari satu bahasa mengalami hal yang sama. Bukan tidak mungkin, risau Ajip, Bahasa Sunda adalah salah satu yang sedang antri diantara bahasa-bahasa dunia yang akan mati tersebut. Terutama bila kita melihat perkembangan realitas yang ada di masyarakat Sunda sekarang.

Secara faktuil, perkembangan yang terjadi di masyarakat memang sangat mendukung kemungkinan tersebut. Tengoklah di kota-kota besar seperti Bandung dan Bogor, dua kota yang memiliki nilai strategis bagi orang Sunda. Bandung adalah ibukota Jawa Barat, satu-satunya propinsi yang identik dengan etnis Sunda di dunia ini. Maka kota Bandung seharusnya menjadi show room dan tolok ukur perkembangan budaya Sunda, termasuk bahasa Sunda. Demikian juga Bogor, kota yang memiliki nilai historis penting bagi Orang Sunda, karena di sanalah konon letak Kerajaan Sunda dulu. Di kedua kota itu, kini, jumlah pengguna bahasa Sunda semakin lama semakin menyusut. Lihatlah di sekolah-sekolahnya. Di mall, di bioskop, di terminal, di bis, di kompleks-kompleks perumahan, di kantor. Anak-anak kecilnya, gadis-gadis cantiknya. Umumnya sudah jarang terdengar ada yang menggunakan bahasa Sunda, meskipun pastilah mayoritas mereka adalah etnis sunda.

Bila di kedua kota strategis itu saja, bahasa Sunda sudah mulai ditinggalkan para penggunanya, maka kita dapat memperkirakan dengan jelas bahwa masa depan bahasa yang sudah berumur lima abad itu memang sungguh suram. Juga di Tangerang, Bekasi, Depok, tempat-tempat dimana tentunya dulu mayoritas penduduknya adalah pengguna bahasa Sunda. Kini hampir tak terdengar lagi dangiang Sunda di sana.

Gejala ini terus menjalar, seganas penyakit menular, ke kota-kota lain di sekitarnya. Barangkali puluhan tahun yang akan datang, bahasa Sunda bisa jadi hanya dikenal sebagai "bahasa gunung", yang hanya dipergunakan oleh sekelompok komunitas aneh yang tingal di bukit-bukit terpencil, sebelum akhirnya mati tergerus zaman. Sayangnya, belum ada penelitian yang serius tentang ini.

Di kota-kota tadi, bahasa Sunda bukan lagi berlaku sebagai bahasa ibu (mother tounge) bagi anak-anak sunda yang lahir. Anak-anak Sunda pun karenanya tidak lagi berbahasa Sunda, dan mengenalnya hanya sebagai bahasa untuk ayah ibu atau kakek nenek mereka, dan bukan untuknya. Sebuah gejala yang mengimplikasikan putusnya regenerasi para pengguna bahasa Sunda di sana. Padahal regenerasi adalah sebuah hal yang paling penting untuk kelangsungan hidup sebuah komunitas. Dan ketika komunitas berbahasa Sunda tidak lagi bisa berregenerasi, maka hampir dapat dipastikan bahwa bahasa Sunda memang sedang menuju ajal! Tentunya bila tidak ada perkembangan lain yang menolong.

Masalahnya adalah, seberapa pentingkah isu ini bagi kita sehingga Ajip perlu berkali-kali memperingatkannya? Konsekwensi apa memangnya yang akan terjadi pada kita bila bahasa Sunda benar-benar mati?


Kematian Bahasa = Kematian Bangsa
Bahasa, konon, adalah karakter unikum sebuah bangsa. Berbagai sisi unik sebuah bangsa akan tergambar pada bahasanya, karena bahasa terbentuk dari pergulatan berabad-abad sebuah bangsa dengan lingkungan dan kehidupannya, jasmani maupun ruhani. Adanya sisi unik tersebut menyebabkan sebuah bangsa dapat dibedakan dengan yang lain. Maka orang sering menyebut bahasa adalah ciri sebuah bangsa. Jadi adanya bahasa Sunda, adalah ciri adanya (suku) bangsa Sunda.

Maka bila bahasa sunda benar-benar mati, berarti berakhir pulalah sejarah orang-orang Sunda dari atas bumi ini. Karena karakter unik orang sunda yang terwakili pada bahasanya akan hilang. Kematian bahasa Sunda jadinya adalah juga kematian Sunda sebagai entitas etnis. Dus, kematian bahasa Sunda adalah kematian eksistensi kita.

Sebuah kematian yang patut disesali, karena selain belum banyak mewariskan karya besar pada kehidupan dunia, juga tidak melalui sebuah perjuangan mempertahankan diri yang heroik. Sebuah kematian yang tragis, karena justru disebabkan kebodohan dan ketidakpedulian anak-anaknya sendiri. Sebuah kematian pengecut yang kalah. Sebuah kematian konyol, yang sebenarnya bisa dihindari.

Hal ini nampaknya bukan sama sekali tidak pernah disadari oleh orang-orang Sunda pada umumnya. Tetapi di hari ini, di era konsumerisme bersimaharajalela, di era kebebasan brutal dan hedonistik, di era ketika masalah-masalah kehormatan dan harga diri menjadi nomor ke dua ratus sembilan puluh sembilan, di era ketika masalah-masalah ketinggian ruhani kalah oleh kepuasan jasmaniah sesaat, semua itu menjadi tak lagi berarti. Dan itu, kini, sah-sah saja, selama tidak membunuh orang.

Maka yang harus dilakukan kini adalah berdagang. Kita, yang masih berharap Sunda akan tetap hidup abadi, harus berupaya untuk menampilkannya lebih menarik. Lebih seksi. Sehingga orang lain bisa memilihnya tanpa harus ditumpangi rasa terpaksa. Bahkan mereka akan merasa bangga, dan menikmatinya.


Fenomena Kue Surabi
Dalam hal ini kita harus belajar pada fenomena kue surabi seperti yang digambarkan Hawe Setiawan pada majalah yang sama (Cupumanik, 11/2004, Sorabi Tutung Biritna). Pada beberapa hal, bahasa Sunda memiliki kesamaan dengan kue ini. Sama-sama produk lama, karena sudah ada sejak sebelum kita lahir, sama-sama hasil karya sendiri orang Sunda (meski mungkin pada mulanya dipengaruhi juga dari kebudayaan lan), dan sama-sama memiliki masalah dengan eksistensi.

Seperti produk-produk lokal lain, surabi, kini memiliki banyak saingan berat, dari donat sampai pizza, yang memiliki citra yang lebih tinggi, penampilan lebih menarik dan rasa lebih bervariasi. Popularitas sorabi terancam. Citra yang sudah kadung melekat sebagai makanan kampung, dengan penampilan yang juga kampungan dan rasa yang begitu-begitu saja, sulit membuatnya bersaing. Nampaknya, umur surabi akan berakhir, dan ditinggalkan.

Tapi ternyata tidak semudah itu. Di sebuah tempat di Bandung utara, konon terdapat sebuah warung (kafe) yang menu utamanya adalah kue surabi. Pengunjungnya selalu penuh, dan datang dari kalangan menengah ke atas. Orang kota dalam arti sebenar-benarnya. Tentunya mereka bukan kebetulan mampir. Mereka datang untuk menikmati surabi yang dihidangkan. Dan mereka tidak merasa rikuh menyantap makanan khas kampung tersebut.

Tentu saja tidak sama dengan surabi di kampung-kampung. Dia sudah bermetamorfosa. Dari pelayannya yang cantik dan muda, jenis surabinya yang bervariasi, penampilannya yang lebih modern, rasanya yang macam-macam, sampai harganya yang jauh di atas surabi biasa. Tetapi apapun, namanya tetap surabi.

Sebuah fenomena unik, yang sebenarnya bisa diambil pelajaran.


Menampilkan Sunda Terhormat
Beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis tentang ide Menampilkan Sunda Dengan Lebih Terhormat (PR, 10/01/2004). Di sana saya menyatakan bahwa keengganan orang untuk menampilkan Sunda, adalah disebabkan persepsi orang yang rendah terhadapnya. Diakui atau tidak, orang Sunda kini merasa inferior dengan keadaannya sendiri. Maka jangan heran, bila di Bandung, anda akan lebih sering dipanggil Mas atau Mbak, dari pada dengan Akang atau Teteh, dan disapa dengan menggunakan bahasa Indonesia. Karena bahasa Indonesia dianggap lebih dapat menunjukkan tingkat sosial yang tinggi bagi penggunanya.

