Sabtu, November 23, 2013

“Singa” Gunung Babakan

MAKAM itu berada di tempat yang agak tinggi.  Kita harus mendaki jalan setapak untuk mencapainya.  Tapi tak lama, cukup beberapa menit saja sudah sampai. Letaknya di pinggir jalan Siliwangi Kota Banjar, Jawa Barat.  Di sebuah bukit bernama Gunung Babakan yang masuk kawasan hutan Perum Perhutani.  Cirinya sebuah batu besar yang menjorok ke jalan.  Pemerintah kota sengaja tidak membongkarnya ketika jalan tersebut diperlebar.  Mungkin menghormati tokoh yang disemayamkan di atasnya: Kangjeng Dalem Singaperbangsa.

Ada dua makam kuno berjejer, dikelilingi oleh pagar kawat yang rendah.  Makam yang satu nampak lebih besar. Mungkin itu makam Sang Dalem.  Sedang yang lebih kecil entah punya siapa. Bisa jadi istri beliau, sehingga ditempatkan berda mpingan.  Nisannya memang tidak bertulis.  Batu-batu penutupnya sudah berlumut tebal, menandakan makam tersebut  memang sudah sangat tua.  Pohon-pohon besar dan tinggi menjulang yang tumbuh di sekitarnya menghadirkan kembali suasana masa lalu yang hening dan mistis. 


***

Singaperbangsa adalah seorang tokoh historis. Namanya tercatat dalam beberapa sumber sejarah formal.  Dus, dia bukan sekedar tokoh mitos atau legenda.  Tokoh ini sangat identik dengan kota Karawang, Jawa Barat.  Universitas dan stadion olahraga di kota penghasil beras itu menggunakan namanya.  Ya, karena Singaperbangsa dianggap sebagai pendiri Karawang.  Ia adalah bupati pertama kota itu pada abad XVII, ketika tatar Sunda berada di bawah kekuasaan Kesultanan Mataram. Dia dilantik menjadi bupati oleh Sultan Agung pada tahun 1633 dan wafat pada 1677. Makamnya terletak di Desa Manggung Jaya Kacamatan Cilamaya, sekitar 40 km dari pusat kota Karawang.

Lalu mengapa makam Singaperbangsa juga ada di kota Banjar? Bagaimana hubungannya?

Konon, semua berawal dari sebuah tempat bernama Kertabumi, sebuah kerajaan kecil yang berdiri di akhir Abad XVI berlokasi di tatar Galuh, Kabupaten Ciamis sekarang.   Singaperbangsa diduga memiliki kaitan yang erat dengan tempat ini.  Ini terlihat dari gelar yang ia pakai ketika dilantik menjadi Bupati Karawang oleh Sultan Agung, yaitu Adipati Kertabumi IV.

Pasca runtuhnya Kawali (sekarang sebuah kota kecamatan di Ciamis sebelah utara) sebagai ibukota Kerajaan Galuh oleh serangan Cirebon yang dibantu Demak pada 1570 M, beberapa menaknya mendirikan pusat kekuasaan baru yang masih mempertahankan corak Hindu, di Salawe, Cimaragas, sebuah kota kecamatan di Ciamis selatan.  Oleh karenanya nama kerajaannya sering juga disebut Galuh Salawe, dengan rajanya bernama Prabu Maharaja Sanghiyang Cipta di Galuh.

Pada tahun 1595, pengaruh politik Kesultanan Mataram mulai sampai ke Priangan. Tapi Panembahan Senapati, yang waktu itu masih disibukkan dengan upaya penaklukan wilayah-wilayah pesisir utara Jawa, belum terlalu menegaskan kekuasannya. Kerajaan-kerajaan di tatar Priangan, termasuk Galuh, masih diakui sebagai kerajaan yang mandiri, belum menjadi bagian langsung pemarentahan Mataram. Hal ini dicirikan dengan para penguasanya yang masih diijinkan menggunakan gelar Prabu atawa Maharaja.

Setelah Prabu Maharaja Sanghiyang Cipta wafat, ia digantikan oleh putranya bernama Prabu Cipta Permana, yang selanjutnya memindahkan pusat kekuasaan ke Gara Tengah (sekarang Cineam, Tasikmalaya). Beda dengan ayahnya yang penganut agama leluhur, Cipta Permana sudah beragama Islam, karena dia menikah dengan Tanduran Tanjung, putri maharaja Kawali yang sudah Islam sebelumnya (Kawali saat itu berada di bawah kekuasaan Cirebon). 

Nah, selain Gara Tengah, di wilayah tatar Galuh terdapat juga beberapa pusat kekuasaan daerah (karajaan kecil), diantaranya Kawasen (Banjarsari sekarang) dengan rajanya bernama Sanghyang Permana, putra bungsu Prabu Maharaja Sanghiyang Cipta, dan Kertabumi, dengan rajanya bernama Rangga Permana (putra Prabu Gesan Ulun dari Kerajaan Sumedanglarang, menantu Prabu Maharaja Sanghiyang Cipta) yang bergelar Prabu di Muntur atau Adipati Kertabumi I. Petilasan Kerajaan Kertabumi ini bisa ditemukan di Dusun Bundar Desa Kertabumi kacamatan Cijeungjing, Ciamis.

