Minggu, Oktober 09, 2005

Seven Days In Thailand (Last)

Kembali ke Bangkok

Hari Kamis, kami kembali ke Bangkok. Belum berencana pulang, karena kami masih memiliki agenda untuk berkunjung ke beberapa tempat lagi. Selama perjalanan di bis, perasaan sentimentil saya muncul. Mungkin akibat lagu-lagu boysband yang distel keras-keras di bis.

Menjelang siang kami sampai di Bangkok, dan ditempatkan pada sebuah hotel kecil di district Ram Kam Haeng. Namanya Dynasty Hotel. Kami pun dipersilahkan untuk beristirahat sampai setelah lohor di hotel. Mulai saat itu kami dipandu oleh guide baru yang sengaja disewa panitia dari sebuah biro perjalanan wisata. Ada tiga guide, yang dua orang Indonesia dan yang satu guide lokal. Guide Indonesia yang satu bernama Lili. Seorang wanita paruh baya berbadan bulat dengan selera humor yang kasar. Seorang lagi bernama Lukman. Masih muda. Dia bertugas mengurus membantu Lili mengurus-ngurus adminstrasi. Yang ketiga adalah seorang guide lokal. Namanya Citra. Dia seorang muslim Thailand yang sewaktu mahasiswa pernah tinggal beberapa tahun di Jakarta sehingga bahasa Indonesianya sangat fasih. Rambutnya kriting gondrong, dengan kumis tak terurus. Sekilas penampilannya seperti preman, tetapi rupanya dia cukup pandai bercerita.

Kami tak sempat berisitirahat lama, karena siang itu kami diagendakan untuk mengunjungi Wath Arun, sebuah situs sejarah kerajaan Thailand yang terletak di pinggiran kota Bangkok. Untuk sampai ke sana, kami membutuhkan hampir 2 jam perjalanan. Bangkok ternyata memiliki penyakit yang hampir sama dengan kota-kota besar lainnya: Macet. Untungnya, Pak Cit (si Guide lokal), bercerita sepanjang perjalanan.

Bangkok, Kota yang Besar

Bangkok adalah sebuah kota yang sangat besar. Luasnya konon hampir 3 kali Jakarta (bila tidak menggunakan konsep megapolitan). Penduduknya 8 juta dan sekitar 1,5 juta diantaranya adalah orang asing. Mereka datang dari negara-negara sekitar Thailand seperti Myanmar, Kamboja, Laos dan Vietnam, untuk mengadu nasib di Bangkok. Diantara mereka orang Myanmar-lah yang paling banyak, dan mereka terkenal kasar. Kata Pak Cit, ini disebabkan kehidupan mereka yang sulit di negerinya.

Mayoritas orang Thai, beragama Buddha Hinayana. Orang Islam ada juga, terutama mereka berasal dari provinsi-provinsi di daerah selatan, yaitu yang terpengaruh budaya melayu. Konon, dari 70 lebih provinsi kota di Thailand, sekitar 15 dari mereka sangat berbau melayu, karena pernah dijajah oleh Sriwijaya. Di Bangkok, banyak juga kompleks-kompleks pemukiman muslim. Selama di di sana kami membeli makan di kompleks-kompleks tersebut.

Perkembangan ekonomi Thailand sangat mengagumkan. Kami tak tahu angka pastinya, tetapi apa yang kami lihat di Bangkok sangat menggambarkan itu. Infrastruktur jalan dibangun dengan lebar dan bertingkat-tingkat. Gedung-gedung menjulang tinggi diseling taman-taman kota yang menghijau. Kendaraan-kendaraan tahun terbaru lalu lalang (saya bayangkan di sini, Jimny Katana-ku mungkin udah jari barang rongsokan). Kemacetan memang menjadi permasalahan utama. Untuk itu, pemerintah kini sedang mengembangkan subway MRT selain juga skytrain. Ciri-ciri negara maju sudah tampak di Bangkok.

Kota Yang Bersih

Bangkok juga sangat bersih. Menurut Pak Cit, Bangkok terbebas dari permasalahan sampah dan banjir mulai sekitar 15 tahun yang lalu. Ini mengagumkan, karena dulu, keadaannya sampir serupa, bahkan mungkin lebih parah, dari Jakarta. Ketika kami tanyakan bagaimana caranya, Pak Cit menjawab: mudah. Hal yang harus dilakukan pertama-tama adalah membersihkan saluran-saluran air dari sampah, katanya. Untuk ini, Pemerintah Kota memiliki kiat tersendiri. Mereka mengerahkan para narapidana untuk melakukan hal tersebut untuk menghemat angaran. Para napi yang berkelakuan baik, ditugaskan untuk membersihkan kota Bangkok dengan imbalan berbagai fasilitas, dari pengurangan hukuman sampai diizinkan untuk berkumpul dengan istri mereka beberapa hari dalam sebulan. "Baru setelah hampir 2 tahun, Bangkok terbebas sama sekali dari sampah", kata Pak Cit.