Persepsi yang rendah tersebut disebabkan oleh penampilan Kesundaan yang memang tidak pernah disajikan sesuai dengan perkembangan zaman. Begitu-begitu saja, miskin inovasi. Sehingga kesan yang tercipta adalah kuno, murah, kampungan, tidak intelek, tidak bergengsi dan sejenisnya. Persis kasus kue surabi tadi. Sehingga untuk meningkatkannya, tidak ada jalan lain, penampilannya pun harus diperhatikan.

Jadi buku-buku, majalah Sunda, kesenian dan produk-produk Sunda lain, harus dikemas dengan penampilan lebih menarik, modern, cerdas dan terhormat. Penampilan yang akan membuat seluruh orang Sunda bangga. Bila ini sudah bisa tercapai, saya kira kita tak akan pernah mati, atau bila memang pada akhirnya mati juga, orang akan mengenang kita sebagai bangsa yang besar dan terhormat.

Senin, Mei 17, 2004

Menjadikan Sunda

TULISAN ini tercipta sudah agak lama. Muncul menyembul tepat di tengah-tengah antusiasme yang kadung meluber, yang tercipta dari sebuah pengalaman teramat mengesankan: tulisanku pertama kali dimuat di media massa. Sayang pengalaman itu tak terulang, yang sempat membuat murung antusiasme. Tapi bagi saya, sebuah tulisan adalah karya yang terlalu berharga untuk dibuang. Untuk merangkainya, saya membutuhkan perenungan panjang, yang kadang bahkan menyakitkan. Maka, ijinkan hari ini saya tampilkan kembali dia di sini. Untuk dapat lebih diapresiasi. Semoga.

MENJADIKAN SUNDA SEBAGAI KEBUTUHAN DAN GAYA HIDUP
-- Sebuah Gagasan tentang Visi Pengembangan Budaya Sunda

SAYUP-SAYUP kita mendengar hadirnya sebuah lembaga bernama Kalang Budaya Jawa Barat. Konon, lembaga ini berfungsi sebagai think tank pemerintah daerah dalam bidang kebudayaan, beranggotakan pakar-pakar kebudayaan yang pemikirannya diharapkan menjadi rujukan pemerintah dan masyarakat dalam pembuatan kebijakan tentang kebudayaan di Jawa Barat, diminta atau tidak diminta. Meski tidak secara eksplisit, saya yakin bahwa budaya yang dimaksud di sini tentunya adalah Budaya Sunda.

Namun sayang, sampai kini peran mereka belum terlihat sama sekali. Padahal kita sangat berharap banyak terhadap munculnya pemikiran-pemikiran yang cemerlang dan energik tentang upaya-upaya penyelamatan budaya Sunda --yang keadaannya semakin mengkhawatirkan saja, yang seharusnya bisa dihasilkan dari lembaga semacam itu. Hingga detik ini, kita pun masih menunggu peran nyata pemerintah daerah Jawa Barat dalam upaya memajukan budaya Sunda, secara serius (sejuta rius kalau perlu!) dan penuh dedikasi, bukan hanya keprihatinan lipstick dan tema klise penggugah simpati di setiap sambutan dan perayaan.

Tetapi lepas dari hal-hal tersebut, saya ingin menyajikan tulisan ini, yang saya harap dapat menjadi sebuah sudut pandang baru bagi kita dalam memandang budaya Sunda. Budaya dalam pengertian yang sebenar-benarnya dan dengan penuh kesadaran, bahwa dia adalah sesuatu yang selalu dan akan selalu kita hidupkan sehari-hari, dan bukan hanya berlaku sebagai pelengkap perayaan atau objek nostalgia orang-orang romantik. Sehingga barangkali dapat dijadikan pertimbangan bagi orang-orang seperti yang duduk di Kalang Budaya dalam menyusun langkah kerjanya (bila ada tentunya).

***

BAHWA kebudayaan Sunda di hari ini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, sudah banyak diulas orang. Masalah ini hampir menjadi topik bahasan wajib di setiap forum diskusi tentang Sunda dan kesundaan. Namun sebegitu jauh, saya belum melihat munculnya sebuah ide yang demikian cemerlang dan orisinal, yang disertai dengan langkah-langkah efektif dan strategif sehingga dapat memperbaiki kondisi tersebut. Belum nampak adanya sebuah visi bersama, yang bisa menyatukan gerak langkah potensi-potensi besar elemen kesundaan, sehingga dapat mensublimkan energi yang tersimpan menjadi sebuah kekuatan masif yang mampu mengubah keadaan. Saya kurang tahu apakah hal semacam ini sudah dirumuskan atau belum, tetapi kenyataan yang ada mengindikasikan perlunya kembali kita untuk memperhatikan hal tersebut.

Visi ini sangat penting, agar apa yang dilakukan oleh masing-masing dari kita, baik dari elemen masyarakat awam, pemerintahan formal maupun dari kalangan budayawan swasta, akan dapat menuju ke arah yang sama, sehingga terjadi sebuah sinergitas langkah. Dan untuk dapat merumuskan visi ini tentunya diperlukan sebuah kesepahaman dan objektivitas tentang permasalahan yang ada.

Dan dalam hal ini saya berbeda dengan kang Ajip. Bila beliau sering menyatakan bahwa Undak Usuk Basa adalah faktor yang paling mempengaruhi keengganan kaum muda dalam menggunakan bahasa Sunda, saya melihatnya bukan itu. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kesulitan akibat "ketakutan berbicara tak pantas" sebagai konsekwensi dari adanya tingkatan bahasa tersebut, kerap membuat kita lebih memilih bahasa lain (Bahasa Indonesia) ketika berbicara terutama di suasana formil. Tetapi tidak dalam pembicaraan sehari-hari.

Enggannya kaum muda Bandung dalam berbahasa Sunda lebih disebabkan karena mereka memang tidak diajarkan menggunakan bahasa tersebut sejak awal, yang diakibatkan oleh persepsi yang rendah orang-orang tua mereka terhadap bahasa Sunda itu sendiri. Mereka tidak dikondisikan untuk mempunyai kebanggaan untuk berbahasa Sunda -- kebanggaan menjadi orang Sunda, bahkan mereka sejak lahir. Sehinggga mereka merasa Sunda bukanlah bahasanya, tetapi hanya bahasa ibu-bapak dan kakek-neneknya. Terlebih, lingkungan yang mempengaruhi gaya hidup mereka sehari-hari, seperti televisi, sekolah, majalah dan mode, pun tidak pernah menampilkan atau tampil sebagai Sunda.

Beberapa waktu yang lalu, ketika ngetop-ngetopnya opera sabun Meteor Garden, kita sering melihat anak-anak muda dengan bangganya mengucapkan kata-kata mandarin, yang sebenarnya jauh lebih sulit dipelajari (secara lingkungan) daripada bahasa Sunda.

Dus, bukan sulit tidaknya, tetapi ngetrend tidaknya.

Selain alasan kebanggaan, adalah alasan kebutuhan. Mempelajari bahasa Inggris misalnya, jelas lebih menjanjikan "hidup yang lebih baik" dari pada ngagugulung bahasa Sunda. Di hari ini, bahasa Inggris dianggap salah satu "tiket mutlak" untuk memperoleh kesuksesan. Maka orang-orang tua akan merasa lebih rugi anaknya tidak bisa berbahasa Inggris dari pada tidak bisa berbahasa Sunda. Bila perlu, mereka akan mengeluarkan uang ekstra dengan memasukkannya ke kursus. Sementara orang merasa tak perlu lagi bisa berbahasa Sunda, karena bila tidak pun tidak membikin mereka mati.

Kedua permasalahan pokok itulah yang harus menjadi perhatian. Dan ini mesti dilihat sebagai suatu konsekwensi logis yang terjadi karena sampai saat ini Ki Sunda belum bisa menjawabnya. Jadi bukanlah sesuatu yang harus disesalkan atau dicemooh, tetapi diterima secara kesatria.

Inferiorisme orang-orang Sunda hendaknya disadari sebagai suatu bukti ketidakmampuan tokoh-tokohnya untuk mempertahankan identitas dan kehormatan dirinya dalam mengikuti panah zaman yang serba cepat dan senantiasa berkembang. Dan gejala ini akan terus berlangsung dan semakin parah sampai di suatu saat akan "membunuh" nya, bila di era dunia tak berbatas ini, dimana serbuan budaya-budaya asing yang lebih indah dan mengasyikkan banyak menjanjikan pilihan, ki Sunda tetap tak mampu membuktikan diri bahwa dengan menjadi dirinya sendiri, mereka bisa " tetap hidup" dan "menjadi terhormat". Itulah sejatinya visi yang harus dicapai oleh ki Sunda –oleh Kita. Saya merumuskannya dalam satu kalimat, yang dijadikan sebagai judul artikel ini: Menjadikan Sunda Sebagai Kebutuhan dan Gaya Hidup.