Ketika Sultan Agung (1613-1645) naik tahta, Kesultanan Mataram mulai mereorganisasi wilayah-wilayah kakuasaannya di Priangan. Kerajaan-kerajaan yang menjadi vassalnya diturunkan derajatnya menjadi hanya setingkat kabupatian. Gelar para penguasanya pun tidak lagi Prabu atau Maharaja, tetapi cukup Tumenggung atau Adipati.

Saat itu yang menjadi penguasa di Galuh adalah Adipati Panaekan (1618-1625), putra Prabu Cipta Permana. Beliau diangkat menjadi Wedana Bupati Mataram di tatar Priangan. Sedangkan yang menjadi bupati di Kertabumi adalah Singaperbangsa (dalam beberapa sumber dikatakan bernama Wiraperbangsa), cucu Prabu di Muntur, dengan gelar Dipati Kertabumi III. Pusat kekuasaannya sudah pindah ke Bojonglopang, Banjar Kolot sekarang.  Oleh karena itu, Kertabumi disebut juga Kabupaten Bojonglopang.

Bila melihat kekerabatan, hubungan Panaekan dengan Singaperbangsa adalah paman-keponakan. Sebab, Singaperbangsa adalah cucu dari Tanduran Ageung, kakak Prabu Cipta Permana, ayah Panaekan. Meski begitu, nampaknya hubungan di antara mereka tidak begitu bagus.  Dalam hal politik, Singaperbangsa lebih berkiblat ke Sumedanglarang, negeri asal sang kakek.

Pada tahun 1625, Sultan Agung mulai bersiap untuk menyerang VOC di Batavia, yang tentunya melibatkan pasukan dari tatar Sunda. Hal ini ternyata menjadi sumber perselisihan antara Panaekan dan Singaperbangsa. Panaekan, menurut beberapa sumber, se-ide dengan Dipati Ukur, yang ingin secepatnya menyerang sebelum VOC semakin kuat. Sedangkan Singaperbangsa menolak.  Ia ingin agar pasukan tatar Sunda memperkuat  logistik terlebih dahulu, sesuai pendapat Rangga Gempol I (Bupati Sumedang, yang juga pamannya).

Entah bagaimana konstelasi politik yang berkembang waktu itu. Yang jelas, perselisihan itu meruncing, sampai akhirnya mengakibatkan terbunuhnya Panaekan oleh Singaperbangsa. Jenazah sang paman dibuang ke sungai Cimuntur dan ditemukan di Situs Karang Kamuliyan yang oleh para pengikutnya kemudian dimakamkan di sana. Panaekan digantikan oleh putranya yang bernama Dipati Imbanagara (1625-1636).

Serangan pasukan Mataram (yang didalamnya juga termasuk pasukan dari tatar Sunda) ke Batavia jadi dilaksanakan pada taun 1628 dan 1629, yang dua-duanya menemui kegagalan.
***
Nama Singaperbangsa kembali disebut pada tahun 1632. Waktu itu Sultan Agung menugaskan beliau dan 1.000 orang cacah untuk mengamankan daerah Karawang dari gangguan tentara Banten, sekaligus menyiapkan logistik untuk serangan selanjutnya ke Batavia (yang tidak pernah terlaksana sampai wafatnya Sultan Agung). Tugas tersebut ternyata bisa dilaksanakan dengan baik. Pada tahun 1633 Singaperbangsa dipanggil ke Mataram untuk mendapatkan penghargaan berupa keris bernama "karosinjang."

Nah, dalam perjalanan pulang dari Mataram tersebut, Singaperbangsa mampir ke Galuh. Mungkin ia rindu pada tanah kelahiran dan saudara-saudaranya di Kertabumi.  Kehendak Yang Kuasa, Singaperbangsa tidak pernah kembali lagi ke Karawang. Ia jatuh sakit dan tak lama kemudian wafat. Jenazahnya dimakamkan di “Galuh”.  Kekuasaan di Karawang diteruskan oleh putranya yang juga bernama Singaperbangsa, dengan gelar Adipati Kertabumi IV. Dialah yang kemudian dianggap sebagai Bupati Karawang pertama dalam sejarah resmi.

Jadi, apabila melihat uraian cerita di atas, kuat dugaan tokoh yang bersemayam di Gunung Babakan adalah Kangjeng Adipati Singaperbangsa yang wafat di Galuh (Wiraperbangsa) atau Adipati Kertabumi III.  Beliau  adalah ayah dari Singaperbangsa yang menjadi Bupati Karawang pertama (Adipati Kertabumi IV). 

Wallohuallam.

Tidak ada komentar: