Tampilkan postingan dengan label Kehutanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehutanan. Tampilkan semua postingan

Jumat, Desember 09, 2011

Kiprah Indah LMDH Wana Mekar

Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wana Sukamekar di Kampung Ciharum Desa Sukamekar Kecamatan Sukanagara Kabupaten Cianjur didirikan oleh para petani hutan tahun 2005. Tujuannya meningkatkan kesejahteraan anggota dengan mengoptimalkan potensi hutan yang berada di pangkuan desa Sukamekar. Kini jumlah anggotanya mencapai 300 orang dengan 10 orang pengurus.

“Mereka terdiri dari penyadap getah pinus, petani tumpangsari dan para pekerja di tebangan,” kata A Juhana, sang ketua, saat ditemui beberapa waktu lalu. LMDH tersebut mengelola hutan pangkuan desa Sukamekar yang masuk wilayah pengelolaan RPH Campaka BKPH Sukanagara Utara Perum perhutani KPH Cianjur. Luasnya 1.071,08 Ha, terdiri dari tegakan Pinus, rasamala, pulai, acacia mangium, mindi dll.

“Kami bersama-sama Perhutani mengelola hutan,” ujar Juhana. Sejak tahun 2007, LMDH telibat dalam kegiatan pembuatan tanaman dengan hasil yang sangat baik. Sebanyak 47 anggota aktif menjadi penyadap getah pinus. Anggota juga menjadi tenaga kerja pada saat dilakukan kegiatan tebangan. Limbah tebangan/kayu bakarnya dapat mereka manfaatkan dengan gratis.

Para petani hutan memanfaatkan lahan dengan tumpang sari padi gogo, kacang-kacangan, jagung dan cabe. Hasilnya dirasakan sangat membantu perekonomian mereka.

“Kami pun turut mengamankan hutan,” lanjut Juhana. Angka gangguan hutan terbukti terus menurun. Tahun 2007, di wilayah tersebut tercatat terdapat 2 LA (laporan kepolisian atas kehilangan pohon). Tahun 2008 angka tersebut menurun menjadi hanya 1 LA. Dan sejak 2009 tidak ada lagi LA. “Kami terus melakukan penyadaran kepada para penggarap untuk membantu pengamanan,” lanjutnya.

Keberadaan mereka ternyata menarik perhatian pemerintah daerah setempat. Melihat potensi yang baik dari kelompok tersebut, Dinas Peternakan Kabupaten Cianjur pun memberikan bantuan ternak sapi. “Pada 2007 – 2008 kami mendapat sebanyak 50 ekor sapi. Bila diuangkan nilainya kurang lebih Rp.500 juta,” kata Juhana.

Kini sapinya berkembang menjadi 80 ekor dan melibatkan sebanyak 28 orang peternak yang tersebar di beberapa kandang. “Kebutuhan pakan dicukupi dengan rumput gajah yang ditanam di sekitar kandang dan yang ditanam di bawah tegakan dalam kawasan hutan.”

Mereka juga mengembangkan kopi arabika di bawan tegakan. Penanaman kopi kopi sudah dimulai sejak Tahun 2008 seluas 16,30 Ha. Pada tahun 2009, Perhutani KPH Ciajur memberikan bantuan pinjaman PKBL sebesar 15 juta rupiah. Pinjaman tersebut sebagian digunakan untuk persemaian kopi. Tahun 2011 direncanakan untuk memperluas penanaman kopi yang sampai 70 Ha yang bibitnya didapat dari hasil persemaian tersebut.

Tahun 2010, mereka kembali mendapat bantuan dari Dinas Peternakan berupa pembangunan satu Unit rumah kompos dengan mesin pembuat kompos. Juga bantuan dari Gubernur melalui Dinas Pertanian berupa pupuk sebanyak 3 ton.

Keberadaan LMDH, tidak hanya dirasakan oleh para anggota, tetapi juga oleh warga masyarakat lain. Seiring dengan kondisi permodalan LMDH yang membaik, mereka pun menyelenggarakan program-program sosial.

Sekretariat yang mereka bangun, mereka fungsikan sebagai tempat belajar 24 anak PAUD dan Posyandu. LMDH juga membantu membangun Madrasah di kampung, membantu pembuatan balai tempat belajar di luar ruangan Sekolah Dasar, membangun MCK, membantu perbaikan jembatan desa, serta menyantuni anak yatim.

“Kami pun memberikan bantuan biaya pengobatan bagi anggota yang sakit,” kata Juhana.

Kini, Pengurus LMDH punya obsesi lain. Yaitu giat menanamkan kembali nilai-nilai gotong royong di tengah masyarakat yang hampir pudar.

“Kami sering menggerakkan anggota LMDH untuk bersama-sama membantu memperbaiki rumah warga yang rusak,” ujar Juhana.

Sebuah kiprah rakyat kecil yang indah.

Catatan: tulisan ini dimuat di Duta Rimba

Selasa, Juli 11, 2006

Ke Gua Pawon



Photobucket - Video and Image Hosting

Photobucket - Video and Image Hosting

Photobucket - Video and Image Hosting

Photobucket - Video and Image Hosting

Photobucket - Video and Image Hosting

Siang tadi diajak Pak Adm untuk melihat bakal lokasi panjat tebing untuk Jamnas sekalian ke Gua Pawon, situs purbakala itu. Sempat pula berpose ria he he..

Sabtu, Juni 10, 2006

Botram*


Photobucket - Video and Image Hosting

Photobucket - Video and Image Hosting

Photobucket - Video and Image Hosting

Photobucket - Video and Image Hosting

Photobucket - Video and Image Hosting

Rekreasi memang wajib. Setelah bekerja sebulan, kita perlu meluangkan waktu untuk menyegarkan suasana. Bersama. Dan, dibantu para ibu-ibu dan anak-anak, hal itu bisa dilakukan dengan botram.

Botram adalah makan-makan bareng ala orang Sunda.  Biasanya bersama teman atau keluarga.  Menunya nasi liwet, ikan asin plus sambel lalap.  Lalapannya yang istimewa jengkol. wuih..
Bila ada lebih asik bila ditambah goreng ayam atau bakar ikan.

Botram enak dilakukan bila makanannya masih anget.   Jadi masakannya dadakan, bareng-bareng.   Lebih asik dilakukan di alam terbuka. Kebun, pinggir sawah atau sungai.

Setelah nasi liwetnya matang kemudian dituangkan ke daun pisang.  Banyaknya daun pisang tergantung banyaknya orang.  Bisa 2 sampai 4.

Selanjutnya lauk pauknya.  Disebar merata agar semua kebagian.

Kemudian ya makan bareng....

Ajaib.  Rasanya mantap.  Meskipun lauk pauk seadanya dijamin anda akan makan dengan lahap.

Entah mengapa botram selalu membuat nafsu makan saya meningkat.  Mungkin karena suasananya yang lain atau karena bersama dengan teman-temann.

Hmm.. botram adalah cara menggemukkan badan paling efektif!



 


Sabtu, Oktober 22, 2005

Gus Dur dan Sebuah Perdebatan Kecil

Tiba-tiba saja saya terjebak dalam sebuah perdebatan kecil. Seorang teman menyerang saya dengan pertanyaan tak asing, "Saya heran, bagaimana bisa seorang intelektual sepertimu mengidolakan orang seperti Gus Dur?", katanya prihatin. Seperti biasa, saya tertawa mendengarnya. Saya jawab ringan, "Justru karena saya merasa sebagai seorang intelektual, maka saya mengagumi beliau".

Teman saya itu adalah seorang Islam formalis. Seorang yang selalu berusaha mempraktekkan Islam dengan segala simbolnya dalam kehidupan sehari-hari, dari celana ngatung sampai janggut, sebagaimana trend yang sedang menggejala pada komunitas-komunitas intelektual muda di kota-kota besar belakangan ini. Orang yang idealis tapi tak cukup radikal. Afiliasi politiknya pun bisa ditebak. Dia adalah seorang simpatisan Partai Keadilan Sejahtera.

Dan saya adalah pengagum Gus Dur. Sebuah kekaguman yang tentunya muncul bukan tanpa sebab. Ini berawal sekitar 6 tahun yang lalu, ketika saya suatu kali singgah di Masjid Raya Makassar dalam perjalanan menuju Malinau, Kalimantan Timur, untuk Praktek Kerja Lapang di sebuah HPH BUMN. Karena kesal menunggu kapal, saya iseng-iseng membeli sebuah buku yang dijual di sana. Judulnya sangat menarik dan provokatif: Tuhan Tak Perlu dibela. Sejak semula, saya memang menyukai sesuatu yang yang berbau kontroversial, sehingga tanpa ragu saya memilih buku itu untuk dibeli, selain memang sempat membaca resensinya di sebuah majalah.

Pada saat itu, Gus Dur sedang menjadi berita, karena baru saja terpilih sebagai Presiden RI menggantikan Habibie. Sikap dan sepak terjangnya yang nyleneh, banyak diulas media. Dari yang memuji, sampai mencaci maki. Dan julukan beliau sebagai Guru Bangsa, banyak membuat orang muda seperti saya terheran-heran. Mengapa orang aneh ini mendapat julukan sedemikian terhormat? Apa yang sudah beliau perbuat sehingga sebagian orang memujanya begitu rupa?

Dan pertanyaan itu terjawab setelah saya membaca buku itu. Ajaib, karena hampir semua pandangan saya tentang sosial keagamaan dan keindonesiaan, yang selama ini mendekam di kepala, ternyata diterangkan Gus Dur dengan lancar, lugas dan enak dibaca. Gagasannya tentang pribumisasi Islam, sangat mengena pada saya yang sedang jengkel terhadap perilaku beberapa teman yang berubah ber-ana antum ria semenjak mereka menjadi aktivis kampus. Sikap toleransinya yang begitu tinggi --bahkan kadang berlebihan-- terhadap kaum minoritas dan beda agama, sejalan dengan saya yang selalu merasakan empati yang besar terhadap mereka-mereka yang ditindas dan diasingkan. Ketidaksukaannya terhadap segala bentuk formalisme, termasuk formalisme agama, juga selalu saya rasakan. Pandangannya yang jernih dan adil dalam menilai suatu permasalahan --pada zamannya-- begitu mengagumkan. Pendeknya, sejak saat itu saya jatuh cinta pada buku itu, dan tentu saja pada sosok Gus Dur. Sampai sekarang, Tuhan Tak Perlu dibela, menjadi buku wajib saya yang selalu saya baca di kala ada kesempatan.

Sejak saat itu saya pun menjadi seorang, kata beberapa teman, ABG atau Anak Buah Gus Dur. Semua tulisan Gus Dur dan tentang beliau, saya buru --saya baca. Selalu menarik. Dan bisa ditebak, apa yang terjadi pada Gus Dur, terjadi juga pada saya. Saya hampir selalu menjadi antitesis. Saya jadi kerap terlibat perdebatan sengit, dengan beberapa teman yang umumnya sangat kontra. Saya ingat, ketika menjelang impeachment terhadap Gus Dur oleh MPR, saya adalah satu-satunya dari seratus orang penghuni asrama yang tetap membela.

Setelah Gus Dur turun dari presiden, beliau pernah membuat buku juga. Tapi sayang, kualitasnya jauh berbeda. Ide-ide segar dan enak dibaca tak bisa lagi kita dapati. Yang ada adalah tulisan-tulisan membosankan dan penuh apologi. Rupanya Gus Dur memang telah berubah. Tetapi itu tak mengurangi hormat saya pada beliau.

Tentu saja, pandangan saya ini bertabrakan langsung teman PKS tadi. Dan ini kerap menjadi sumber perdebatan antara kami berdua. Tak jarang kami terlibat dalam diskusi yang cukup rame. Tapi jangan salah sangka. Kami tidak melakukan itu dengan otot-ototan. Semua perdebatan itu kami lakukan dengan tertawa riang, --meski tidak jarang pake hati juga ding!

Dan jawaban tadi saya sambung dengan sebuah pernyataan sedikit menantang. "Orang-orang yang bisa memahami Gus Dur hanyalah orang yang memiliki intleketual tinggi, yang bisa memikirkan agama dengan dewasa", serang saya sambil ketawa.

Teman satu ini tentu tak puas. "Dia itu pengacau tau? Dia sering bikin bingung umat dengan omongan-omongannya yang ngawur", serangnya sengit. "Justru dengan begitu, Gus Dur mendidik umat muslim untuk selalu bersikap cerdas dalam memandang persoalan", jawab saya tak kalah seru.

Dia menyiapkan serangan susulan. "Muslim macam apa yang selalu lebih membela orang non muslim ketimbang teman-teman seagamanya? Kau tahu apa yang dia katakan tentang Ahmadiyah? Masa dia mengatakan kalo Ahmadiyah, yang jelas sesat, harus dibela? Kiayi seperti apa itu?". Dia memang menggebu-gebu. Saya katakan, seharusnya kita berbangga apabila ada seorang muslim ternyata banyak dipuja oleh mereka yang lain agama. Bukankah itu memberi gambaran yang positif tentang seorang muslim. Bahwa Gus Dur terkadang keras terhadap muslim lain, saya ibaratkan seperti seorang bapak yang menjewer anaknya yang nakal untuk mendidik. "Cuma si anak, kadang terlalu manja", kata saya. Gus Dur memang selalu memposisikan sebagai pembela bagi mereka yang tertindas, termasuk kaum Ahmadiyah. Saya katakan, persoalan sesat dan tidak sesat biarlah milik Allah. Yang jelas, adalah tidak dibenarkan kita melakukan kekerasan pada yang lemah, bahkan atas nama agama pun. Dan bila ada yang melakukannya, itu harus dikecam, muslim atau bukan.

Dia masih ingin melanjutkan perdebatan. Tapi, tiba-tiba... "Awas!". Sebuah sepeda motor melintas cepat, nyelonong di depan mobil yang sedang kami kendarai.

Minggu, Oktober 09, 2005

Seven Days In Thailand (Last)

Kembali ke Bangkok

Hari Kamis, kami kembali ke Bangkok. Belum berencana pulang, karena kami masih memiliki agenda untuk berkunjung ke beberapa tempat lagi. Selama perjalanan di bis, perasaan sentimentil saya muncul. Mungkin akibat lagu-lagu boysband yang distel keras-keras di bis.

Menjelang siang kami sampai di Bangkok, dan ditempatkan pada sebuah hotel kecil di district Ram Kam Haeng. Namanya Dynasty Hotel. Kami pun dipersilahkan untuk beristirahat sampai setelah lohor di hotel. Mulai saat itu kami dipandu oleh guide baru yang sengaja disewa panitia dari sebuah biro perjalanan wisata. Ada tiga guide, yang dua orang Indonesia dan yang satu guide lokal. Guide Indonesia yang satu bernama Lili. Seorang wanita paruh baya berbadan bulat dengan selera humor yang kasar. Seorang lagi bernama Lukman. Masih muda. Dia bertugas mengurus membantu Lili mengurus-ngurus adminstrasi. Yang ketiga adalah seorang guide lokal. Namanya Citra. Dia seorang muslim Thailand yang sewaktu mahasiswa pernah tinggal beberapa tahun di Jakarta sehingga bahasa Indonesianya sangat fasih. Rambutnya kriting gondrong, dengan kumis tak terurus. Sekilas penampilannya seperti preman, tetapi rupanya dia cukup pandai bercerita.

Kami tak sempat berisitirahat lama, karena siang itu kami diagendakan untuk mengunjungi Wath Arun, sebuah situs sejarah kerajaan Thailand yang terletak di pinggiran kota Bangkok. Untuk sampai ke sana, kami membutuhkan hampir 2 jam perjalanan. Bangkok ternyata memiliki penyakit yang hampir sama dengan kota-kota besar lainnya: Macet. Untungnya, Pak Cit (si Guide lokal), bercerita sepanjang perjalanan.

Bangkok, Kota yang Besar

Bangkok adalah sebuah kota yang sangat besar. Luasnya konon hampir 3 kali Jakarta (bila tidak menggunakan konsep megapolitan). Penduduknya 8 juta dan sekitar 1,5 juta diantaranya adalah orang asing. Mereka datang dari negara-negara sekitar Thailand seperti Myanmar, Kamboja, Laos dan Vietnam, untuk mengadu nasib di Bangkok. Diantara mereka orang Myanmar-lah yang paling banyak, dan mereka terkenal kasar. Kata Pak Cit, ini disebabkan kehidupan mereka yang sulit di negerinya.

Mayoritas orang Thai, beragama Buddha Hinayana. Orang Islam ada juga, terutama mereka berasal dari provinsi-provinsi di daerah selatan, yaitu yang terpengaruh budaya melayu. Konon, dari 70 lebih provinsi kota di Thailand, sekitar 15 dari mereka sangat berbau melayu, karena pernah dijajah oleh Sriwijaya. Di Bangkok, banyak juga kompleks-kompleks pemukiman muslim. Selama di di sana kami membeli makan di kompleks-kompleks tersebut.

Perkembangan ekonomi Thailand sangat mengagumkan. Kami tak tahu angka pastinya, tetapi apa yang kami lihat di Bangkok sangat menggambarkan itu. Infrastruktur jalan dibangun dengan lebar dan bertingkat-tingkat. Gedung-gedung menjulang tinggi diseling taman-taman kota yang menghijau. Kendaraan-kendaraan tahun terbaru lalu lalang (saya bayangkan di sini, Jimny Katana-ku mungkin udah jari barang rongsokan). Kemacetan memang menjadi permasalahan utama. Untuk itu, pemerintah kini sedang mengembangkan subway MRT selain juga skytrain. Ciri-ciri negara maju sudah tampak di Bangkok.

Kota Yang Bersih

Bangkok juga sangat bersih. Menurut Pak Cit, Bangkok terbebas dari permasalahan sampah dan banjir mulai sekitar 15 tahun yang lalu. Ini mengagumkan, karena dulu, keadaannya sampir serupa, bahkan mungkin lebih parah, dari Jakarta. Ketika kami tanyakan bagaimana caranya, Pak Cit menjawab: mudah. Hal yang harus dilakukan pertama-tama adalah membersihkan saluran-saluran air dari sampah, katanya. Untuk ini, Pemerintah Kota memiliki kiat tersendiri. Mereka mengerahkan para narapidana untuk melakukan hal tersebut untuk menghemat angaran. Para napi yang berkelakuan baik, ditugaskan untuk membersihkan kota Bangkok dengan imbalan berbagai fasilitas, dari pengurangan hukuman sampai diizinkan untuk berkumpul dengan istri mereka beberapa hari dalam sebulan. "Baru setelah hampir 2 tahun, Bangkok terbebas sama sekali dari sampah", kata Pak Cit.

Setelah itu dilakukan manajemen sampah, yaitu pemisahan sampah menurut jenisnya. Ini dilakukan sampai pada tingkat rumah tangga. Untuk mengkampanyekan ini, dilakukan pendekatan melalui anak-anak TK. "Orang tua akan malu apabila diajari oleh anak TK," lanjut Pak Cit. Sampah-sampah tersebut kemudian diolah. Yang memungkinkan dilakukan daur-ulang, sedang yang organik diolah menjadi kompos. Sehingga sampah, di Thailand, bukan menjadi barang yang menjijikan, tetapi menjadi sumber pendapatan dan lapangan kerja. Kami hanya mengangguk-angguk.

Bensin 6000 rupiah seliter

Yang mengagumkan juga adalah soal BBM. Thailand adalah pengimpor seratus persen minyak, sehingga komoditi itu dilepas pada mekanisme pasar. Harga bensin di Bangkok saat itu adalah sekitar 6000 rupiah. Dengan melambungnya harga minyak dunia, kemungkinan harganya bisa mencapai 8000 - 10.000. Taksi-taksi di banyak yang menggunakan bahan bajar LPG, karena lebih murah.

Tetapi pemerintah memberikan kompensasi yang adil dan mendidik. Biaya kesehatan sangat-sangat murah. Untuk berobat, penyakit apapun dan berapa lamapun, mereka hanya dikenai biaya 30 Baht (sekitar 7500 rupiah). Pendidikan sampai SMA juga ditanggung oleh Pemerintah. Hal tersebut menyebabkan persoalan BBM tidak menjadi sesuatu yang terlalu sensitif seperti di Indonesia. Saya jadi berfikir, jika sebelumnya hal yang sama diterapkan di Indonesia, barangkali juga menjadi positif. Yaitu munculnya generasi muda yang sehat dan berpendidikan, tetap hemat. Bukannya generasi boros dan konsumtif, tetapi otaknya dodol!

Raja yang dicintai Rakyat

Ada satu lagi kelebihan Thailand, yaitu mereka memiliki pemimpin terakhir yang sangat disegani: Raja. Raja Bhumibol barangkali adalah satu-satunya raja di Dunia yang kharisma dan wibawa di rakyatnya masih sangat tinggi. Dimana-mana, di setiap sudut kota, fotonya dan atau foto Ratu, dipajang. Ini membuktikan kecintaan dan penghargaan rakyat yang tinggi pada raja. Suatu hal yang mengagumkan di era modern.

Kecintaan tersebut disebabkan oleh perilaku raja yang memang patut diacungi jempol. Beliau adalah sosok yang rendah hati dan bijaksana. Raja Bumibhol memang pandai menempatkan diri. Sebagai seorang raja di era modern, dia tidak lagi bisa berbuat sesukanya. Tetapi harus pandai-pandai mengambil hati rakyat, agar kehdirannya sebagai seorang pemimpin memang berarti di rakyatnya. Hartanya konon habis digunakan untuk membiayai pembangunan proyek-proyek kepentingan publik. "Rakyat Thailand bukan takut pada raja, tetapi malu," kata Pak Cit. Ditambahkannya, bahwa Thailand sering mengalami ketegangan politik, tetapi tidak pernah pecah menjadi chaos, karena mereka memiliki pempimpin terakhir yang dipatuhi oleh semua pihak. Ketika raja sudah memutuskan, maka semua pihak akan menerima dengan lapang dada. Pernah suatu kali Thailand berkonflik dengan negara tetanga, sehingga sudah hampir menyiapkan angkatan perang. Melihat kondisi yang sudah sedemikian gawat, Raja pun turun tangan. Dengan sebuah perkataan, rakyat kembali tenang. "Cuma, beliau tidak pernah sembarang ngomong. Dia bicara ketika suasana sudah gawat," kata Pak Cit. Hal tersebut memang harus dilakukan untuk menjaga kewibawaan.

Wath Arun

Image hosted by Photobucket.comWath arun adalah sebuah candi, mungkin sebandng dengan Borobudur di kita. Terletak di tepi sebuah sungai (saya lupa namanya), menjadikan Wath Arun terlihat eksotis. Konon dulunya ini adalah pusat pemerintahan kerajaan Thailand sebelum pindah ke Bangkok pada abad XVIII, akibat seringnya diserang oleh bangsa Myanmar. Bangsa Myanmar di masa lalu memang sangat ingin menguasai Thailand yang subur, karena di negerinya yang dataran tinggi tidak baik untuk bercocok tanam. "Di masa lalu kami hampir 400 kali berperang dengan bangsa Myamnar," kata pak Cit.

Karena keindahannya Wath Arun menjadi salah satu objek wisata wajib di Bangkok. Turis Indonesia juga banyak yang sering ke sini. Tetapi, tambahnya, umumnya tujuan mereka lain. Bukannya melihat keindahan candi, tetapi untuk belanja di pasar murah pinggir kompleks candi. Dan terbukti, kami memang akhirnya tak sempat masuk, karena waktu habis untuk berbelanja.

Pulangnya kami mengunjungi sebuah toko penjualan permata. Thailand, konon, memang terkenal dengan kerajinan permatanya. Di sana kami dapat melihat berbagai batu mulia seperti diamond, shapir, giok dan lain-lain. Beberapa orang berbelanja di sana, tetapi tidak banyak. Kemarin, sebelum ke Bangkok, kami sempat juga diajak ke toko serupa oleh Lex, sehingga banyak diantara kami yang sudah membeli. Saya sendiri tak terlalu tertarik. Saya pikir, saya belum membutuhkannya. Hari itu kegiatan hanya sampai di situ. Kami kemudian pulang menuju hotel. Saya sudah mulai lelah.

Ke Pusat Penelitian Pertanian Organik

Jumat, kami diagendakan untuk mengunjungi sebuah pusat penelitian dan pengembangan pertanian terpadu organik di sebuah provinsi yang tidak bisa saya ingat namanya. Letaknya cukup jauh dari Bangkok, sekitar 3 jam. Tak banyak yang kami dapat di sana, selain keterpaduan antara peternakan (sebagai sumber pupuk kandang), pertanian, dan perikanan. Saya cukup tertarik dengan pemeliharaan ikan secara organik, yang tidak membutuhkan lahan yang luas. Selain dari itu, pengelolaannya tak beda jauh dengan di Indonesia.

Pulang dari sana, kami sempat mampir di sebuah pasar buah --salah satu dari 4 pasar buah terbesar di Bangkok. Sayangnya hujan turun sangat deras, menghalangi kita untuk turun. Akhirnya perjalanan diteruskan ke showroom sutra milik keluarga Shinawatra. Rupanya, sang Perdana Menteri adalah pengusaha sutera juga. Kata Dadung, "Alus keneh nu urang di Pangalengan". Setelah itu, sempat pula singgah di sebuah pusat penjualan kulit. Tetapi tak terlalu menarik.

Malamnya adalah malam terakhir kami bisa bejalan-jalan di Bangkok, karena besok kami harus pulang ke Jakarta. Maka saya menyempatkan diri untuk jalan-jalan di sekitar hotel, melihat-lihat para pedagang kaki lima yang banyak mangkal di sana. Bangkok, ternyata sangat aman. Tak ada preman atau orang mabuk berkeliaran di jalanan. Bahkan lokasi pedagang kaki lima pun sangat bersih, tidak kumuh. Sesekali saya mampir pura-pura mau beli bila melihat pedagangnya cantik.

Tersesat di Chatuchak

Esoknya, guide mengajak kami mengunjungi penangkaran ular. Ada bermacam-macam ular di sana, dan tentunya yang paling terkenal adalah King Cobra. Ada sedikit atraksi disana, namun ujung-ujungnya kami ditawarin berbagai obat dari ular. Rombongan, yang kebanyakan uangnya sudah habis, malah pada kabur.

Lepas dari sana, kami dibebaskan menetukan tujuan. Beberapa orang memilih Chatuchak, sebuah pasar tradisional terbesar di Bangkok. Sebenarnya pilihan ini sempat menimbulkan polemik di antara rombongan. Entah mengapa, guide kami sepertinya sangat keberatan dengan tujuan ini. Mereka menakut-nakuti bahwa keamanan di sana tak terjamin karena banyak copetnya. Tentu saja sebagian rombongan menjadi takut. Tetapi sebagian lain tetap ngotot. Malam sebelum berangkat, kebetulan Lex datang ke Hotel, dan kami menayakan hal tersebut kepadanya. Lex mengatakan, "Copet itu ada di mana-mana, di negara anda maupun di negara kami. Tinggal bagaimana kewaspadaan kita. Pegang dompet anda erat-erat, sehingga tak ada seorang pun yang bisa mengambilnya dari anda. Jangan khawatir, saya setiap minggu ke sana, dan tak pernah ada masalah". Maka akhirnya kami pun sepakat ke Chatuchak.

Chatuchak adalah sebuah pasar yang besar. Mungkin sebanding dengan Tanah Abang di Jakarta. Di sini dijual apa saja, termasuk cendera mata. Makanya banyak juga turis-turis yang berkunjung. Kami diberi waktu 2 jam di pasar itu. Semula, saya bertiga dengan Dadung dan Saepudin. Tadinya bermaksud membeli oleh-oleh yang dirasa belum cukup. Karena keasyikan, saya masuk terlalu dalam dan terpisah dari rombongan. Terpikir pulangnya akan mudah, dengan menelusuri jalan ketika masuk. Tetapi celaka, ketika mencari jalan pulang, saya tersesat. Mencoba bertanya, tetapi tak banyak yang mengerti bahasa Inggris di sana. Saya mulai panik karena sudah lewat dari waktu yang diberikan oleh guide. Untung sempat ngirim sms terakhir ke Dadung --Urang nyasar, dagoan tong ditinggalkeun! Hampir saya menyerah. Untungnya ada seorang polantas yang mengerti apa yang saya katakan. Dia lantas membantu menstopkan sebuah taksi.

Tiba di bus, semua orang mengomel, "Dari mana aja kamu?". Saya hanya nyengir.

Tujuan terakhir adalah Ma Bung Krong (MBK). Sebuah pusat perbelanjaan modern di Bangkok, mungkin sekelas Blok M. Karena tak ingin tersesat lagi, saya tak masuk terlalu jauh. Tetapi sempat membeli sebuah baju khas Thailand seperti yang sering dipake Lex, dengan Baht yang tersisa.

Pulang

Image hosted by Photobucket.com Setelah sempat naik MRT, pukul 5 sore kami menuju Dong Muang. Saya mulai kembali dicekam perasaan takut terbang. Beberapa orang ternyata membawa banyak sekali oleh-oleh. Pak Rudi bahkan membawa berdus-dus. Ketika saya tanyakan isinya, ternyata adalah anggrek. "Untuk dijual di Indonesia," katanya. Pak Rudi memang petani anggrek.

Kami take off tepat pukul delapan malam. Bersama dengan rombongan kami ada juga rombongan TKI yang mudik dari Dubai. Mereka masih muda dan nampak polos. Yang menyedihkan saya adalah kebanyakan mereka orang Sunda. Umumnya dari Cianjur dan Indramayu. Seorang duduk disamping Saepudin. Dia seorang janda satu anak dari Indramayu. Menjadi TKI adalah pilihan terbaik, katanya. Karena pilihan yang tersisa cuma jadi PSK!

Saya semakin sedih, ketika mengingat betapa kerja keras dan pengorbanan mereka sering menjadi lahan pemerasan oleh oknum-oknum bangsa kita juga. Oleh oknum Depnaker, PJTKI, bahkan para sopir dan calo. Saya sedih, betapa bangsa kita dengan mudah kehilangan hati, hanya karena kesulitan hidup yang mendera.

Pukul 24.00 kami sampai kembali di Jakarta.

Kamis, September 29, 2005

Seven Days In Thailand (Part III)

Nong Nooch Tropical Garden

Ini hari ketiga, dan merupakan hari terakhir kami di konferensi. Nanti malam acara akan ditutup secara resmi. Dan agenda kami hari ini adalah mengunjungi --menurut Lex-- tempat terindah di Thailand: Nong Nooch Tropical Garden.

Nong Nooch adalah semacam taman bunga. Terletak di Provinsi Chonburi, sekitar satu senegah jam dari hotel tempat kami menginap. Suasana agak gerimis ketika kami tiba di sana. Untungnya tidak lama, kembali cerah.

Image hosted by Photobucket.com Dan Nong Nooch memang indah. Taman-taman ditata sedemikian rupa, mengkombinasikan bunga-bunga yang dibentuk menyerupai berbagai mahluk (terutama gajah), dengan batu-batu besar dan licin, membuat kami berdecak kagum. Saya yakin biaya perawatannya tentu sangat mahal. Ada juga susunan batu semacam batu jam di Inggris yang terkenal itu. Di tengah perjalanan kami berhenti, untuk memberi kesempatan pengunjung berfoto-foto.

Pusat Nong Noch adalah sebuah gedung pertunjukan. Di sekelilingnya banyak juga gerai-gerai yang menjual cendera mata. Kami diarahkan untuk langsung masuk ke gedung pertunjukan. Gedung itu tidak terlalu mewah, tetapi cukup artistik. Menampung sekitar 300 penonton yang dibikin setengah melingkar dan bertingkat-tingkat. Semuanya memusat ke sebuah panggung yang terdiri dari dua tingkat.

Image hosted by Photobucket.comPertunjukan dimulai dengan tari-tarian di panggung atas. Belasan gadis (atau bencong?), menari-nari diiringi musik terdisional Thai. Alat-alat musiknya nampak aneh bentuknya. Pada beberapa adegan, tarian dan musiknya tersebut mirip dengan tampilan pada saat pembukaan konferensi.

Kemudian dilanjutkan dengan atraksi kickboxing dengan ikat kepala khas yang dipake para pemainnya. Namun dilakukan dengan skenario yang dibuat sedikit lucu. Seperti ketika salah seorang kickboxer memukul wasit dan beberapa adegan lain. Ada juga atraksi simulasi pertarungan beladiri tradisional dengan menggunakan senjata. Puncak pertunjukan adalah sendratari yang mengisahkan peperangan kerajaan-kerajaan jaman dulu, yang melibatkan gajah-gajah besar dan kecil. Cukup menghibur. Thailand pemang pandai mengemas sisi-sisi etniknya menjadi sebuah pertunjukan yang bernilai komersial.

Image hosted by Photobucket.comObyek di Nong Nooch tidak berhenti sampai itu. Kami lantas di"giring" ke belakang gedung, untuk memasuki arena pertunjukan gajah. Tak salah bila Thailand disebut negeri gajah putih. Gajah, di negeri ini, adalah binatang istimewa yang memiliki ikatan hubungan yang erat dengan penduduknya. Dimana-mana kita dapat dengan mudah melihat gajah. Bahkan di jalan-jalan kota Bangkok, kadang kami lihat merka berjalan-jalan santai, tentu saja diiringi sang pawang. Dan di sini kami diajak untuk melihat berbagai atraksi yang dilakukan oleh gajah-gajah yang sudah terlatih. Ada pertunjukan main bola, main basket, menari holahop, naik sepeda bahkan melukis. Konon pertunjukan gajah di Way Kambas pun mencontoh atraksi di sini.

Dipeluk Bencong

Puas melihat gajah, kami berjalan-jalan sekitar gedung. Ada juga jasa foto dengan ular, monyet dan macan. Kita cukup mebayar 50 Baht. Saya tidak tertarik. Tetapi ketika melewati sebuah jasa foto dengan seorang gadis cantik berpakaian ala ratu dengan latar belakang istana-istanaan, saya kepingin mencoba. Setelah berkonsultasi dengan Erwin, saya membeli 2 tiket. Tentu saja untuk kami berdua.

Image hosted by Photobucket.comErwin mendapat giliran pertama. Dia duduk disamping sang "ratu", yang memeluknya manja. Beres. Tiba giliran saya. Saya mendekat ke samping sang ratu, dan duduk sedikit menempel. Tetapi tiba-tiba dengan agresif, si cantik merapat. Memeluk erat. Jauh lebih erat dari pada pelukan ke Erwin. Detik itu saya baru sadar, ternyata dia adalah seorang boygirl (bencong). Tangannya mecoba meraba lebih jauh, tapi saya tahan dengan tangan sambil berbisik, "No.. no". Beres satu jepretan kamera, si cantik rupanya belum puas, "Once more," katanya. Saya jadi keder. Erwin yang memegang kamera tertawa. Dia kembali mengambil gambar. Sesaat setelah itu, saya langsung manghambur. Meski si cantik memanggil-manggil dengan suara tertahan, "Money..money", tetapi saya tak peduli. Saya kabur secepat-sepatnya.

Lepas dari "cengkraman" bencong kami tertawa terbahak. Apalagi ketika diceritakan kepada teman lain. "Dia tahu kalo kamu masih bujangan," seloroh Pak Camat. Setelah berfoto-foto di taman, kami kemudian menuju bis yang akan membawa kami pulang ke Pattaya. Peristiwa "benconggate" juga dibahas sepanjang perjalanan.

Gadis-gadis IFYE

Meski bertemakan pemuda, tetapi peserta konferensi tidak semuanya orang muda. Dari India bahkan aki-aki dan nini-nini. Delegasi Korea rata-rata berusia paruh baya. Begitu pula dengan Taiwan dan Thailand, meski umumnya relatif lebih muda-muda. Tetapi karena wajah-wajah mereka agak susah dibedakan, saya tak terlalu dapat mengingat mereka. Yang agak mencolok barangkali adalah peserta (lagi-lagi) Philipina. Mungkin karena wajah mereka relatif mirip dengan wajah Indonesia Kebanyakan mereka masih berusia muda, mungkin di bawah 30 tahunan. Indonesia sendiri relatif seimbang antara jumlah yang muda dan yang tua. Tetapi yang paling muda, dan single, barangkali cuma saya. Eh nggak ding, ada dua orang lagi. Yang satu orang laki-laki, cucunya seorang panitia senior IFYE. Dia nampaknya cuma ikut piknik saja. Yang satu lagi seorang gadis. Tetapi dia terlalu pendiam.

Dan berbicara tentang gadis, ada juga beberapa gadis yang sempat menarik perhatian saya di konferensi. Pertama adalah seorang Korea, namanya Lee Da Hi. Dia seorang gadis yang ramah, riang dan cepat akrab. Usianya masih 25. Saya mengenalnya ketika tiba-tiba dia nyelonong ikut berfoto pada saat saya berpose di depan sebuah kuil kecil di perkebunan Perawat. Kami lebih menjadi akrab ketika upacara penutupan, karena kebetulan berdiri berdampingan. Tetapi bahasa Ingrisnya payah juga. Pelafalannya susah dimengerti. Dia rupanya sedang mengikuti program farm stay di Thailand.

Image hosted by Photobucket.comAda juga Shahara. Seorang gadis muslim yang cantik dan putih --cuma agak gemuk-- dari Philiphina. Bagi peserta Indonesia dia dapat dibilang yang paling mendapat perhatian selama IFYE. Wajah cantiknya menjadi pavorit untuk dijadikan teman berpose. Dia memang ramah dan baik hati. Tidak pernah menolak ketika diajak berfoto. Saya sendiri sempat tiga kali diambil gambar berdua bersama dia. Dua kali di Nong Nooch dan satu saat malam penutupan.

Tetapi sebenarnya saya lebih tertarik pada gadis Philipina yang satunya. Dia agak pendiam dan nampaknya cukup pemalu. Saya melihatnya pertama kali ketika Group Discussion. Kami satu group. Dan jujur saja, selama diskusi, mungkin saya lebih banyak memperhatikan wajah manisnya (pada saat itu dia berkaca mata) dari pada moderator. He he. Wajahnya tidak terlalu istimewa, tetapi memang menarik. Buktinya Pak Rudi dan beberapa peserta lain, di hari pertama itu, sudah antri minta kartu namanya. Sikap pendiamnya membikin saya penasaran. Tetapi, seperti biasa, saya tak langsung agresif. Saya menunggu waktu yang tepat untuk berkenalan, dan tentu saja dengan target berfoto bersama.

Dan seperti biasa juga, waktu yang tepat bagi saya adalah selalu saat-saat terakhir. Kesempatan itu datang pada saat malam penutupan.

Malam itu saya memakai batik. Sudah siap dengan kamera digital pinjaman dari Pak Adm. Handycame saya titipkan ke Haji Fathoni. Sejak mengantri makan, mata saya sudah berkeliling mencari si pendiam. Tetapi tak juga ketemu. Sementara di panggung diadakan pertunjukan musik kecapi tradisional Thai. Sampai selesai makan pun, saya belum melihatnya. Saya mulai khawatir. Tetapi syukurlah, beberapa saat kemudian dia muncul. Ternyata dia duduk dengan sekelompok Philipina lain tidak jauh dari tempat meja kami. Saya kemudian menunggu momen.

Dan momen itu tiba sesaat setelah itu. Karena sadar malam itu adalah malam terakhir, para peserta memanfaatkannya untuk berfoto-foto dengan delegasi lain dan saling bertukar kartu nama. Mula-mula serombongan Philiphina dengan heboh berkeliling dari meja ke meja untuk berfoto yang kemudian diikuti oleh peserta lain. Saya mengajak Erwin dan Haji Karno untuk melakukan hal serupa. Mereka setuju. Kami bertiga berkeliling untuk mengajak berfoto bersama. Mula-mula dengan petinggi IFYE, kemudian Korea, Australia, India, Taiwan, Thailand dan Philipina. Saya lihat si pendiam juga sedang berkeliling dengan rombongannya. Sempat beberapa kali kami berfoto rame-rame. Tetapi target berkenalan dan foto berdua belum kesampaian.

Image hosted by Photobucket.comSampai akhirnya di suatu saat kami berdekatan langsung. Saya sapa dia dengan sedikit nekad, "Hello, can I take your picture?" kata saya. Dia terkejut dan salah tingkah. Tetapi dia menangguk. Mukanya manisnya memerah ketika teman-temannya menggodanya. "Smile... Look at her face!" teriak teman-temannya ketika kami berpose berdua. Dan haji Karno kemudian menunaikan tugasnya dengan baik. "I,ll send the picture by e-mail," bisik saya setelah itu. "Can I get your name card?" susul saya kemudian. Masih dengan kikuk, dia mencari-cari kartu nama di tas hitamnya dan menyerahkannya sesaat setelah ketemu. "Thank you, and this is mine," balas saya sambil menyerahkan kartu Patuha Resort saya. Setelah itu, saya pamit dan kembali ke meja dengan langkah gagah sambil tangan mengepal: Yes.. yes. Erwin cemberut. Sekilas kartu nama itu saya baca. Namanya Abigail. Si pendiam itu ternyata seorang perawat. Di kartu itu juga terdapat nomor hp dan alamat e mailnya.

(Beberapa hari setelah sampai di Indonesia, sebagaimana janji pada si pendiam, foto itu saya kirim lewat e-mail. Sayangnya tak ada jawaban. Saya coba cari namanya di frienster, juga tak terdaftar. Yang ada malah Shahara dan Hashim. Keduanya saya invite dan membalas beberapa hari kemudian. Saya hampir melupakannya. Tetapi pada minggu kedua, saya mendapat kejutan. Abigail menginvite saya di frienster. Rupanya dia menggunakan alamat e-mail lain. Sayangnya di frienster fotonya kok jelek banget ya, he he.)

Upacara Penutupan

Akhirnya tiba upacara penutupan. Kami berbaris per negara. Kemudian kami diminta menghadap ke arah lain, dan berpegangan tangan dengan teman sebelahnya sehingga tidak ada peserta senegara yang berdampingan langsung, dan masuk ke ruangan sebelah. Di pintu masuk masing-masing diberi satu buah lilin. Kami berdiri melingkar di sekeliling ruangan. Tiba-tiba lampu dipadamkan, sehingga keadaan menjadi gelap gulita.

Image hosted by Photobucket.comSeseorang kemudian mengucapkan kata-kata perpisahan dalam bahasa Inggris yang diiringi juga anjuran untuk lebih saling mengikat persahabatan diantara negara IFYE. Lilin pun dinyalakan. Pertama-tama oleh Mr. Lu, presiden IFYE. Kemudian ditularkan ke yang lain dengan cara menyulut lilin di pada teman sebelahnya, sampai semua menyala. Ini konon melambangkan proses terjadinya saling tukar pengetahuan dan keterampilan diantara anggota IFYE. Suasana cukup hidmat juga. Kami pun dipandu bernyayi, sebuah lagu perpisahan bahsa inggris yang cukup terkenal (saya tak tahu judulnya). Setelah beberapa saat, lilin Mr. Lu kembali dpadamkan, yang diikuti oleh yang lain hingga habis. Baru lampu kembali dinyalakan. Acara penutupan diakhir dengan saling bersalam-salaman, persis lebaran. Ketika bersalaman dengan si Pendiam, saya kembali berbisik, "I,ll send the picture soon" .

(to be continued)

Minggu, September 18, 2005

Seven Days In Thailand (Part I)

: Sebuah catatan perjalanan

Kunjungan tujuh hari di Thailand memberikanku banyak pengalaman baru. Ada yang lucu dan menyenangkan. Ada yang mengesankan, tetapi ada yang pula aneh bahkan mengerikan. Ini adalah catatanku selama perjalanan, sekaligus oleh-oleh bagi yang tidak kebagian kaos dan gantungan kunci :-).

Tentang IFYE

Oya, sebelum saya menceritakan perjalanan, penting dijelaskan maksud kedatangan saya ke Thailand. Menurut informasi awal, saya bertugas untuk mendampingi KTHA (Kontak Tani Hutan Andalan), yaitu semacam asosiasi para petani hutan di Jawa Barat, untuk mengikuti Konferensi Pertukaran Pemuda Tani se Asia Pacfic. Atau dalam bahasa aslinya adalah The Sixth ASPAC IFYE Conference. Sejujurnya, sampai saat keberangkatan saya belum jelas benar dengan apa yang akan saya hadapi dan lakukan di sana. Bahkan tentang IFYE pun saya baru mendengarnya. Pada saat konferensi saya baru tahu bahwa, ternyata ini adalah ajang komunikasi para pemuda tani yang telah mengikuti program pertukaran di antara negara-negara Asia Pasifik, dan juga pihak-pihak yang memiliki kepedulian dan perhatian terhadap pengenalan pertanian pada kaum muda.

IFYE sendiri terbentuk pada tahun 1948, ketika beberapa pemuda Amerika pergi belajar ke negara-negara Eropa dan sebaliknya. Mereka yang dikirim adalah umumnya yang tergabung kelompok belajar yang dinamakan klub 4 H (4–H Club-Head, Heart, Hands and Heath). Ketika melihat rekaman kegiatan klub-klub tersebut, saya teringat kepada gerakan Pramuka di Indonesia, hanya saja perhatiannya lebih ditujukan kepada pertanian dan alam. Dan program pertukaran pemuda tersebut dinamakan International Farm Youth Exchange. Program tersebut kemudian menyebar ke seluruh dunia termasuk Asia. Klub-klub 4-H berkembang di beberapa negara seperti Korea, Taiwan, Philipina dan Thailand. Di negara-negara tersebut, klub 4H didukung penuh oleh pemerintahnya, sebagai salah satu elemen penting dalam pembangunan pertanian nasional. Setiap dua tahunan, IFYE Asia Pasific mengadakan konfrensi, dan yang ini adalah yang keenam. Konfrensi ke lima diadakan di Jakarta tahun 1996, jadi sempat pula terjadi kekosongan sekitar 9 tahun yang disebabkan krisis ekonomi.

Di Indonesia sendiri klub 4H tidak dikenal. Maka yang menjadi utusan adalah para Pemuda Tani yang tergabung dalam KTNA. Dan pada tahun ini pula, KTHA (yang baru terbentuk) mulai diikutkan. Program pertukaran petani yang banyak dilakukan Indonesia adalah dengan Jepang. Namun, yang menjadi peserta konferensi kali ini ternyata bukan yang berasal dari alumnus program pertukaran tersebut. Hal ini cukup menjadi masalah juga pada konfrensi, karena kebanyakan adalah muka-muka baru yang belum mengenal IFYE dan kegiatan-kegiatannya, tidak saling mengenal satu dengan lainnya, bahkan jarang diantara mereka yang bisa berbahasa inggris.

Perjalanan

Sebelum berangkat, kami berkumpul di Wisma milik Departemen Pertanian. Jumlah delegasi Indonesia adalah 34 orang (1 orang menyusul dua hari kemudian). Terdiri dari utusan berbagai provinsi. Umumnya mereka adalah petani yang tergabung dalam KTNA, sebagian lain pengusaha agribisnis, pagawai pemerintah yang mengurus Pertanian, bahkan ada pula Camat dan Lurah. Saya sendiri, berdua dengan Erwin, bertugas mendampingi tiga orang petani hutan (Dadung, Saepudin dan Haji Fathoni).

Kami terbang ke Bangkok pada Minggu (4/9) dini hari, dengan menumpang Airbusnya Emirate tujuan Dubai. Dan ini adalah pengalaman terbang pertamaku. Sungguh mengerikan. Apalagi sebelumnya banyak dibekali dengan cerita-cerita seram penerbangan. Juga berita kecelakaan heli beberapa hari sebelumnya di Palembang. "Untungnya", berita Mandala sampai ketika saya sudah di Pattaya, bila tidak, mungkin saya akan membutuhkan sepuluh butir antimo untuk memaksaku tidur sepanjang jalan.

Emirates adalah maskapai UAE, oleh karenanya sangat berbau arab. Banyak orang-orang arab yang akan ke Dubai dalam pesawat kami. Diam-diam saya ngeri juga, jangan-jangan ada diantara mereka yang membawa bom, atau membajak pesawat seperti di film-film (ternyata saya sudah terkontaminasi berat agitasi barat). Tetapi ada juga kejadian lucu. Ketika pengumuman prosedur keselamatan yang tentu saja menggunakan bahasa Arab, beberapa teman Indonesia mengangkat kedua tangannya sambil berkata: amin..amin.