Kebutuhan dan gaya hidup? Seperti iklan HP saja.

Tetapi kenyataan membuktikan bahwa di hari ini memang handphone saja lebih dianggap penting dan membanggakan dari sekedar identitas kesundaan. Maka, sederhananya, bila ki Sunda juga berlaku sebagaimana HP: dibutuhkan untuk memperlancar segala urusan hidup, sekaligus memberikan tingkatan apresiasi tertentu bagi para penggunanya, maka tak perlu lagi ada kekhawatiran sunda akan dilupakan orang. Malahan akan dicari dan ditunggu.

Nah, bila visinya sudah ketemu, tinggal strateginya.

Tentunya banyak hal yang bisa dilakukan. Beberapa waktu yang lalu, saya menulis tentang ide Menampilkan Sunda Dengan Lebih Terhormat (PR, 10/01/2004), yang sayangnya tidak banyak mencuri perhatian. Dengan melemparkan isu tersebut sebenarnya saya ingin membuka sebuah topik diskusi baru mengenai upaya meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kebudayaan Sunda. Bila sebelumnya diskusi selalu perpusar pada identitas unsur kebudayaan itu sendiri, seperti jenis, asal mula, "aturan main", serta hal lainnya, dan biasanya diakhiri oleh keprihatinan sang budayawan mengenai rendahnya apresiasi dari masyarakat sekarang, maka ke depan saya ingin kita juga lebih memperhatikan "kemasan" (packaging) dari unsur budaya tersebut, sehingga masyarakat akan menyukai mereka dengan sendirinya.

Maka bila dalam Majalah Cupumanik edisi dua minggu kemarin, Kang Nano S menulis tentang perkembangan Tembang Sunda, seharusnya tidak berhenti kepada kepada jenis-jenis dan asal-muasal tembang, tetapi juga dilanjutkan kepada upaya-upaya agar pertunjukan tersebut dapat ditonton orang. Saya tidak meragukan ketinggian mutu dari seni tembang Cianjuran atau Degung, tetapi tetap saja akan membosankan (terutama bagi orang-orang muda, yang progresif) apabila tidak dikemas dalam sebuah pertunjukan yang menarik. Satu misal adalah dengan merancangnya menjadi lebih komunikatif dan apresiatif, dengan menyelipkan dialog-dialog cerdas dan akrab antara penembang dengan audiens tentang latar belakang suatu lagu, seperti juga yang sering dilakukan penyenyi-penyanyi bule di televisi. Dengan adanya interpretasi dan dialog, maka audiens akan mengerti tentang apa yang disajikan dan merasa ikut terlibat dalam pertunjukan. Sehingga lagu degung pun nantinya dapat dinikmati sebagai sajian utama, tidak hanya befungsi sebagai lagu pengiring acara parasmanan dalam sebuah upacara hajatan.

Unsur-unsur penyajian ini terbukti mampu meningkatkan citra sebuah unsur budaya. Pavarotti atau karya-karya Bethoven saya kira jauh lebih membosankan, tetapi dengan dengan pengemasan yang baik, dan interpretasi yang benar tentang ketinggian mutunya, pertunjukan tersebut menjadi satu hal yang menakjubkan dan memberikan citra ekslusif, sehingga orang rela menghabiskan ribuan dollar untuk dapat menghadirinya. Upaya-upaya semacam itulah yang seharusnya lebih dieksplorasi dan dielaborasi para pekerja budaya. Sunda harus ditampilkan dengan lebih terhormat.

Dan ini memang tidak bisa hanya dipikirkan oleh orang-orang seni, sastrawan atau pekerja budaya lain, tetapi juga perlu melibatkan mereka yang mengerti dan professional tentang itu, yaitu orang-orang yang bisa menciptakan trend. Saya kira, Sunda tidak akan kehabisan stok orang-orang semacam itu. Jadi, orang-orang sunda yang profesional sebagai event organizer juga harus membantu orang-orang semacam Kang Nano untuk menyiapkan konser tunggal, misalnya. (iraha Kang?)

Nah, bila apresiasi masyarakat terhadap budaya sunda sudah meningkat, maka secara otomatis ini akan meningkatkan pula industri yang berbasiskan padanya. Logikanya, apabila lebih banyak orang yang membaca majalah sunda, maka akan banyak bermunculan majalah-majalah sunda lain, yang pasti mebutuhkan pengarang-pengarang sunda yang lain pula. Begitu seterusnya. Sehingga budaya sunda menjadi salah satu penggerak industri yang bisa memberikan kehidupan bagi masyarakatnya. Sunda dapat menjadi salah satu pilihan hidup yang menjanjikan.

Satu hal yang perlu dicatat, adalah kita tidak perlu berandai-andai terlalu jauh, bahwa Ki Sunda akan bisa go internasional, atau akan menjadi unsur yang dominan di komunitas budaya nasional --minimal sekarang-sekarang ini. Ekspansif bukanlah tipe orang Sunda, sejarah mencatatnya. Cukup bahwa kita bisa menjadi tuan di rumah kita sendiri, sehingga setiap orang luar yang masuk harus menyesuaikan diri dengannya, dan bukan sebaliknya, ini sudah kemajuan yang sangat berarti. Kita harus membangun "kerajaan budaya" sendiri, yaitu wilayah-wilayah dimana budaya sunda menjadi gaya hidup masyarakatnya. Wilayah tersebut adalah sebagian besar Jawa Barat dan Banten, dimana etnis Sunda merupakan mayoritas.

Makanya kita harus memiliki corong tersendiri. Dan untuk itu sangat dibutuhkan kehadiran media massa yang representatif, terutama media televisi. Hadirnya sebuah stasiun televisi Sunda yang dikemas secara professional dan modern --tidak seperti TVRI Sta. Bandung sekarang, akan sangat menentukan.

Ada yang sependapat?

Sabtu, April 10, 2004

A j i p

TIDAK banyak orang seperti Ajip (Rosidi). Bukan hanya karena karya-karya dan prestasinya yang cemerlang dan mengagumkan, serta pergaulannya yang luas baik di dalam dan luar negeri, tetapi terutama juga pada label identitas yang selalu melekat pada dirinya: Ajip adalah seorang Sunda.

Dan Ajip adalah prototipe manusia Sunda yang sangat langka. Langka, karena pada dirinya menyatu dua ciri yang biasanya jarang bisa sekaligus dimiliki oleh orang-orang Sunda pada umumnya. Dia adalah seorang yang memiliki prestasi besar dengan pergaulan yang luas, baik di nasional maupun internasional, tetapi posisinya itu tidak membuatnya berpaling dari identitas keetnisannya. Bahkan, dia mempunyai kedudukan yang sangat penting pada perkembangan kebudayaan Sunda.

Ada banyak orang Sunda yang berprestasi besar, sehingga mengangkatnya ke pergaulan nasional atau internasional, tetapi jarang yang "berani" dan "tega" menunjukkan label kesundaannya, secara konsisten dan konsekwen, pada dirinya maupun pada keluarganya. Seorang Sunda yang berkenalan dan hidup di lingkungan pergaulan nasional atau internasional biasanya cenderung mengubah diri, dan keluarganya --bermetamorfosa, dari "Manusia Sunda" menjadi "Manusia Indonesia" atau "Manusia Dunia". Kesundaan menjadi masa lalu baginya. Atau paling pol, dia masih merasa Sunda, tetapi tak pernah berkeinginan menurunkan identitas tersebut kepada keluarganya. Padahal kita tahu, seorang Sunda, sudah pasti Indonesia dan Dunia, tetapi tidak sebaliknya. Pada kondisi tersebut, maka pada hakekatnya kesundaannya berhenti atau hilang, karena identitas tersebut tidak pernah disadari atau dipraktiskannya dalam kehidupan sehari-hari. Maka saya heran, dalam buku Apa Siapa Orang Sunda, orang semacam Paramitha Rushadi, yang teu bisa ngomong sunda-sunda acan, misalnya, masih disebut sebagai orang Sunda.

Sebaliknya, tokoh-tokoh yang berkiprah dan berpengaruh dalam kesundaan jarang yang memiliki pergaulan yang mengglobal. Bahkan yang menasional pun bisa dihitung dengan jari. Jangkauan dan pengaruhnya sebatas pada komunitas lokal Sunda saja. Itu pun bagi yang masih setia memperhatikannya.

Jarang ada orang Sunda yang memiliki kedua predikat itu sekaligus. Seakan-akan pilihannya cuma satu. Mengglobal dan berhenti jadi orang Sunda, atau jadi orang sunda, dan jangan bermimpi bisa mengglobal.

Tetapi pada diri Ajip gejala tersebut tersebut tidak berlaku sama sekali. Pergaulannya dengan "dunia lain", tidak menggoyahkan kecintaannya kepada kesundaan. Prestasi besarnya tidak membuat dia memutuskan untuk bermetamorposa. Bahkan posisinya tersebut digunakan sebaik-baiknya untuk mengembangkan budaya leluhurnya tersebut dalam arti sebenar-benarnya. Ajip bukan hanya selalu berusaha menampilkan kesundaannya di ranah komunitas "dunia lain" tersebut, tetapi juga melakukan upaya-upaya yang nyata yang dibarengi dengan kesadaran dan dedikasi yang seutuhnya untuk mendorong perkembangan budaya leluhurnya itu. Hal yang kemudian mendudukannya ke dalam posisi yang sangat penting dalam perkembangan budaya dan sastra Sunda. Kalau dibuat pebandingan, kira-kira posisinya hampir serupa dengan Jasin dalam jagad kesusastraan Indonesia. Bahkan sebenarnya cakupan Ajip lebih luas, karena bukan hanya pada kesusastraan.

Bukti kecintaan tersebut sangat jelas. Selain banyak menulis dalam bahasa Sunda, dia juga sangat memperhatikan perkembangan sastra Sunda. Ajip nampaknya memposisikan diri sebagai "pengawal" perkembangan sastra Sunda, yang memang sangat memerlukan kehadirannya. Dan dalam melakukan ini Ajip tidak pernah setengah-setengah. Integritas dan ketelitiannya sulit dicari tandingannya. Posisi dan integritasnya inilah yang kemudian mengingatkan kita kepada peran Jasin dalam kesusastraan Indonesia.

Ajip juga berupaya dan berfikir keras untuk membangun atmosfer yang mendukung perkembangan sastra sunda. Sejak tahun 1989, atas prakarsanya sendiri, dia memberi Hadiah Sastra Rancage, sebagai upaya untuk merangsang para pengarang sunda untuk berkarya, sekaligus juga untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadapnya. Bahkan selanjutnya penghargaan tersebut juga diberikan kepada kebudayaan daerah lain yaitu Jawa dan Bali. Suatu hal yang sangat luar biasa sebenarnya, karena Ajip-lah (baca: orang Sunda) yang pertama-tama melakukan hal tersebut di nusantara ini, di tengah ketidakkacuhan pemerintah daerahnya masing-masing.

Meski kemudian lama bermukim di luar negeri, itu tidak menyebabkan kiprahnya terhenti. Perhatiannya terhadap kesundaan tidak pernah berkurang. Karya-karyanya tetap merul. Bahkan seperti yang dikatakannya hidup di luar negeri memberikannya banyak kesempatan untuk menulis. Dus, kecintaan Ajip terhadap kesundaan tidak perlu dipertanyakan lagi. Seakan-akan kesundaan adalah tujuan hidupnya.

Tetapi kecintaannya tersebut tidak membuatnya menahan diri untuk bersikap kritis. Bahkan justru dilandasi rasa cinta dan tanggung jawabnya yang besar itulah, maka kemudian dia menjadi sangat kritis. Ajip dikenal kerap melontarkan kritik pada setiap hal, dan pada siapa pun, yang menurutnya perlu dikoreksi. Ajip sadar bahwa selain kuantitas, kualitas sangat penting dalam perkembangan kesundaan, karena kualitas menentukan postur, yang pada gilirannya akan mempengaruhi apresiasi orang terhadapnya. Dan untuk memelihara kualitas tersebut, kritik adalah sesuatu hal yang wajib.

Ajiplah yang pertama kali memperkenalkan seni kritik dalam jagat sastra sunda. Meski kritik adalah suatu hal yang lumrah dan perlu dalam dunia sastra, tetapi dalam prakteknya hal tersebut tidak langsung diterima dengan baik. Kita masih ingat, di tahun 50-an, ketika Ajip mulai mengungkapkan kritik-kritiknya, dia banyak menuai tentangan, terutama dari golongan tua, yang memang banyak menjadi sasaran kritiknya. Nampaknya, hal itu disebabkan masih kuatnya budaya unggah-ungguh dalam budaya Sunda. Mengkritik orang yang lebih tua apalagi tokoh, masih dianggap kurang ajar, cucungah.

Tetapi barangkali juga hal itu disebabkan oleh gaya bahasa Ajip yang memang sangat lugas dan cenderung sarkastik. Bagi yang pernah membaca bukunya yang berjudul Beber Layar, yang berisi kumpulan kritiknya dalam bahasa Sunda, akan dengan cepat akan merasakan bahwa "serangan-serangan" Ajip memang nyelekit dan tanpa tedeng aling-aling. Boro-boro malapah gedang. Dan diakui atau tidak, itulah yang yang menjadi ciri khas Ajip. Nampaknya hal ini dipengaruhi oleh watak egaliternya, yang menurutnya adalah watak asli orang Sunda. Di setiap kesempatan Ajip selalu mengatakan bahwa Undak Usuk Basa, yang membedakan bahasa menurut tingkatan, adalah bukan budaya asli Sunda, tetapi itu adalah warisan Mataram.

Maka tak heran apabila beberapa hari kemarin muncul tanggapan kritisnya tentang buku Sejarah Tatar Sunda (STS) jilid I dan II di Pikiran Rakyat dalam versi Indonesia dan Mangle dalam versi Sunda. Dan tulisannya itu masih sangat ber-khas Ajip: keras, tanpa basa-basi dan detil. Karuan saja ini sempat menyebabkan Nina Lubis dan kawan-kawan yang menulisnya blingsatan. Meski dalam berbagai pernyataannya Nina selalu menegaskan bahwa dia, dan kawan-kawannya, tidak merasa tersinggung dan bahkan mengucapkan terima kasih atas kritik tersebut, tetap saja itu tidak menyembunyikan rasa tidak nyamannya atas tulisan Ajip.

Ketidak nyamanan yang sebenarnya dapat dimengerti. (Juga) Berangkat dari kecintaan dan rasa tanggungjawabnya terhadap kesundaan-lah, maka Nina dan kawan-kawan, kemudian berpayah-payah menyusun buku tersebut. Dan tentunya kerja itu bukan sesuatu yang gampang, dan gratis, tetapi membutuhkan upaya yang keras baik tenaga maupun fikiran. Maka setelah kini semua telah terwujud, mereka berharap hasil kerja kerasnya tersebut akan diterima dan dihargai oleh semua pihak. Dan kritik keras semacam dari Ajip nampaknya tidak pernah diperhitungkan sebelumnya.

Untungnya Nina dan kawan-kawannya bukanlah orang belikan. Kritik tersebut mereka terima dan respons dengan baik. Konon dalam cetakan terbaru, akan dilakukan perbaikan sesuai dengan koreksi dari Ajip.

Tetapi lepas dari itu, kita sesungguhnya mesti berbahagia bahwa semangat dan vitalitas Ajip terbukti masih tinggi. Di usianya yang kini sudah tidak muda lagi, Ajip masih produktif berkarya untuk kesundaan. Dan kiprah Ajip memang masih sangat diperlukan bagi perkembangan kesundaan, yang nampaknya sudah mulai bangun kembali, meski masih tertatih ini. Kemarin, Ajip juga berhasil menghimpun orang-orang Sunda yang berhasil menjadi "orang" dalam Apa Siapa Orang Sunda, yang tentunya ditujukan untuk membangun kepercayaan diri orang-orang Sunda pada umumnya, meski untuk beberapa tokoh saya masih merasa banyak yang dipaksakan masuk.

Semangat dan vitalitasnya tersebut, terus terang saja, membuat generasi muda Sunda seperti saya, menjadi merasa sangat malu.

Rabu, Maret 03, 2004

Kekhasan dan Kehormatan

--Untuk Saudaraku, yang merisaukan aku

APAKAH yang dapat menyejukkan kerisauan hati, selain sebuah nasihat tulus seorang sahabat? Maka dari itu Bagja, saya merasa beruntung bahwa di hari ini saya telah mendapatkannya darimu. Terimakasih. Kau memang selalu tampil menjadi sahabat dalam arti sebenar-benarnya.

Dari dulu saya selalu kagum padamu. Pada keluasan pengetahuanmu. Pada kearifan pikiranmu. Pada keberanianmu berpikir bebas. Dan terutama, pada kemampuanmu mengungkapkan hal-hal tersebut dalam rangkaian kata-kata yang indah dan mengesankan. Maka Ja, saya sangat tersanjung, ketika kau menyajikan kerisauan hatiku sebagai topik dalam blogmu yang kukunjungi setiap minggu itu. Saya merasa kembali mendapatkan teman berdialektika yang telah lama hilang.