Setelah itu dilakukan manajemen sampah, yaitu pemisahan sampah menurut jenisnya. Ini dilakukan sampai pada tingkat rumah tangga. Untuk mengkampanyekan ini, dilakukan pendekatan melalui anak-anak TK. "Orang tua akan malu apabila diajari oleh anak TK," lanjut Pak Cit. Sampah-sampah tersebut kemudian diolah. Yang memungkinkan dilakukan daur-ulang, sedang yang organik diolah menjadi kompos. Sehingga sampah, di Thailand, bukan menjadi barang yang menjijikan, tetapi menjadi sumber pendapatan dan lapangan kerja. Kami hanya mengangguk-angguk.

Bensin 6000 rupiah seliter

Yang mengagumkan juga adalah soal BBM. Thailand adalah pengimpor seratus persen minyak, sehingga komoditi itu dilepas pada mekanisme pasar. Harga bensin di Bangkok saat itu adalah sekitar 6000 rupiah. Dengan melambungnya harga minyak dunia, kemungkinan harganya bisa mencapai 8000 - 10.000. Taksi-taksi di banyak yang menggunakan bahan bajar LPG, karena lebih murah.

Tetapi pemerintah memberikan kompensasi yang adil dan mendidik. Biaya kesehatan sangat-sangat murah. Untuk berobat, penyakit apapun dan berapa lamapun, mereka hanya dikenai biaya 30 Baht (sekitar 7500 rupiah). Pendidikan sampai SMA juga ditanggung oleh Pemerintah. Hal tersebut menyebabkan persoalan BBM tidak menjadi sesuatu yang terlalu sensitif seperti di Indonesia. Saya jadi berfikir, jika sebelumnya hal yang sama diterapkan di Indonesia, barangkali juga menjadi positif. Yaitu munculnya generasi muda yang sehat dan berpendidikan, tetap hemat. Bukannya generasi boros dan konsumtif, tetapi otaknya dodol!

Raja yang dicintai Rakyat

Ada satu lagi kelebihan Thailand, yaitu mereka memiliki pemimpin terakhir yang sangat disegani: Raja. Raja Bhumibol barangkali adalah satu-satunya raja di Dunia yang kharisma dan wibawa di rakyatnya masih sangat tinggi. Dimana-mana, di setiap sudut kota, fotonya dan atau foto Ratu, dipajang. Ini membuktikan kecintaan dan penghargaan rakyat yang tinggi pada raja. Suatu hal yang mengagumkan di era modern.

Kecintaan tersebut disebabkan oleh perilaku raja yang memang patut diacungi jempol. Beliau adalah sosok yang rendah hati dan bijaksana. Raja Bumibhol memang pandai menempatkan diri. Sebagai seorang raja di era modern, dia tidak lagi bisa berbuat sesukanya. Tetapi harus pandai-pandai mengambil hati rakyat, agar kehdirannya sebagai seorang pemimpin memang berarti di rakyatnya. Hartanya konon habis digunakan untuk membiayai pembangunan proyek-proyek kepentingan publik. "Rakyat Thailand bukan takut pada raja, tetapi malu," kata Pak Cit. Ditambahkannya, bahwa Thailand sering mengalami ketegangan politik, tetapi tidak pernah pecah menjadi chaos, karena mereka memiliki pempimpin terakhir yang dipatuhi oleh semua pihak. Ketika raja sudah memutuskan, maka semua pihak akan menerima dengan lapang dada. Pernah suatu kali Thailand berkonflik dengan negara tetanga, sehingga sudah hampir menyiapkan angkatan perang. Melihat kondisi yang sudah sedemikian gawat, Raja pun turun tangan. Dengan sebuah perkataan, rakyat kembali tenang. "Cuma, beliau tidak pernah sembarang ngomong. Dia bicara ketika suasana sudah gawat," kata Pak Cit. Hal tersebut memang harus dilakukan untuk menjaga kewibawaan.