Perjalanan ke Bangkok membutuhkan waktu tiga setengah jam, dan selama itu saya terjebak dalam kengerian. Saya tak bisa tidur sama sekali. Dadaku terus berdebar kencang dan keringat dingin deras mengucur. Hiburan televisi mini yang disediakan di setiap kursi penumpang tak menolong banyak. Padahal film-filmnya baru-baru, seperti Mr. and Mrs. Smith, atau filmnya Lindsay Lohan tentang mobil yang bisa bicara itu. Saya terheran-heran bisa-bisanya orang lain tidur nyenyak di situasi seperti itu.

Image hosted by Photobucket.com Menjelang subuh kami tiba di Dong Muang. Konon dalam bahasa Thai, Dong berarti tinggi dan Muang berarti Daratan, jadi artinya adalah Daratan Tinggi. Saya mengucap syukur, bahwa tak ada apa-apa dengan perjalanan kami. Setelah beristirahat sejenak, dan shalat subuh, kami langsung menuju Pattaya dengan bis yang disediakan panitia. Jarak Bangkok dan Pattaya adalah sekitar 3 jam. Karena lelah, saya tertidur, meski tak lena. Ketika bangun, bus sudah berhenti di sebuah peristirahatan untuk makan pagi.

Kami pun membeli sarapan di sebuah restoran muslim, yang ternyata hanya ada satu di lokasi itu. Karuan saja seluruh peserta Indonesia yang berjumlah 33 orang itu tumplek, dan membikin pelayannya sibuk bukan main. Menu yang dihidangkan adalah sejenis sup, kira-kira semacam soto ayam di kita. Karena banyak permintaan, kami pun harus menunggu giliran. Saya bersama rombongan dari Jawa Barat berenam duduk di satu meja. Melihat kami tak juga kebagian hidangan, seorang penerjemah lokal berinisiatif menawarkan sesuatu kepada kami, yang tak pikir panjang kami jawab dengan: yes..yes. Kami pikir dia sedang menjelaskan tentang sup itu. Selanjutnya kami terbengong-bengong ketika ke meja kami dihidangkan enam porsi sejenis nasi kuning (baru kemudian saya tahu bahwa itu namanya nasi Berliani, sejenis nasi Kebuli). Kemudian tertawa ngakak. Akhirnya lima porsi dihabiskan oleh Haji Fathoni, karena yang lainnya tetap menginginkan sup.

Sekitar pukul 10 pagi, kami sampai di Pattaya, dan kami ditempatkan di sebuah hotel, namanya Ambasador City. Hotel itu sangat besar, terdiri dari tiga komplek bangunan yang masing-masing bangunan berlantai 42 dan memiliki lebih dari 1600 kamar. Saya sendiri kebagian di lantai 18, berdua dengan Erwin. Ketika saya perhatikan dari atas hotel, saya menduga ini adalah hotel yang dalam rekaman video di TV terkena tsunami beberapa waktu lalu. Tetapi ketika dikonfirmasikan ke seorang sopir lokal, tenyata bukan. "Pattaya tak terkena tsunami", katanya, "yang anda lihat itu di Puket".

Siang sampai sore, kami habiskan dengan istirahat di Hotel. Saya sempat kebingungan ketika tiba makan siang. Hari itu, ternyata belum termasuk hitungan yang ditanggung panitia, jadi kami harus mencari sendiri. Ketika mengajak Dadung dan Saepudin, mereka malah menawarkan telor asin dan gorengan asin yang dibawanya dari Sumedang. Ternyata Saepudin membawa bekal cukup banyak, selain satu keresek telor asin, juga satu kaleng gorengan ikan asin. Nasinya dibeli tadi ketika makan pagi. Awalnya saya terheran-heran, tetapi akhirnya tawaran mereka saya terima. Ternyata enak juga, bahkan saya nambah.

Welcome Dinner

Malamnya diadakan makan-malam penyambutan, yang diisi oleh hidangan ala standing party dan pergelaran kesenian tradisional Thailand. Belum disediakan hidangan khsusus muslim. Karena ragu-ragu, kami hanya memakan buah-buahan atau kue. Tentu saja tidak cukup mengenyangkan. Meja khusus moslem food baru ada pada acara-acara makan selanjutnya.

Image hosted by Photobucket.com Yang menarik adalah pagelaran kesenian tradisional yang dilakukan oleh anak-anak SD dan SMP. Musik Thai meski monoton tetapi iramanya riang dan menghentak. Sehingga sangat cocok ketika dipadukan dengan tari-tarian. Dan yang menjadi pusat perhatian adalah dua orang anak kecil yang menari penuh semangat dengan gaya goyang kocak. Mirip goyang ngebor Inul. Banyak peserta yang senang dan memberikan apresiasi dengan bertepuk tangan dan bersuit-suit. Lucunya, sang bocah melakukannya tanpa ekspresi. Seorang peserta yang geregetan bahkan sempat menyelipkan angpau.

Acara itu selesai jam 9 malam. Malam itu acara bebas, dan kami kembali ke kamar masing-masing. Setengah jam kemudian, kami turun untuk jalan-jalan. Setiap delegasi disediakan satu buah mobil angkutan, sejenis preggio, untuk berkeliling. Sayangnya, karena peserta Indonesia kebanyakan, tak semua dari kami, termasuk saya, kebagian. Akhirnya saya dan beberapa teman lain memutuskan untuk berjalan kaki saja. Belum sampai lima menit berjalan, sebuah mobil hotel menyusul dan menawarkan untuk membawa kami jalan-jalan. "300 Baht", katanya, atau sekitar Rp. 75.000 untuk semua (jumlah kami berenam). Tanpa tawar-tawar lagi kami setuju.

Menyusuri Lorong Pattaya

Sopir itu bernama Sing, kami memanggilnya Mr. Sing. Dia asli Pattaya, dan nampaknya sudah terbiasa mengantar turis-turis jalan-jalan. Dan tawaran pertama yang diajukannya adalah, "Do you want to see ladies?". Saya yang bertindak sebagai juru bicara (karena satu-satunya di antara berenam yang bisa berbahasa inggris) langsung mengiyakan, "Yes, can you take us to there?"

Sejak sebelum berangkat, kami banyak diceritakan tentang wisata malam Thailand, disertai pertunjukan-pertunjukan ajaibnya. "Pokoknya kalau tidak sempat menonton, berarti belum ke Thailand", saran seorang teman yang pernah ke sana. Saya sendiri awalnya tak terlalu percaya dengan cerita-cerita itu, tetapi penasaran juga. Maka ketika sang supir menawarkan, kami langsung setuju. Tetapi rupanya kami kecele. yang dia maksud ternyata sebuah panti pijat plus. Kami dihadapkan pada akuarium besar berisi puluhan gadis-gadis cantik berpakaian minim. "Silahkan milih", katanya, "Gak apa-apa, gak pakai, gak perlu bayar". "Harganya 1.200 Baht", tambahnya (kalikan saja, 1 Baht sekitar 250 rupiah). Tapi teman lain malah pada protes terhadap saya, sebagai interpreter. "Bukan yang ginian", kata seseorang. "Nu kieu mah di Bandung ge aya", tambah yang lain. "Minta yang aneh-aneh!:

Saya jadi bingung. Dengan susah payah saya jelaskan keinginan teman-teman pada Mr. Sing. Parahnya sang sopir rupanya bahasa Ingrisnya pas-pasan juga, sementara saya kebingungan menjelaskan apa yang diinginkan. Akhirnya dengan memakai sedikit bahasa Tarzan, kami diantar pada suatu tempat. Rupanya itu adalah pusat kehidupan malam Pattaya. Saya tak sempat menanyakan namanya, yang jelas banyak sekali pub-pub yang berisi perempuan setengah telanjang. Saya melihat banyak sekali bule. Pattaya memang surga bagi bule, yang doyan Sea, Sun dan Sex. Ada yang bilang, industri esek-eseknya menyumbang 40% dari PAD Pattaya.

Setelah melalui lorong-lorong, kami diajak masuk ke sebuah pub kecil. Dan akhirnya kami dapatkan apa yang kami cari. Pub itu temaram. Di dalamnya terdapat tempat-tempat duduk setengah lingkaran dan bertingkat-tingkat, persis seperti ruang pertunjukan biasa. Di ujung sebelah kanan saya melihat rombongan Indonesia lain sudah ada di sana. Tak terbiasa dengan dunia keremangan, saya deg-degan juga. Di tengah-tengah ada panggung, dan beberapa gadis telanjang sedang berlenggak-lenggok. Rupanya pertunjukan sudah setengah jalan.

Saya tak bisa menjelaskan secara detil show itu (baru beberapa hari setelahnya saya tahu nama show itu adalah Top Lady Show). Yang jelas saya menyamakannya dengan kesenian Debus, hanya saja ini dilakukan dengan sangat-sangat ekstrim, karena seluruh atraksi dipusatkan pada kelamin wanita. Ada beberapa macam atraksi, seperti merokok, membuka tutup botol, menyedot air dalam botol dan mengeluarkannya kembali, memasukan hamster dan bola pingpong, memasukan rantai silet, menulis dan terakhir menembak balon dengan sumpitan. Lama satu sesi pertunjukan adalah 1 jam, kemudian dilanjutkan ke sesi selanjutnya dengan pertunjukan yang sama. Untuk semua itu kami hanya membayar 200 Baht (50.000 rupiah) plus gratis minuman. Ketika saya tanyakan kepada Mr. Sing bagaimana mereka bisa melakukan hal tersebut, dia menjawab tidak tahu. "Saya pun baru kali ini menonton", katanya sambil tertawa-tawa.

(to be continued)

Selasa, Maret 15, 2005

Mencari Kharakter Sunda yang Hilang

: untuk seorang teman yang merindu progresivitas

ORANG Sunda, umumnya, dikenal sebagai bangsa yang toleran dan cenderung tidak menyukai konflik (baca: pengalah).

Dalam menghadapi sebuah perbedaan (konfrontasi), alih-alih melakukan ngotot-ngototan, mereka lebih senang mencari jalan tengah, atau mengalah.

Sambil berusaha menikmati konsekwensi kemengalahan tersebut, dan sering dengan segala pembenaran terhadap keputusannya tersebut.

Dus, bangsa yang "manis, baik hati dan tidak sombong", selain pandai menghibur diri.

Inilah juga yang konon menyebabkan tidak banyaknya muncul pahlawan nasional dari orang Sunda dulu (dibandingkan dengan orang Jawa misalnya). Karena orang Sunda memang tidak menyukai konflik.

Para pemimpin Sunda jaman kolonial, umumnya memilih ber-"baik-baik saja" dengan penjajah, dibanding harus berkonfrontasi.

Alasanya: melawan dengan kekuatan senjata, selain sulit menang, juga pada akhirnya malah akan lebih menyengsarakan rakyat sendiri, karena akan timbul banyak korban.

Oleh karena itu sikap kooperatif (mengalah dan patuh) dirasa lebih baik, sambil berupaya agar tidak terlalu menyengsarakan rakyat.

Konon, pemerintah kolonial dulu memang relatif lebih menyukai bupati-bupati Sunda, dari pada daerah lain, karena mereka pandai memuaskan keinginan pemerintah kolonial.

Mereka pun digaji dengan nominal yang jauh lebih tinggi dibanding bupati-bupati daerah lain. Istimewanya adalah, bupati-bupati Sunda umumnya juga dapat melindungi rakyatnya dari kesengsaraan yang lebih, meskipun di waktu yang sama harus melayani sang penjajah.

Hal ini menunjukkan bahwa para pemimpin Sunda memang pandai dalam menjalankan posisi nengah seperti itu, tanpa harus berpusing-pusing berkonflik.

Pilihan yang rasional sebenarnya, meskipun kadang ditafsirkan sebagai pengecut dan kurang peduli dengan kebebasan dan harga diri.

Kini pun demikian. Masyarakat Sunda jarang terdengar berkonflik.

Di tempat asalnya, wilayah Pasundan, masyarakat Sunda dikenal sebagai masyarakat yang ramah dan sopan terhadap pendatang, meskipun kemudian pada akhirnya sang tamu ternyata lebih berhasil memanfaatkan sumber daya dari wilayah tersebut dibanding sang pribumi.

Tidak pernah terjaaadi kecemburuan yang kemudian menimbulkan konflik tajam. Juga di perantauan. Jarang terdengar konflik sosial yang melibatkan orang Sunda.

Pada umumnya mereka diterima dengan baik, karena selain tidak pernah berlaku aneh-aneh, mereka juga dengan mudah dapat menyesuaikan diri dengan budaya setempat.

Hal ini, di satu sisi, tentunya positif saja, terutama dipandang dari kepentingan pemeliharaan stabilitas nasional. 

Provinsi Jawa Barat, sebagai tempatnya orang Sunda, relatif selalu aman dan nyaris tanpa gejolak. Bila pun ada, itu disebabkan hal-hal yang memang sangat sensitif, seperti isu agama, yang terjadi di Tasikmalaya beberapa waktu yang silam.

Tetapi di sisi lain, apabila kita telaah lebih jauh, hal ini juga ternyata mengimplikasikan sesuatu yang sangat menghawatirkan dan memprihatinkan, terutama berhubungan dengan eksistensi mereka sebagai sebuah (suku) bangsa.

Sering, karena saking toleran dan tidak mau ada konflik -nya, - atau juga cenderung karena minder (?), keadaan menjadi terbalik-balik.

Dalam hubungan bertetangga misalnya, ketika berkomunikasi dengan tetangga yang bukan sunda, apalagi bila tetangga tersebut memiliki tingkatan sosial yang tinggi, orang Sunda akan cenderung menyesuaikan diri dengan gaya dan bahasa mereka, dan bukan memunculkan kharakter sendiri.

Jadi, alih-alih tetangga, yang nota bene pendatanglah, yang menyesuaikan diri, malahan sang pribumi yang berubah terlebih dahulu. Begitu seterusnya.

Walhasil, jadinya pabaliut. Akhirnya tidak jelas mana yang pribumi mana yang tamu. Apalagi ketika pendatang tersebut semakin membanyak, seperti yang terjadi di kota-kota besar.

Orang Sunda, sebagai pribumi, kian terdesak, di segala bidang, baik politik, ekonomi maupun budaya. Jati kasilih ku Junti. Di bidang politik, posisi orang Sunda sebagai "penguasa" di daaerah sendiri makin terancam.

Pengalaman komposisi Sunda non Sunda di DPRD Jawa Barat periode lalu yang berbanding terbalik seperti sering diributkan orang, membuktikannya. Di bidang ekonomi apalagi. Sejak lama, orang sunda terpinggirkan oleh ekspansi para pendatang, yang ternyata memiliki kemampuan dan daya juang yang lebih tinggi.

Yang menyedihkan juga adalah kekalahan di bidang budaya. Orang-orang Sunda perlahan namun pasti semakin tercerabut dari akar budayanya. Banyak dari mereka yang bahkan telah menanggalkan identitas kesundaannya, karena diangap tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman.

Dengan begitu, mereka sebenarnya telah memutus rantai identitas yang diwariskan leluhurnya, yang selama berabad-abad telah membuatnya berbeda dari bangsa lain. Dan ini sungguh mnemperihatinkan.

Separah itukah yang terjadi? Barangkali terlalu didramatisir. Namun sulit dipungkiri bahwa kharakter sunda yang "terlalu toleran" dan "cenderung pengalah" tersebut memang telah memberi andil yang besar terhadap inferioritas dan inferiorisme orang sunda seperti yang terjadi saat ini.

Saya jadi teringat sebuah "teori" dari seorang teman yang menyatakan bahwa sebenarnya ada kharakter lain yang pernah menonjol dan dominan pada diri orang-orang Sunda.

Yaitu kharakter yang kuat, tegas dan berani dalam membela hak dan harga diri. Paling tidak, hal itu tercermin dari persitiwa sejarah Pasunda Bubat. Ketika saang Prabu Maharaja Linggabuwanawisesa, beserta pengiringnya, memutuskan untuk melawan dengan gagah berani, dan mati dengan terhormat di medan perang Bubat, ketimbang harus mengaku tunduk kepada kekuasaan dan ambisi sang Gajah Mada.

Tentunya kharakter Sunda yang kuat inilah juga yang telah memungkinkan Kerajaan Sunda waktu itu mampu bertahan, dan mejadi satu-satunya wilayah di Nusantara yang tidak dapat dijamah oleh bala tentara Majapahit yang terkenal dahsyat.

Yang membuat Gajah Mada, sang Mahapatih Majapahit yang perkasa, menjadi frustasi, sehingga merasa perlu menjalankan siasat licik untuk menggenapkan sumpahnya menguasai seluruh nusantara itu. Karakter kuat inilah yang pastinya kemudian membawa Kerajaan Sunda (Pajajaran, setelah peristiwa itu, mencapai puncak keemasan, sampai paro abad XVI.

Lalu kemana kharakter itu kini? mengapa seakan hilang tak berbekas? Telah berubahkah orang Sunda?

Teman saya tadi mengatakan bahwa huru-hara menjelang runtuhnya kerajaan Pajajaran di tiga perempat akhir abad XVI-lah yang menjadi pangkal penyebabnya.

Perang, telah megabiskan mereka yang memiliki karakter kuat, baik karena gugur di medan perang, maupun yang kemudian mengasingkan diri karena tidak sudi hidup terjajah.

Dan menyisakan hanya mereka yang berkharakter lemah, yang tunduk dan bersedia hidup di bawah kangkangan bangsa lain. Karakter itulah yang kemudian kita warisi, dan terpelihara sampai kini. Kharakter yang kalah dan terjajah.

Pertanyaannya adalah: akankah kita terus menjadi yang kalah dan terjajah?

Senin, Mei 17, 2004

Menjadikan Sunda

TULISAN ini tercipta sudah agak lama. Muncul menyembul tepat di tengah-tengah antusiasme yang kadung meluber, yang tercipta dari sebuah pengalaman teramat mengesankan: tulisanku pertama kali dimuat di media massa. Sayang pengalaman itu tak terulang, yang sempat membuat murung antusiasme. Tapi bagi saya, sebuah tulisan adalah karya yang terlalu berharga untuk dibuang. Untuk merangkainya, saya membutuhkan perenungan panjang, yang kadang bahkan menyakitkan. Maka, ijinkan hari ini saya tampilkan kembali dia di sini. Untuk dapat lebih diapresiasi. Semoga.

MENJADIKAN SUNDA SEBAGAI KEBUTUHAN DAN GAYA HIDUP
-- Sebuah Gagasan tentang Visi Pengembangan Budaya Sunda

SAYUP-SAYUP kita mendengar hadirnya sebuah lembaga bernama Kalang Budaya Jawa Barat. Konon, lembaga ini berfungsi sebagai think tank pemerintah daerah dalam bidang kebudayaan, beranggotakan pakar-pakar kebudayaan yang pemikirannya diharapkan menjadi rujukan pemerintah dan masyarakat dalam pembuatan kebijakan tentang kebudayaan di Jawa Barat, diminta atau tidak diminta. Meski tidak secara eksplisit, saya yakin bahwa budaya yang dimaksud di sini tentunya adalah Budaya Sunda.

Namun sayang, sampai kini peran mereka belum terlihat sama sekali. Padahal kita sangat berharap banyak terhadap munculnya pemikiran-pemikiran yang cemerlang dan energik tentang upaya-upaya penyelamatan budaya Sunda --yang keadaannya semakin mengkhawatirkan saja, yang seharusnya bisa dihasilkan dari lembaga semacam itu. Hingga detik ini, kita pun masih menunggu peran nyata pemerintah daerah Jawa Barat dalam upaya memajukan budaya Sunda, secara serius (sejuta rius kalau perlu!) dan penuh dedikasi, bukan hanya keprihatinan lipstick dan tema klise penggugah simpati di setiap sambutan dan perayaan.

Tetapi lepas dari hal-hal tersebut, saya ingin menyajikan tulisan ini, yang saya harap dapat menjadi sebuah sudut pandang baru bagi kita dalam memandang budaya Sunda. Budaya dalam pengertian yang sebenar-benarnya dan dengan penuh kesadaran, bahwa dia adalah sesuatu yang selalu dan akan selalu kita hidupkan sehari-hari, dan bukan hanya berlaku sebagai pelengkap perayaan atau objek nostalgia orang-orang romantik. Sehingga barangkali dapat dijadikan pertimbangan bagi orang-orang seperti yang duduk di Kalang Budaya dalam menyusun langkah kerjanya (bila ada tentunya).

***

BAHWA kebudayaan Sunda di hari ini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, sudah banyak diulas orang. Masalah ini hampir menjadi topik bahasan wajib di setiap forum diskusi tentang Sunda dan kesundaan. Namun sebegitu jauh, saya belum melihat munculnya sebuah ide yang demikian cemerlang dan orisinal, yang disertai dengan langkah-langkah efektif dan strategif sehingga dapat memperbaiki kondisi tersebut. Belum nampak adanya sebuah visi bersama, yang bisa menyatukan gerak langkah potensi-potensi besar elemen kesundaan, sehingga dapat mensublimkan energi yang tersimpan menjadi sebuah kekuatan masif yang mampu mengubah keadaan. Saya kurang tahu apakah hal semacam ini sudah dirumuskan atau belum, tetapi kenyataan yang ada mengindikasikan perlunya kembali kita untuk memperhatikan hal tersebut.

Visi ini sangat penting, agar apa yang dilakukan oleh masing-masing dari kita, baik dari elemen masyarakat awam, pemerintahan formal maupun dari kalangan budayawan swasta, akan dapat menuju ke arah yang sama, sehingga terjadi sebuah sinergitas langkah. Dan untuk dapat merumuskan visi ini tentunya diperlukan sebuah kesepahaman dan objektivitas tentang permasalahan yang ada.

Dan dalam hal ini saya berbeda dengan kang Ajip. Bila beliau sering menyatakan bahwa Undak Usuk Basa adalah faktor yang paling mempengaruhi keengganan kaum muda dalam menggunakan bahasa Sunda, saya melihatnya bukan itu. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kesulitan akibat "ketakutan berbicara tak pantas" sebagai konsekwensi dari adanya tingkatan bahasa tersebut, kerap membuat kita lebih memilih bahasa lain (Bahasa Indonesia) ketika berbicara terutama di suasana formil. Tetapi tidak dalam pembicaraan sehari-hari.

Enggannya kaum muda Bandung dalam berbahasa Sunda lebih disebabkan karena mereka memang tidak diajarkan menggunakan bahasa tersebut sejak awal, yang diakibatkan oleh persepsi yang rendah orang-orang tua mereka terhadap bahasa Sunda itu sendiri. Mereka tidak dikondisikan untuk mempunyai kebanggaan untuk berbahasa Sunda -- kebanggaan menjadi orang Sunda, bahkan mereka sejak lahir. Sehinggga mereka merasa Sunda bukanlah bahasanya, tetapi hanya bahasa ibu-bapak dan kakek-neneknya. Terlebih, lingkungan yang mempengaruhi gaya hidup mereka sehari-hari, seperti televisi, sekolah, majalah dan mode, pun tidak pernah menampilkan atau tampil sebagai Sunda.

Beberapa waktu yang lalu, ketika ngetop-ngetopnya opera sabun Meteor Garden, kita sering melihat anak-anak muda dengan bangganya mengucapkan kata-kata mandarin, yang sebenarnya jauh lebih sulit dipelajari (secara lingkungan) daripada bahasa Sunda.

Dus, bukan sulit tidaknya, tetapi ngetrend tidaknya.

Selain alasan kebanggaan, adalah alasan kebutuhan. Mempelajari bahasa Inggris misalnya, jelas lebih menjanjikan "hidup yang lebih baik" dari pada ngagugulung bahasa Sunda. Di hari ini, bahasa Inggris dianggap salah satu "tiket mutlak" untuk memperoleh kesuksesan. Maka orang-orang tua akan merasa lebih rugi anaknya tidak bisa berbahasa Inggris dari pada tidak bisa berbahasa Sunda. Bila perlu, mereka akan mengeluarkan uang ekstra dengan memasukkannya ke kursus. Sementara orang merasa tak perlu lagi bisa berbahasa Sunda, karena bila tidak pun tidak membikin mereka mati.

Kedua permasalahan pokok itulah yang harus menjadi perhatian. Dan ini mesti dilihat sebagai suatu konsekwensi logis yang terjadi karena sampai saat ini Ki Sunda belum bisa menjawabnya. Jadi bukanlah sesuatu yang harus disesalkan atau dicemooh, tetapi diterima secara kesatria.

Inferiorisme orang-orang Sunda hendaknya disadari sebagai suatu bukti ketidakmampuan tokoh-tokohnya untuk mempertahankan identitas dan kehormatan dirinya dalam mengikuti panah zaman yang serba cepat dan senantiasa berkembang. Dan gejala ini akan terus berlangsung dan semakin parah sampai di suatu saat akan "membunuh" nya, bila di era dunia tak berbatas ini, dimana serbuan budaya-budaya asing yang lebih indah dan mengasyikkan banyak menjanjikan pilihan, ki Sunda tetap tak mampu membuktikan diri bahwa dengan menjadi dirinya sendiri, mereka bisa " tetap hidup" dan "menjadi terhormat". Itulah sejatinya visi yang harus dicapai oleh ki Sunda รข€“oleh Kita. Saya merumuskannya dalam satu kalimat, yang dijadikan sebagai judul artikel ini: Menjadikan Sunda Sebagai Kebutuhan dan Gaya Hidup.

Kebutuhan dan gaya hidup? Seperti iklan HP saja.

Tetapi kenyataan membuktikan bahwa di hari ini memang handphone saja lebih dianggap penting dan membanggakan dari sekedar identitas kesundaan. Maka, sederhananya, bila ki Sunda juga berlaku sebagaimana HP: dibutuhkan untuk memperlancar segala urusan hidup, sekaligus memberikan tingkatan apresiasi tertentu bagi para penggunanya, maka tak perlu lagi ada kekhawatiran sunda akan dilupakan orang. Malahan akan dicari dan ditunggu.

Nah, bila visinya sudah ketemu, tinggal strateginya.

Tentunya banyak hal yang bisa dilakukan. Beberapa waktu yang lalu, saya menulis tentang ide Menampilkan Sunda Dengan Lebih Terhormat (PR, 10/01/2004), yang sayangnya tidak banyak mencuri perhatian. Dengan melemparkan isu tersebut sebenarnya saya ingin membuka sebuah topik diskusi baru mengenai upaya meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kebudayaan Sunda. Bila sebelumnya diskusi selalu perpusar pada identitas unsur kebudayaan itu sendiri, seperti jenis, asal mula, "aturan main", serta hal lainnya, dan biasanya diakhiri oleh keprihatinan sang budayawan mengenai rendahnya apresiasi dari masyarakat sekarang, maka ke depan saya ingin kita juga lebih memperhatikan "kemasan" (packaging) dari unsur budaya tersebut, sehingga masyarakat akan menyukai mereka dengan sendirinya.

Maka bila dalam Majalah Cupumanik edisi dua minggu kemarin, Kang Nano S menulis tentang perkembangan Tembang Sunda, seharusnya tidak berhenti kepada kepada jenis-jenis dan asal-muasal tembang, tetapi juga dilanjutkan kepada upaya-upaya agar pertunjukan tersebut dapat ditonton orang. Saya tidak meragukan ketinggian mutu dari seni tembang Cianjuran atau Degung, tetapi tetap saja akan membosankan (terutama bagi orang-orang muda, yang progresif) apabila tidak dikemas dalam sebuah pertunjukan yang menarik. Satu misal adalah dengan merancangnya menjadi lebih komunikatif dan apresiatif, dengan menyelipkan dialog-dialog cerdas dan akrab antara penembang dengan audiens tentang latar belakang suatu lagu, seperti juga yang sering dilakukan penyenyi-penyanyi bule di televisi. Dengan adanya interpretasi dan dialog, maka audiens akan mengerti tentang apa yang disajikan dan merasa ikut terlibat dalam pertunjukan. Sehingga lagu degung pun nantinya dapat dinikmati sebagai sajian utama, tidak hanya befungsi sebagai lagu pengiring acara parasmanan dalam sebuah upacara hajatan.

Unsur-unsur penyajian ini terbukti mampu meningkatkan citra sebuah unsur budaya. Pavarotti atau karya-karya Bethoven saya kira jauh lebih membosankan, tetapi dengan dengan pengemasan yang baik, dan interpretasi yang benar tentang ketinggian mutunya, pertunjukan tersebut menjadi satu hal yang menakjubkan dan memberikan citra ekslusif, sehingga orang rela menghabiskan ribuan dollar untuk dapat menghadirinya. Upaya-upaya semacam itulah yang seharusnya lebih dieksplorasi dan dielaborasi para pekerja budaya. Sunda harus ditampilkan dengan lebih terhormat.

Dan ini memang tidak bisa hanya dipikirkan oleh orang-orang seni, sastrawan atau pekerja budaya lain, tetapi juga perlu melibatkan mereka yang mengerti dan professional tentang itu, yaitu orang-orang yang bisa menciptakan trend. Saya kira, Sunda tidak akan kehabisan stok orang-orang semacam itu. Jadi, orang-orang sunda yang profesional sebagai event organizer juga harus membantu orang-orang semacam Kang Nano untuk menyiapkan konser tunggal, misalnya. (iraha Kang?)

Nah, bila apresiasi masyarakat terhadap budaya sunda sudah meningkat, maka secara otomatis ini akan meningkatkan pula industri yang berbasiskan padanya. Logikanya, apabila lebih banyak orang yang membaca majalah sunda, maka akan banyak bermunculan majalah-majalah sunda lain, yang pasti mebutuhkan pengarang-pengarang sunda yang lain pula. Begitu seterusnya. Sehingga budaya sunda menjadi salah satu penggerak industri yang bisa memberikan kehidupan bagi masyarakatnya. Sunda dapat menjadi salah satu pilihan hidup yang menjanjikan.

Satu hal yang perlu dicatat, adalah kita tidak perlu berandai-andai terlalu jauh, bahwa Ki Sunda akan bisa go internasional, atau akan menjadi unsur yang dominan di komunitas budaya nasional --minimal sekarang-sekarang ini. Ekspansif bukanlah tipe orang Sunda, sejarah mencatatnya. Cukup bahwa kita bisa menjadi tuan di rumah kita sendiri, sehingga setiap orang luar yang masuk harus menyesuaikan diri dengannya, dan bukan sebaliknya, ini sudah kemajuan yang sangat berarti. Kita harus membangun "kerajaan budaya" sendiri, yaitu wilayah-wilayah dimana budaya sunda menjadi gaya hidup masyarakatnya. Wilayah tersebut adalah sebagian besar Jawa Barat dan Banten, dimana etnis Sunda merupakan mayoritas.

Makanya kita harus memiliki corong tersendiri. Dan untuk itu sangat dibutuhkan kehadiran media massa yang representatif, terutama media televisi. Hadirnya sebuah stasiun televisi Sunda yang dikemas secara professional dan modern --tidak seperti TVRI Sta. Bandung sekarang, akan sangat menentukan.

Ada yang sependapat?

Selasa, April 27, 2004

Bencana Alam dan Kegamangan Seorang Rimbawan

- Sebuah Catatan dari Bencana Longsor Cililin

BERITA itu sungguh terlalu mengejutkan. Kamis pagi, sewaktu Apel, sebuah kabar duka dipermaklumkan. Malam tadi (21 April 2004), sekitar pukul 21.00, telah terjadi bencana alam tanah longsor wilayah BKPH Cililin. Bisik-bisik pak KTU mengatakan kalau jumlah korban meninggal adalah 15 orang. Innalilahi! Pada kondisi sulit sekarang ini, derita memang seakan tiada bosan berkunjung. Ketika posisi kami masih belum terlepas dari opini publik negatif yang kadung berkembang, sebuah bencana dengan belasan korban jiwa, adalah sebuah pukulan yang terasa terlalu berat. Maka yang terbayang di benak saya saat itu adalah, tekanan di hari-hari kami ke depan akan semakin menyesakkan. Padahal, permasalahan minggu-minggu kemarin pun belum kami tuntaskan dengan baik.

Memang sulit bagi orang yang kadung berpredikat jelek. Semua menjadi serba salah. Serba tak nyaman. Berkaitan dengan bencana alam seperti ini, kami selalu menghadapi dilema. Menyatakan bahwa itu memang diakibatkan oleh hutan yang rusak, tentunya adalah sebuah upaya bunuh diri. Meski diback up oleh argumentasi yang faktuil, bahwa rusaknya hutan adalah akibat interaksi negatif dari masyarakat sekitar, sebagai konsekwensi tidak meratanya kesejahteraan ekonomi dan sosial, ini tidak menolong banyak. Tetap saja, yang mengemuka adalah ketidakmampuan kami dalam mengelola hutan dengan baik, yang menyebabkan masyarakat dengan bebas bisa mengintervensi hutan yang seharusnya terlindungi itu. Atau kebobrokkan oknum-oknum petugas kami yang korup dan kerap tutup mata atas segala yang terjadi. Padahal, di era titik balik ini, ketika yang dulu ditakuti sekarang menjadi takut, ketika dulu penguasa kini dikuasai, ketidakmampuan itu sangatlah dapat dimaklumi. Boro-boro hutan yang tidak dipagar, toko-toko di kota saja bisa kena dijarah. Kami, meminjam istilah seorang teman, kini hanyalah tinggal koboi-koboi yang tak berpeluru, siapa yang akan takut? Dan, ngomong-ngomong, siapa sih di negeri ini yang tidak korup?

Tetapi menyatakan bahwa itu sama sekali tidak disebabkan oleh rusaknya hutan, juga rasanya tidak nyes. Serasa menjilat ludah sendiri. Sudah jelas, ketika kami melakukan penyuluhan di desa-desa, itulah yang selalu kami jadikan tema. Bahwa apabila hutan gundul, akan terjadi longsor dan banjir. Bahwa untuk mencegah itu masyarakat hendaknya tidak mencuri kayu atau merambah hutan. Bahwa masyarakat juga harus ikut menjaga hutan, dsb. Nah ketika sekarang kebuktian, kok malah kami sendiri yang buru-buru menyangkalnya: bahwa bencana itu bukan disebabkan kondisi hutannya, tetapi semata-mata oleh hujan yang teramat deras, atau tanahnya yang labil. Kan lucu.

Tetapi, bagaimana lagi? Menghadapi hal semacam tadi kami memang selalu terposisikan bersikap ambivalen seperti itu. Sebuah hal yang wajar, karena ketika seseorang terpojokkan, maka yang terlintas pertama kali adalah upaya menyelamatkan diri. Apalagi dengan pengalaman buruk kami di Mandalawangi Garut beberapa waktu yang lalu, yang membuat kami harus membayar ganti rugi bermilyar-milyar rupiah, sebuah jumlah yang tidak sedikit di saat kondisi keuangan perusahaan yang kembang kempis seperti sekarang ini. Kami menjadi sedikit traumatik. Maka sangat logis bila yang pertama-tama kami lakukan adalah mencari jalan selamat. Toh, bukan hanya kami yang melakukannya.

Namun tentu saja tidak hanya itu yang kami lakukan. Kami sadar sepenuhnya, tidak ada masalah yang selesai hanya dengan tuding menuding dan saling cari jalan selamat. Tiada sedikit pun maksud kami untuk cuci tangan. Kami maklum bahwa segala argumentasi dan dalih yang kami ajukan, tidak akan menutupi kenyataan bahwa kondisi hutan yang kami kelola memang tidak bagus. Dan itu tentunya sedikit banyak telah mempengaruhi kondisi lingkungan yang ada, termasuk bencana kemarin, dan juga bencana-bencana sebelumnya. Itu harus kami akui dengan fair. Anda benar, kami harus ikut bertanggung jawab. Ini terlepas dari faktor yang menjadi penyebab utama sebenarnya bencana longsor kemarin, menurut hasil penelitian yang nanti akan dilakukan.

Cuma saja, seperti juga yang lain, kami pun tidak ingin memikul beban itu sendirian. Seakan-akan kamilah yang telah membunuhi, dan memang bermaksud membunuhi, belasan orang-orang itu, dan menafikkan sama sekali upaya-upaya yang sudah kami lakukan. Yang kami harapkan adalah penilaian yang juga fair. Karena sedikit banyak, mesti diakui kami telah berusaha. Bahwa tetap saja terjadi bencana, itu tentu saja di luar kemampuan kami. Dan percayalah kami pun tidak pernah menginginkan hal itu terjadi.