Dan saya memang sedang risau, sobat. Kau tahu, kerisauan ini muncul bukan baru kali ini, tetapi sejak lama, bahkan jauh sebelum kita bertemu. Barangkali hanya sebuah kerisauan khas anak muda yang merasa eksistensinya terancam. Meskipun yang terjadi padaku adalah varian yang nampaknya jarang ditemui.

Bagja, kau benar ketika mengatakan bahwa barangkali bahkan orang Sunda sendiri pada mulanya tidak pernah memproklamirkan diri sebagai Sunda. Mungkin itu memang hanya pada mulanya sebutan orang saja. Sebutan yang tentunya tidak muncul tanpa sebab. Suatu komunitas memiliki identitas ketika dia memiliki kekhasan. Dan kekhasan hanya bisa dilihat ketika kita membandingkannya dengan komunitas lain. Maka lahirlah bangsa dan suku.

Kita tahu bahwa kekhasan yang memberikan identitas tersebut tidak hanya kita dapatkan dari ciri-ciri fisik, seperti warna kulit dan ukuran hidung, tetapi juga terutama pada daya kreatif mereka untuk tetap hidup (survive) dan berkembang (grow), yang tentunya sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan sejarah yang menunjang kehidupannya. Dan kita menyebutnya sebagai Budaya, paling tidak Koentjaraningrat pernah mendefinisikannya demikian. Dus, selain ciri fisik, sebuah bangsa atau suku dibedakan terutama oleh kekhasan budayanya. Ketika dia tidak lagi memiliki budaya yang khas maka hilanglah identitasnya. Ciri fisik saja tidak menentukan. Makanya di awal tulisan kemarin saya menegaskan bahwa saya tidak berbicara Sunda sebagai sebuah entitas etnis, tetapi sebuah entitas budaya.

Inilah yang selama ini saya risaukan: hilangnya kekhasan budaya Sunda, yang juga berarti hilangnya identitas itu. Sedang Sunda telah kadung menjadi salah satu bagian identitasku. Saya menganggap kesundaanku sebagai identitas utama, yang sudah sepatutnya selalu saya tampilkan. Sunda adalah kehormatan dan harga diriku (pikiran nakalku kadang mengatakan bahwa bahkan saya Islam pun mungkin karena saya seorang Sunda). Dan gejala hilangnya kekhasan tersebut nyata sekali sedang terjadi. Parameter yang paling mudah dilihat tentunya adalah bahasa. Sedang bahasa adalah rohnya budaya.

Tapi bukankah budaya itu senantiasa berubah? Bukankah ketika budaya berubah, maka identitas yang dibawanya akan pula berubah? Jadi haruskah kita mempertahankan hal yang sebenarnya pasti berubah? Dalam Dangiang Edisi I (1999), Prof Saini KM membantu kita menjawabnya. Menurutnya, merujuk kepada Koentjaraningrat tadi, paling tidak ada tiga hal yang mempengaruhi identitas sebuah kebudayaan: Kreativitas, atau kemampuan untuk mengidentifikasi masalah dengan tepat, ruang atau interaksi ragawi dan jiwani antara komunitas dan lingkungan pendukungnya, serta waktu atau sejarahnya.

Maka lanjut Saini, identitas kesundaan bisa hilang apabila pada orang sunda sekarang ketiga hal tadi hilang, yaitu hilangnya kreativitas, atau hilangnya kemampuannya orang Sunda untuk mengatasi permasalahannya secara tepat, atau hilangnya interaksi ragawi dan jiwani antara orang Sunda dengan lingkungannya akibat bencana alam dan sejenisnya, atau manakala orang Sunda hilang kesadaran akan sejarahnya. Identitas budaya Sunda, simpulnya, ada pada benang merah kemiripan antara sosok budaya dari generasi paling tua Sunda dengan generasi paling mutakhir yang hidup dewasa ini. Dus, meskipun budaya senantiasa berubah, identitas tersebut sangat mungkin untuk dapat dipertahankan dengan batasan-batasan tertentu. Tapi Ja, kesundaan juga sangat mungkin untuk punah, seperti punahnya dinosaurus. Konsepsi ini mungkin agak sulit dipahami. Yang jelas, kembali kepada pendapat diawal, saya berpendapat bahwa rohnya budaya adalah bahasa. Selama bahasa Sunda masih dipergunakan, maka budaya sunda masih ada. Dan sebaliknya.

Permasalahannya tentunya kembali kepada orang sunda sendiri. Apakah dia sepakat untuk mempertahankan identitas kesundaannya atau tidak. Bila ya, maka harus dilakukan upaya-upaya penyelamatan, dan bila tidak, ya diam saja. Atau dorong sekalian. Dan kau tahu, saya telah memproklamirkan diri menjadi yang terdepan pada pilihan pertama. Ini, seperti yang pernah saya katakan, didasarkan kepada kesadaran bahwa dalam hidup kita tidak hanya membutuhkan satu identitas. Saya rindu keberagaman. Selain juga masalah kehormatan dan harga diri.

Untuk itu saya kemudian melemparkan isu Menampilkan Sunda dengan Lebih Terhormat di PR beberapa waktu lalu, justru karena melihat bahwa, Sunda kini telah berlaku hanya sebagai "pelengkap perayaan atau obyek nostalgia orang-orang romantik" atau dalam istilahmu "terhenti sebatas panggung". Bukan sebagai identitas diri yang sepatutnya ditampilkan dalam kehidupan sehari-hari. Bukan sebagai sumber inspirasi dalam mengungkapkan kreativitas. Bukan sebagai budaya orang Sunda lagi.

Kini memang masih terjadi di kota, yang kau sebut sebagai lanskap besar yang selalu menampilkan kesunyian dan keterpencilan dari identitas asalnya. Tetapi sepuluh tahun, dua puluh tahun, lima puluh tahun, atau seabad yang akan datang, ketika semua sudah menjadi "kota" atau jarak kota dan desa sudah sedemikian tipis, saya khawatir bahwa orang Sunda hanyalah terdiri dari komunitas aneh yang hidup terpencil di gunung-gunung. Orang Sunda hanya dikenal sebagai bangsa kelas pembantu dan gelandangan di sudut-sudut kota. Orang Sunda adalah bangsa yang kalah (dalam pandanganku, Kota adalah lanskap kekalahan bagi orang-orang Sunda).

Jadi Ja, obsesiku sebenarnya sederhana saja. Yaitu bagaimana bahasa Sunda digunakan orang sebanyak-banyaknya dan dalam rentang waktu selama-lamanya (saya pun merasa aneh kenapa kita tidak memakai bahasa Sunda di sini). Dan itu hanya akan terjadi apabila Sunda disadari sebagai sebuah identitas diri (yang membanggakan) dan sebagai sumber inspirasi dalam berkreasi (kau benar, saya harus tertantang). Sunda pun harus termodernisasi, dengan arah yang tetap mempertahankan kekhasannya. Kitalah yang harus mengarahkannya.

Dan untuk mengarahkan itulah kita membutuhkan ekslusifitas, gaya, dan bungkus, selain tentu saja isinya.

Barangkali ini akan mengecewakan bagi orang-orang romantik sepertimu. Tapi sayangnya ini harus dilakukan, bila kita masih ingin melihat Sunda hidup, atau paling tidak, mengenangnya sebagai sebuah (suku) bangsa yang bermartabat.

Minggu, Februari 15, 2004

M a s i h

Wuiih, susah sekali mengubah kebiasaan. Tadinya saya berharap bisa sesering mungkin menulis. Tapi kenyataannya sampai hampir tiga minggu saya belum mengeposkan satu pun.

O ya, sebenarnya, minggu kemarin saya menghasilkan satu tulisan, yang tadinya saya kirim kembali ke Pikiran Rakyat, karena merupakan sambungan yang lalu. Tapi kayaknya gak dimuat tuh. Daripada itu ide menguap begitu saja, mendingan saya pajangin di sini aja ya?

MENJADIKAN SUNDA SEBAGAI KEBUTUHAN DAN GAYA HIDUP
-- Sebuah Gagasan tentang Visi Pengembangan Budaya Sunda

Sayup-sayup kita mendengar hadirnya sebuah lembaga bernama Kalang Budaya Jawa Barat. Konon, lembaga ini berfungsi sebagai think tank pemerintah daerah dalam bidang kebudayaan, beranggotakan pakar-pakar kebudayaan yang pemikirannya diharapkan menjadi rujukan pemerintah dan masyarakat dalam pembuatan kebijakan tentang kebudayaan di Jawa Barat, diminta atau tidak diminta. Meski tidak secara eksplisit, saya yakin bahwa budaya yang dimaksud di sini tentunya adalah Budaya Sunda.

Namun sayang, sampai kini peran mereka belum terlihat sama sekali. Padahal kita sangat berharap banyak terhadap munculnya pemikiran-pemikiran yang cemerlang dan energik tentang upaya-upaya penyelamatan budaya Sunda – yang keadaannya semakin mengkhawatirkan saja, yang seharusnya bisa dihasilkan dari lembaga semacam itu. Hingga detik ini, kita pun masih menunggu peran nyata pemerintah daerah Jawa Barat dalam upaya memajukan budaya Sunda, secara serius (sejuta rius kalau perlu!) dan penuh dedikasi, bukan hanya keprihatinan lipstick dan tema klise penggugah simpati di setiap sambutan dan perayaan.

Tetapi lepas dari hal-hal tersebut, saya ingin menyajikan tulisan ini, yang saya harap dapat menjadi sebuah sudut pandang baru bagi kita dalam memandang budaya Sunda. Budaya dalam pengertian yang sebenar-benarnya dan dengan penuh kesadaran, bahwa dia adalah sesuatu yang selalu dan akan selalu kita hidupkan sehari-hari, dan bukan hanya berlaku sebagai pelengkap perayaan atau objek nostalgia orang-orang romantik. Sehingga barangkali dapat dijadikan pertimbangan bagi orang-orang seperti yang duduk di Kalang Budaya dalam menyusun langkah kerjanya (bila ada tentunya).

***

Bahwa kebudayaan Sunda di hari ini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, sudah banyak diulas orang. Masalah ini hampir menjadi topik bahasan wajib di setiap forum diskusi tentang Sunda dan kesundaan. Namun sebegitu jauh, saya belum melihat munculnya sebuah ide yang demikian cemerlang dan orisinal, yang disertai dengan langkah-langkah efektif dan strategif sehingga dapat memperbaiki kondisi tersebut. Belum nampak adanya sebuah visi bersama, yang bisa menyatukan gerak langkah potensi-potensi besar elemen kesundaan, sehingga dapat mensublimkan energi yang tersimpan menjadi sebuah kekuatan masif yang mampu mengubah keadaan. Saya kurang tahu apakah hal semacam ini sudah dirumuskan atau belum, tetapi kenyataan yang ada mengindikasikan perlunya kembali kita untuk memperhatikan hal tersebut.

Visi ini sangat penting, agar apa yang dilakukan oleh masing-masing dari kita, baik dari elemen masyarakat awam, pemerintahan formal maupun dari kalangan budayawan swasta, akan dapat menuju ke arah yang sama, sehingga terjadi sebuah sinergitas langkah. Dan untuk dapat merumuskan visi ini tentunya diperlukan sebuah kesepahaman dan objektivitas tentang permasalahan yang ada.

Dan dalam hal ini saya berbeda dengan kang Ajip. Bila beliau sering menyatakan bahwa Undak Usuk Basa adalah faktor yang paling mempengaruhi keengganan kaum muda dalam menggunakan bahasa Sunda, saya melihatnya bukan itu. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kesulitan akibat "ketakutan berbicara tak pantas" sebagai konsekwensi dari adanya tingkatan bahasa tersebut, kerap membuat kita lebih memilih bahasa lain (Bahasa Indonesia) ketika berbicara terutama di suasana formil. Tetapi tidak dalam pembicaraan sehari-hari.

Enggannya kaum muda Bandung dalam berbahasa Sunda lebih disebabkan karena mereka memang tidak diajarkan menggunakan bahasa tersebut sejak awal, yang diakibatkan oleh persepsi yang rendah orang-orang tua mereka terhadap bahasa Sunda itu sendiri. Mereka tidak dikondisikan untuk mempunyai kebanggaan untuk berbahasa Sunda – kebanggaan menjadi orang Sunda, bahkan mereka sejak lahir. Sehinggga mereka merasa Sunda bukanlah bahasanya, tetapi hanya bahasa ibu-bapak dan kakek-neneknya. Terlebih, lingkungan yang mempengaruhi gaya hidup mereka sehari-hari, seperti televisi, sekolah, majalah dan mode, pun tidak pernah menampilkan atau tampil sebagai Sunda.

Beberapa waktu yang lalu, ketika ngetop-ngetopnya opera sabun Meteor Garden, kita sering melihat anak-anak muda dengan bangganya mengucapkan kata-kata mandarin, yang sebenarnya jauh lebih sulit dipelajari (secara lingkungan) daripada bahasa Sunda.

Dus, bukan sulit tidaknya, tetapi ngetrend tidaknya.

Selain alasan kebanggaan, adalah alasan kebutuhan. Mempelajari bahasa Inggris misalnya, jelas lebih menjanjikan "hidup yang lebih baik" dari pada ngagugulung bahasa Sunda. Di hari ini, bahasa Inggris dianggap salah satu "tiket mutlak" untuk memperoleh kesuksesan. Maka orang-orang tua akan merasa lebih rugi anaknya tidak bisa berbahasa Inggris dari pada tidak bisa berbahasa Sunda. Bila perlu, mereka akan mengeluarkan uang ekstra dengan memasukkannya ke kursus. Sementara orang merasa tak perlu lagi bisa berbahasa Sunda, karena bila tidak pun tidak membikin mereka mati.

Kedua permasalahan pokok itulah yang harus menjadi perhatian. Dan ini mesti dilihat sebagai suatu konsekwensi logis yang terjadi karena sampai saat ini Ki Sunda belum bisa menjawabnya. Jadi bukanlah sesuatu yang harus disesalkan atau dicemooh, tetapi diterima secara kesatria.

Inferiorisme orang-orang Sunda hendaknya disadari sebagai suatu bukti ketidakmampuan tokoh-tokohnya untuk mempertahankan identitas dan kehormatan dirinya dalam mengikuti panah zaman yang serba cepat dan senantiasa berkembang. Dan gejala ini akan terus berlangsung dan semakin parah sampai di suatu saat akan "membunuh" nya, bila di era dunia tak berbatas ini, dimana serbuan budaya-budaya asing yang lebih indah dan mengasyikkan banyak menjanjikan pilihan, ki Sunda tetap tak mampu membuktikan diri bahwa dengan menjadi dirinya sendiri, mereka bisa " tetap hidup" dan "menjadi terhormat". Itulah sejatinya visi yang harus dicapai oleh ki Sunda –oleh Kita. Saya merumuskannya dalam satu kalimat, yang dijadikan sebagai judul artikel ini: Menjadikan Sunda Sebagai Kebutuhan dan Gaya Hidup.

Kebutuhan dan gaya hidup? Seperti iklan HP saja.

Tetapi kenyataan membuktikan bahwa di hari ini memang handphone saja lebih dianggap penting dan membanggakan dari sekedar identitas kesundaan. Maka, sederhananya, bila ki Sunda juga berlaku sebagaimana HP: dibutuhkan untuk memperlancar segala urusan hidup, sekaligus memberikan tingkatan apresiasi tertentu bagi para penggunanya, maka tak perlu lagi ada kekhawatiran sunda akan dilupakan orang. Malahan akan dicari dan ditunggu.

Nah, bila visinya sudah ketemu, tinggal strateginya.

Tentunya banyak hal yang bisa dilakukan. Beberapa waktu yang lalu, saya menulis tentang ide Menampilkan Sunda Dengan Lebih Terhormat (PR, 10/01/2004), yang sayangnya tidak banyak mencuri perhatian. Dengan melemparkan isu tersebut sebenarnya saya ingin membuka sebuah topik diskusi baru mengenai upaya meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kebudayaan Sunda. Bila sebelumnya diskusi selalu perpusar pada identitas unsur kebudayaan itu sendiri, seperti jenis, asal mula, "aturan main", serta hal lainnya, dan biasanya diakhiri oleh keprihatinan sang budayawan mengenai rendahnya apresiasi dari masyarakat sekarang, maka ke depan saya ingin kita juga lebih memperhatikan "kemasan" (packaging) dari unsur budaya tersebut, sehingga masyarakat akan menyukai mereka dengan sendirinya.