Semua tahu. Bahwa mengurus hutan, kini, bukanlah semata berhubungan dengan hal ihwal tanam menanam atau tebang-menebang, tetapi juga sangat berkait-kelindan dengan masalah-masalah lain yang lebih pelik dan mendasar, dari politik, ekonomi sampai sosial. Dan itu tidak mudah. Bayangkan, untuk mengelola hutan dengan baik di zaman ini, setiap dari kami dituntut bisa berlaku seperti seorang Menko Polsoskam (jabatan SBY dulu), Menko Kesra dan Menhut-nya sekaligus. Mana bisa, kalau sendirian? Padahal kondisi kami sekarang sedang tidak baik. Babak belur malah, dan terus terang saja, kami belum terlatih untuk menghadapi persoalan-persoalan seperti itu dengan elegan. Kami membutuhkan banyak teman dan pengalaman.

Seberat itukah pergulatan yang terjadi? Barangkali tidak sedramatis yang saya lukiskan. Di banyak tempat toh kami telah melakukannya dengan baik, meski mungkin belum seideal yang diharapkan. Yang jelas, harapan akan terciptanya masa depan lingkungan yang lebih baik, di sana, mudah-mudahan bukan lagi hanya impian. Kami bersama-sama telah mencoba merintisnya.

Tetapi bekerja di tengah cibiran orang memang tidak mengenakkan. Seakan-akan apa yang telah kami lakukan tidak ada artinya sama sekali. Bila tidak arif-arif menyikapinya, salah-salah bisa frustasi. Alih-alih terjadi inovasi atau revitalisasi, yang muncul malah apatisme. Kan susah.

Namun barangkali ini adalah salah satu fase kehidupan yang memang harus dilalui. Kami telah mengalami zaman keemasan di masa lalu, yang sayangnya, tidak sempat saya alami. Dan kini, sudah saatnya kami memasuki masa sulit, masa berjuang.

Salah sendiri lahir belakangan!

: turut berduka cita bagi para korban, semoga tabah bagi yang ditinggalkan.

Sabtu, April 10, 2004

A j i p

TIDAK banyak orang seperti Ajip (Rosidi). Bukan hanya karena karya-karya dan prestasinya yang cemerlang dan mengagumkan, serta pergaulannya yang luas baik di dalam dan luar negeri, tetapi terutama juga pada label identitas yang selalu melekat pada dirinya: Ajip adalah seorang Sunda.

Dan Ajip adalah prototipe manusia Sunda yang sangat langka. Langka, karena pada dirinya menyatu dua ciri yang biasanya jarang bisa sekaligus dimiliki oleh orang-orang Sunda pada umumnya. Dia adalah seorang yang memiliki prestasi besar dengan pergaulan yang luas, baik di nasional maupun internasional, tetapi posisinya itu tidak membuatnya berpaling dari identitas keetnisannya. Bahkan, dia mempunyai kedudukan yang sangat penting pada perkembangan kebudayaan Sunda.

Ada banyak orang Sunda yang berprestasi besar, sehingga mengangkatnya ke pergaulan nasional atau internasional, tetapi jarang yang "berani" dan "tega" menunjukkan label kesundaannya, secara konsisten dan konsekwen, pada dirinya maupun pada keluarganya. Seorang Sunda yang berkenalan dan hidup di lingkungan pergaulan nasional atau internasional biasanya cenderung mengubah diri, dan keluarganya --bermetamorfosa, dari "Manusia Sunda" menjadi "Manusia Indonesia" atau "Manusia Dunia". Kesundaan menjadi masa lalu baginya. Atau paling pol, dia masih merasa Sunda, tetapi tak pernah berkeinginan menurunkan identitas tersebut kepada keluarganya. Padahal kita tahu, seorang Sunda, sudah pasti Indonesia dan Dunia, tetapi tidak sebaliknya. Pada kondisi tersebut, maka pada hakekatnya kesundaannya berhenti atau hilang, karena identitas tersebut tidak pernah disadari atau dipraktiskannya dalam kehidupan sehari-hari. Maka saya heran, dalam buku Apa Siapa Orang Sunda, orang semacam Paramitha Rushadi, yang teu bisa ngomong sunda-sunda acan, misalnya, masih disebut sebagai orang Sunda.

Sebaliknya, tokoh-tokoh yang berkiprah dan berpengaruh dalam kesundaan jarang yang memiliki pergaulan yang mengglobal. Bahkan yang menasional pun bisa dihitung dengan jari. Jangkauan dan pengaruhnya sebatas pada komunitas lokal Sunda saja. Itu pun bagi yang masih setia memperhatikannya.

Jarang ada orang Sunda yang memiliki kedua predikat itu sekaligus. Seakan-akan pilihannya cuma satu. Mengglobal dan berhenti jadi orang Sunda, atau jadi orang sunda, dan jangan bermimpi bisa mengglobal.

Tetapi pada diri Ajip gejala tersebut tersebut tidak berlaku sama sekali. Pergaulannya dengan "dunia lain", tidak menggoyahkan kecintaannya kepada kesundaan. Prestasi besarnya tidak membuat dia memutuskan untuk bermetamorposa. Bahkan posisinya tersebut digunakan sebaik-baiknya untuk mengembangkan budaya leluhurnya tersebut dalam arti sebenar-benarnya. Ajip bukan hanya selalu berusaha menampilkan kesundaannya di ranah komunitas "dunia lain" tersebut, tetapi juga melakukan upaya-upaya yang nyata yang dibarengi dengan kesadaran dan dedikasi yang seutuhnya untuk mendorong perkembangan budaya leluhurnya itu. Hal yang kemudian mendudukannya ke dalam posisi yang sangat penting dalam perkembangan budaya dan sastra Sunda. Kalau dibuat pebandingan, kira-kira posisinya hampir serupa dengan Jasin dalam jagad kesusastraan Indonesia. Bahkan sebenarnya cakupan Ajip lebih luas, karena bukan hanya pada kesusastraan.

Bukti kecintaan tersebut sangat jelas. Selain banyak menulis dalam bahasa Sunda, dia juga sangat memperhatikan perkembangan sastra Sunda. Ajip nampaknya memposisikan diri sebagai "pengawal" perkembangan sastra Sunda, yang memang sangat memerlukan kehadirannya. Dan dalam melakukan ini Ajip tidak pernah setengah-setengah. Integritas dan ketelitiannya sulit dicari tandingannya. Posisi dan integritasnya inilah yang kemudian mengingatkan kita kepada peran Jasin dalam kesusastraan Indonesia.

Ajip juga berupaya dan berfikir keras untuk membangun atmosfer yang mendukung perkembangan sastra sunda. Sejak tahun 1989, atas prakarsanya sendiri, dia memberi Hadiah Sastra Rancage, sebagai upaya untuk merangsang para pengarang sunda untuk berkarya, sekaligus juga untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadapnya. Bahkan selanjutnya penghargaan tersebut juga diberikan kepada kebudayaan daerah lain yaitu Jawa dan Bali. Suatu hal yang sangat luar biasa sebenarnya, karena Ajip-lah (baca: orang Sunda) yang pertama-tama melakukan hal tersebut di nusantara ini, di tengah ketidakkacuhan pemerintah daerahnya masing-masing.

Meski kemudian lama bermukim di luar negeri, itu tidak menyebabkan kiprahnya terhenti. Perhatiannya terhadap kesundaan tidak pernah berkurang. Karya-karyanya tetap merul. Bahkan seperti yang dikatakannya hidup di luar negeri memberikannya banyak kesempatan untuk menulis. Dus, kecintaan Ajip terhadap kesundaan tidak perlu dipertanyakan lagi. Seakan-akan kesundaan adalah tujuan hidupnya.

Tetapi kecintaannya tersebut tidak membuatnya menahan diri untuk bersikap kritis. Bahkan justru dilandasi rasa cinta dan tanggung jawabnya yang besar itulah, maka kemudian dia menjadi sangat kritis. Ajip dikenal kerap melontarkan kritik pada setiap hal, dan pada siapa pun, yang menurutnya perlu dikoreksi. Ajip sadar bahwa selain kuantitas, kualitas sangat penting dalam perkembangan kesundaan, karena kualitas menentukan postur, yang pada gilirannya akan mempengaruhi apresiasi orang terhadapnya. Dan untuk memelihara kualitas tersebut, kritik adalah sesuatu hal yang wajib.

Ajiplah yang pertama kali memperkenalkan seni kritik dalam jagat sastra sunda. Meski kritik adalah suatu hal yang lumrah dan perlu dalam dunia sastra, tetapi dalam prakteknya hal tersebut tidak langsung diterima dengan baik. Kita masih ingat, di tahun 50-an, ketika Ajip mulai mengungkapkan kritik-kritiknya, dia banyak menuai tentangan, terutama dari golongan tua, yang memang banyak menjadi sasaran kritiknya. Nampaknya, hal itu disebabkan masih kuatnya budaya unggah-ungguh dalam budaya Sunda. Mengkritik orang yang lebih tua apalagi tokoh, masih dianggap kurang ajar, cucungah.

Tetapi barangkali juga hal itu disebabkan oleh gaya bahasa Ajip yang memang sangat lugas dan cenderung sarkastik. Bagi yang pernah membaca bukunya yang berjudul Beber Layar, yang berisi kumpulan kritiknya dalam bahasa Sunda, akan dengan cepat akan merasakan bahwa "serangan-serangan" Ajip memang nyelekit dan tanpa tedeng aling-aling. Boro-boro malapah gedang. Dan diakui atau tidak, itulah yang yang menjadi ciri khas Ajip. Nampaknya hal ini dipengaruhi oleh watak egaliternya, yang menurutnya adalah watak asli orang Sunda. Di setiap kesempatan Ajip selalu mengatakan bahwa Undak Usuk Basa, yang membedakan bahasa menurut tingkatan, adalah bukan budaya asli Sunda, tetapi itu adalah warisan Mataram.

Maka tak heran apabila beberapa hari kemarin muncul tanggapan kritisnya tentang buku Sejarah Tatar Sunda (STS) jilid I dan II di Pikiran Rakyat dalam versi Indonesia dan Mangle dalam versi Sunda. Dan tulisannya itu masih sangat ber-khas Ajip: keras, tanpa basa-basi dan detil. Karuan saja ini sempat menyebabkan Nina Lubis dan kawan-kawan yang menulisnya blingsatan. Meski dalam berbagai pernyataannya Nina selalu menegaskan bahwa dia, dan kawan-kawannya, tidak merasa tersinggung dan bahkan mengucapkan terima kasih atas kritik tersebut, tetap saja itu tidak menyembunyikan rasa tidak nyamannya atas tulisan Ajip.

Ketidak nyamanan yang sebenarnya dapat dimengerti. (Juga) Berangkat dari kecintaan dan rasa tanggungjawabnya terhadap kesundaan-lah, maka Nina dan kawan-kawan, kemudian berpayah-payah menyusun buku tersebut. Dan tentunya kerja itu bukan sesuatu yang gampang, dan gratis, tetapi membutuhkan upaya yang keras baik tenaga maupun fikiran. Maka setelah kini semua telah terwujud, mereka berharap hasil kerja kerasnya tersebut akan diterima dan dihargai oleh semua pihak. Dan kritik keras semacam dari Ajip nampaknya tidak pernah diperhitungkan sebelumnya.

Untungnya Nina dan kawan-kawannya bukanlah orang belikan. Kritik tersebut mereka terima dan respons dengan baik. Konon dalam cetakan terbaru, akan dilakukan perbaikan sesuai dengan koreksi dari Ajip.

Tetapi lepas dari itu, kita sesungguhnya mesti berbahagia bahwa semangat dan vitalitas Ajip terbukti masih tinggi. Di usianya yang kini sudah tidak muda lagi, Ajip masih produktif berkarya untuk kesundaan. Dan kiprah Ajip memang masih sangat diperlukan bagi perkembangan kesundaan, yang nampaknya sudah mulai bangun kembali, meski masih tertatih ini. Kemarin, Ajip juga berhasil menghimpun orang-orang Sunda yang berhasil menjadi "orang" dalam Apa Siapa Orang Sunda, yang tentunya ditujukan untuk membangun kepercayaan diri orang-orang Sunda pada umumnya, meski untuk beberapa tokoh saya masih merasa banyak yang dipaksakan masuk.

Semangat dan vitalitasnya tersebut, terus terang saja, membuat generasi muda Sunda seperti saya, menjadi merasa sangat malu.