Maka bila dalam Majalah Cupumanik edisi dua minggu kemarin, Kang Nano S menulis tentang perkembangan Tembang Sunda, seharusnya tidak berhenti kepada kepada jenis-jenis dan asal-muasal tembang, tetapi juga dilanjutkan kepada upaya-upaya agar pertunjukan tersebut dapat ditonton orang. Saya tidak meragukan ketinggian mutu dari seni tembang Cianjuran atau Degung, tetapi tetap saja akan membosankan (terutama bagi orang-orang muda yang progresif) apabila tidak dikemas dalam sebuah pertunjukan yang menarik. Satu misal adalah dengan merancangnya menjadi lebih komunikatif dan apresiatif, dengan menyelipkan dialog-dialog cerdas dan akrab antara penembang dengan audiens tentang latar belakang suatu lagu, seperti juga yang sering dilakukan penyenyi-penyanyi bule di televisi. Dengan adanya interpretasi dan dialog, maka audiens akan mengerti tentang apa yang disajikan dan merasa ikut terlibat dalam pertunjukan. Sehingga lagu degung pun nantinya dapat dinikmati sebagai sajian utama, tidak hanya befungsi sebagai lagu pengiring acara parasmanan dalam sebuah upacara hajatan.

Unsur-unsur penyajian ini terbukti mampu meningkatkan citra sebuah unsur budaya. Pavarotti atau karya-karya Bethoven saya kira jauh lebih membosankan, tetapi dengan dengan pengemasan yang baik, dan interpretasi yang benar tentang ketinggian mutunya, pertunjukan tersebut menjadi satu hal yang menakjubkan dan memberikan citra ekslusif, sehingga orang rela menghabiskan ribuan dollar untuk dapat menghadirinya. Upaya-upaya semacam itulah yang seharusnya lebih dieksplorasi dan dielaborasi para pekerja budaya. Sunda harus ditampilkan dengan lebih terhormat.

Dan ini memang tidak bisa hanya dipikirkan oleh orang-orang seni, sastrawan atau pekerja budaya lain, tetapi juga perlu melibatkan mereka yang mengerti dan professional tentang itu, yaitu orang-orang yang bisa menciptakan trend. Saya kira, Sunda tidak akan kehabisan stok orang-orang semacam itu. Jadi, orang-orang sunda yang profesional sebagai event organizer juga harus membantu orang-orang semacam Kang Nano untuk menyiapkan konser tunggal, misalnya. (kapan Kang?)

Nah, bila apresiasi masyarakat terhadap budaya sunda sudah meningkat, maka secara otomatis ini akan meningkatkan pula industri yang berbasiskan padanya. Logikanya, apabila lebih banyak orang yang membaca majalah sunda, maka akan banyak bermunculan majalah-majalah sunda lain, yang pasti mebutuhkan pengarang-pengarang sunda yang lain pula. Begitu seterusnya. Sehingga budaya sunda menjadi salah satu penggerak industri yang bisa memberikan kehidupan bagi masyarakatnya. Sunda dapat menjadi salah satu pilihan hidup yang menjanjikan.

Satu hal yang perlu dicatat, adalah kita tidak perlu berandai-andai terlalu jauh, bahwa Ki Sunda akan bisa go internasional, atau akan menjadi unsur yang dominan di komunitas budaya nasional --minimal sekarang-sekarang ini. Ekspansif bukanlah tipe orang Sunda, sejarah mencatatnya. Cukup bahwa kita bisa menjadi tuan di rumah kita sendiri, sehingga setiap orang luar yang masuk harus menyesuaikan diri dengannya, dan bukan sebaliknya, ini sudah kemajuan yang sangat berarti. Kita harus membangun "kerajaan budaya" sendiri, yaitu wilayah-wilayah dimana budaya sunda menjadi gaya hidup masyarakatnya. Wilayah tersebut adalah sebagian besar Jawa Barat dan Banten, dimana etnis Sunda merupakan mayoritas.

Makanya kita harus memiliki corong tersendiri. Dan untuk itu sangat dibutuhkan kehadiran media massa yang representatif, terutama media televisi. Hadirnya sebuah stasiun televisi Sunda yang dikemas secara professional dan modern --tidak seperti TVRI Sta. Bandung sekarang, akan sangat menentukan.

Ada yang sependapat?

Sabtu, Januari 24, 2004

Masalah Sunda dan Kesundaan

Masalah Sunda dan Kesundaan telah menjadi perhatian saya bertahun-tahun. Barangkali hanya keajaiban yang membuat tulisan ini lahir baru di hari-hari ini.

Ini tulisan saya yang dimuat di HU Pikiran Rakyat, edisi Sabtu, 10 Januari 2004

MENAMPILKAN SUNDA DENGAN LEBIH TERHORMAT

SEBELUMNYA, penting dikemukakan bahwa saya tidak akan berbicara Sunda sebagai sebuah entitas etnis, tetapi lebih kepada entitas budaya. Tentunya ini didasarkan pada beberapa alasan. Pertama, adalah kenyataan bahwa banyak orang beretnis Sunda pada hari ini sudah tidak lagi berbudaya Sunda maka mengasosiasikan etnis Sunda dengan budaya Sunda menjadi tidak lagi relevan. Kedua, sebaliknya, banyak orang beretnis lain (non-Sunda) yang malah memiliki apresiasi yang tinggi terhadap budaya Sunda. Dan ketiga, saya kira dalam era globalisasi ini adalah sangat naif bila kita masih berbicara tentang kemurnian etnis.

Oleh karena itu, di sini saya akan lebih menekankan Sunda sebagai sebuah entitas budaya, yang unikum, yang bisa dibedakan dengan budaya-budaya lain dari negeri ini. Akan tetapi, bahwa tulisan ini saya tujukan lebih kepada orang (beretnis) Sunda adalah sangat wajar. Hal itu disebabkan karena sudah sepatutnya merekalah yang lebih bertanggung jawab dan terpanggil untuk melestarikan budaya Sunda sebagai budayanya sendiri.

Lalu tentang batasan budaya Sunda itu sendiri, saya tidak ingin memusingkan diri dengan definisi yang rumit dan berbelit-belit. Cukup dengan parameter bahwa suatu unsur budaya tersebut dapat mencirikan identitas Sunda maka itulah budaya Sunda yang saya maksud. Bahasa Sunda misalnya. Siapa pun tahu bila ada seseorang menyebut kata "naon", yang terbayang adalah Sunda meski yang berkata belum tentu orang Sunda. Bahasa memang elemen yang paling penting di sini sebab ini merupakan unsur yang dapat menjelaskan identitas budaya secara jelas dan mudah dibedakan.

Bahkan, bahasa merupakan gambaran pencapaian tertinggi suatu bangsa, yang dapat menunjukkan karakteristik dan tinggi rendahnya budaya bangsa tersebut. Pendeknya, saya sepakat dengan pernyataan, bahasa menunjukkan bangsa. Meski tentunya patut pula disadari bahwa budaya Sunda bukanlah hanya bahasa Sunda.

Adapun alasan saya menyajikan tulisan ini adalah kenyataan bahwa di hari ini, kita telah memosisikan Sunda dengan tidak semestinya dan sangat menyedihkan. Sebagai sebuah label identitas, yang pada gilirannya menunjukkan eksistensi kita di dalam sebuah komunitas yang lebih besar, seharusnya Sunda menduduki posisi yang lebih terhormat dan membanggakan si pengguna label tersebut. Nyatanya, identitas kesundaan, kini, tidak lagi dianggap penting. Tak lagi ada yang peduli, dibiarkan mati.

Ada beberapa sebab yang melatarbelakanginya. Pertama, ini adalah merupakan efek dari nasionalisme yang begitu kuat, terutama pada saat menjelang dan tahun-tahun pertama kemerdekaan. Pada saat itu bangsa kita memang sedang membutuhkan sebuah identitas baru, yang lebih besar, yang dapat digunakan untuk menghadapi bangsa penjajah. Untuk itu, tidak heran bila nasionalisme pada waktu itu begitu dijunjung tinggi. Hal-hal yang berbau etnis (sukuisme) seakan sebagai sesuatu yang tabu dan dianggap membahayakan persatuan nasional. Hal ini tentu saja memberikan efek yang cukup besar terhadap apresiasi bangsa terhadap etnisitasnya. Meski dikatakan bahwa Indonesia adalah bangsa yang berbhinneka tunggal ika, nyatanya yang terjadi lebih kepada penyeragaman budaya, sesuai dengan kharakterstik budaya penguasa waktu itu.

Kedua adalah mentalitas orang Sunda dan barangkali bangsa Indonesia secara umum, yang memang punya cukup bukti sebagai mentalitas bangsa terjajah. Cirinya adalah dengan selalu menganggap budaya asing (budaya dari luar) memiliki nilai yang lebih tinggi daripada budaya yang dimilikinya.

Ketika terjadi perkenalan dengan suatu budaya yang baru, alih-alih dilakukan pengayaan budaya, yang terjadi malah mereka kecenderungan untuk mengadopsi budaya baru tersebut bulat-bulat dan melepaskan budaya yang dimilikinya begitu saja. Dalam kasus ini, budaya keindonesiaan saya kategorikan dalam budaya yang asing dan baru bagi budaya Sunda. Dengan begitu, berbahasa Indonesia dirasakan lebih terhormat dari pada berbahasa Sunda, misalnya. Begitu pula, di lingkungan berbahasa Indonesia, berbahasa Inggris akan lebih dirasakan terhormat daripada berbahasa Indonesia.

Efeknya adalah semakin besarnya orang Sunda yang tidak lagi berbahasa Sunda, bahkan ketika berkomunikasi dengan sesama orang Sunda. Juga semakin banyaknya orang-orang tua yang tidak lagi mengajarkan bahasa Sunda kepada anak-anaknya dan beberapa gejala lain yang semacam. Gejala ini dengan jelas dapat terlihat di kota-kota besar, di mana interaksi budaya Sunda dengan budaya lain relatif lebih besar. Yang lebih menyedihkan adalah proporsi sebab kedua jauh lebih besar daripada sebab pertama.

Lunturnya kebanggaan indentitas kesundaan ini tentunya sangatlah memprihatinkan karena berhubungan erat dengan eksistensi budaya Sunda itu sendiri, yang juga berarti eksistensi orang Sunda sebagai suatu entitas etnis yang unikum, yang berbeda dengan etnis lain. Logikanya, kelak ketika tidak ada lagi yang berbudaya Sunda maka tidak akan ada lagi orang Sunda. Dilihat dari gambaran tersebut maka sudah sepatutnya kita khawatir (atau malah berbangga?) bahwa kita orang Sunda yang hidup hari ini adalah generasi Sunda terakhir yang ada di dunia.

Saya sendiri berharap itu tidak terjadi. Saya berpendapat, identitas kesundaan haruslah tetap dipertahankan sampai kapan pun juga. Itu bukan hanya didasarkan kepada ikatan emosional buta atau romantisme rasistik, tetapi dalam hidup, kita toh tidak cukup dengan hanya satu identitas? Di samping identitas kebangsaan, kita membutuhkan identitas-identitas lain, seperti agama misalnya atau jenis kelamin, atau umur, warna rambut, ukuran baju dan sebagainya, yang satu sama lain tidak bisa dianggap sebagai yang lebih penting secara mutlak, bergantung pada situasi dan kondisi yang membutuhkannya. Dan identitas kesundaan, biarlah tetap terpelihara --di samping identitas lainya-- agar dapat memperkaya identitas kita.

Jika begitu, tampaknya kita pun harus melakukan sesuatu. Akan tetapi, apa yang bisa kita lakukan?

Saya kira, pada mulanya adalah persepsi. Untuk menyelamatkan budaya Sunda seperti yang saya maksudkan tadi, persepsi orang terhadap budaya itu sendiri haruslah diubah. Dari yang tidak membanggakan menjadi membanggakan, dari yang tidak terhormat menjadi terhormat, dari yang tidak penting menjadi penting. Bilamana persepsi orang Sunda terhadap budayanya sudah meningkat, apresiasi mereka akan terbangun dengan sendirinya.

Masalahnya adalah untuk membangun persepsi ini juga ternyata tidak mudah. Dibutuhkan upaya yang keras, dana yang tidak sedikit, serta waktu yang tidak sebentar walaupun tentunya itu bukanlah sesuatu yang mustahil sama sekali. Masih banyak hal yang dapat kita lakukan. Satu yang ingin saya sampaikan adalah dengan selalu menyajikan Sunda dengan lebih terhormat.

Persepsi yang rendah orang terhadap kesundaan disebabkan karena penampilan kesundaan sendiri yang memang tidak pernah ditampilkan dengan citra yang lebih terhormat. Disadari atau tidak, ketika kita membicarakan Sunda maka yang selalu terbayang adalah masa lalu, orang-orang tua, masyarakat pedesaan, musik tradisional, suasana perkampungan, sawah dan kerbau, si cepot atau si kabayan, Prabu Siliwangi, Majalah Mangle, dengan penampilan tidak pernah berubah dari tahun ke tahun, mistik dan legenda, atau mungkin Suku Baduy. Bukannya masa kini, budaya pop, masyarakat kota, artis, pejabat, presiden, orang-orang kaya, gadis-gadis cantik, dan teknologi. Seakan-akan Sunda tidak lagi relevan dengan hal-hal tersebut.

Pendeknya, gambaran Sunda yang selalu kita tampilkan adalah yang berupa masa lalu, kolot, orang-orang marginal, kualitas seadanya, tradisional, tidak intelek, dan banyak lagi. Untuk itu, tidak heran bila kita bertanya kepada seorang gadis cantik di Kota Bandung akan merasa lebih pantas dengan, "Mau ke mana, Mbak?" Akan tetapi, bila bertemu kakek-kakek berkopiah lusuh cukup berkata, "Rek ka mana, Ki?"

Saya bermimpi bahwa suatu ketika kita bisa menampilkan citra Sunda sebagai sesuatu yang eksklusif, mahal, penting, modern, popular, intelek, berkualitas tinggi, progresif, dan terhormat! Bisakah? Tentu saja. Sedikitnya ada tiga upaya yang bisa saya tawarkan. Pertama, dengan selalu menampilkan orang-orang penting atau pejabat-pejabat di pemerintahan, di daerah Sunda tentunya, selalu berbudaya Sunda dengan konsekuen dan konsisten. Artinya, selain budaya Sunda ditampilkan dalam kehidupannya sehari-hari, Sunda juga diajarkan kepada seluruh keluarganya. Masyarakat Sunda adalah tipe masyarakat yang selalu mengikuti arus, bergantung pada para pemimpinnya. Bila sang pemimpin mau menampilkan budaya Sunda dengan konsisten, ini akan dengan sendirinya diikuti oleh masyarakat Sunda.

Celakanya, para elite Sundalah sebenarnya yang pertama-tama tidak setia dan sangat mudah berpaling kepada budaya lain. Ada semacam kebiasaan yang sudah membudaya bahwa ketika orang Sunda menjadi elite maka dengan sendirinya mereka akan menanggalkan kesundaannya. Di sini saya kira perlunya peranan pemerintah daerah (gubernur, bupati). Sedikit kebijakan yang agak "memaksa" akan sangat berguna. Kedua, dengan menampilkan orang-orang populer, seperti artis, olah ragawan, ilmuwan, dan lain-lain yang beretnis Sunda, dengan berbudaya Sunda, juga dengan konsisten dan konsekuen. Ini untuk menunjukkan bahwa Sunda pun sebenarnya relevan dengan komunitas-komunitas tersebut sehingga dapat menimbulkan kepercayaan diri orang Sunda yang sempat hilang. Dalam hal ini, diperlukannya peranan media massa yang representatif, baik elektronik maupun cetak. (Saya malah berandai-andai kita memiliki sebuah stasiun televisi murni Sunda yang kualitas, baik gambar maupun acaranya, tak kalah dengan TV swasta lainnya, misalnya).

Ketiga, dengan menampilkan produk-produk yang berbau Sunda dengan heboh, kualitas tinggi, eksklusif, mahal, modern, canggih, dan ilmiah. Majalah Sunda, misalnya. Sudah sepantasnya kita memiliki sebuah majalah yang tampilannya semacam Tempo atau dengan kualitas kertas se-Cosmopolitan. Yang dibahas pun bukanlah hanya sejarah atau mistik, tetapi hal-hal yang populer dan ilmiah dengan bahasa yang tidak kaku. Atau penampilan acara tembang cianjuran yang dikemas dengan komunikatif dan megah semacam konsernya Pavarotti. Ataupun memproduksi film Sunda sepopuler AADC, misalnya (kapan bisa sekelas "The Lord of The Ring"?).

Saya memang tidak pandai membikin contoh, tapi saya kira idenya dapat dengan jelas dipahami.

Beruntung bahwa kini sudah ada sekelompok orang yang sudah memulai kerja itu. Seperti yang dilakukan oleh beberapa generasi muda Sunda dalam Kusnet (Komunitas Urang Sunda di Internet). Atau pula yang dilakukan oleh sebuah penerbitan dengan mengeluarkan Majalah Cupumanik, dengan berpenampilan sedikit pantas (kapan bisa setebal Intisari dengan iklan yang bejibun?). Juga tentunya yang sudah dilakukan pihak-pihak lain walau itu kita tahu itu belumlah cukup. Perlu dukungan kita semua, yang masih peduli dengan Sunda dan kesundaan.

Mari kita tampilkan Sunda dengan lebih terhormat!***