Wath Arun

Image hosted by Photobucket.comWath arun adalah sebuah candi, mungkin sebandng dengan Borobudur di kita. Terletak di tepi sebuah sungai (saya lupa namanya), menjadikan Wath Arun terlihat eksotis. Konon dulunya ini adalah pusat pemerintahan kerajaan Thailand sebelum pindah ke Bangkok pada abad XVIII, akibat seringnya diserang oleh bangsa Myanmar. Bangsa Myanmar di masa lalu memang sangat ingin menguasai Thailand yang subur, karena di negerinya yang dataran tinggi tidak baik untuk bercocok tanam. "Di masa lalu kami hampir 400 kali berperang dengan bangsa Myamnar," kata pak Cit.

Karena keindahannya Wath Arun menjadi salah satu objek wisata wajib di Bangkok. Turis Indonesia juga banyak yang sering ke sini. Tetapi, tambahnya, umumnya tujuan mereka lain. Bukannya melihat keindahan candi, tetapi untuk belanja di pasar murah pinggir kompleks candi. Dan terbukti, kami memang akhirnya tak sempat masuk, karena waktu habis untuk berbelanja.

Pulangnya kami mengunjungi sebuah toko penjualan permata. Thailand, konon, memang terkenal dengan kerajinan permatanya. Di sana kami dapat melihat berbagai batu mulia seperti diamond, shapir, giok dan lain-lain. Beberapa orang berbelanja di sana, tetapi tidak banyak. Kemarin, sebelum ke Bangkok, kami sempat juga diajak ke toko serupa oleh Lex, sehingga banyak diantara kami yang sudah membeli. Saya sendiri tak terlalu tertarik. Saya pikir, saya belum membutuhkannya. Hari itu kegiatan hanya sampai di situ. Kami kemudian pulang menuju hotel. Saya sudah mulai lelah.

Ke Pusat Penelitian Pertanian Organik

Jumat, kami diagendakan untuk mengunjungi sebuah pusat penelitian dan pengembangan pertanian terpadu organik di sebuah provinsi yang tidak bisa saya ingat namanya. Letaknya cukup jauh dari Bangkok, sekitar 3 jam. Tak banyak yang kami dapat di sana, selain keterpaduan antara peternakan (sebagai sumber pupuk kandang), pertanian, dan perikanan. Saya cukup tertarik dengan pemeliharaan ikan secara organik, yang tidak membutuhkan lahan yang luas. Selain dari itu, pengelolaannya tak beda jauh dengan di Indonesia.

Pulang dari sana, kami sempat mampir di sebuah pasar buah --salah satu dari 4 pasar buah terbesar di Bangkok. Sayangnya hujan turun sangat deras, menghalangi kita untuk turun. Akhirnya perjalanan diteruskan ke showroom sutra milik keluarga Shinawatra. Rupanya, sang Perdana Menteri adalah pengusaha sutera juga. Kata Dadung, "Alus keneh nu urang di Pangalengan". Setelah itu, sempat pula singgah di sebuah pusat penjualan kulit. Tetapi tak terlalu menarik.

Malamnya adalah malam terakhir kami bisa bejalan-jalan di Bangkok, karena besok kami harus pulang ke Jakarta. Maka saya menyempatkan diri untuk jalan-jalan di sekitar hotel, melihat-lihat para pedagang kaki lima yang banyak mangkal di sana. Bangkok, ternyata sangat aman. Tak ada preman atau orang mabuk berkeliaran di jalanan. Bahkan lokasi pedagang kaki lima pun sangat bersih, tidak kumuh. Sesekali saya mampir pura-pura mau beli bila melihat pedagangnya cantik.

Tersesat di Chatuchak

Esoknya, guide mengajak kami mengunjungi penangkaran ular. Ada bermacam-macam ular di sana, dan tentunya yang paling terkenal adalah King Cobra. Ada sedikit atraksi disana, namun ujung-ujungnya kami ditawarin berbagai obat dari ular. Rombongan, yang kebanyakan uangnya sudah habis, malah pada kabur.

Lepas dari sana, kami dibebaskan menetukan tujuan. Beberapa orang memilih Chatuchak, sebuah pasar tradisional terbesar di Bangkok. Sebenarnya pilihan ini sempat menimbulkan polemik di antara rombongan. Entah mengapa, guide kami sepertinya sangat keberatan dengan tujuan ini. Mereka menakut-nakuti bahwa keamanan di sana tak terjamin karena banyak copetnya. Tentu saja sebagian rombongan menjadi takut. Tetapi sebagian lain tetap ngotot. Malam sebelum berangkat, kebetulan Lex datang ke Hotel, dan kami menayakan hal tersebut kepadanya. Lex mengatakan, "Copet itu ada di mana-mana, di negara anda maupun di negara kami. Tinggal bagaimana kewaspadaan kita. Pegang dompet anda erat-erat, sehingga tak ada seorang pun yang bisa mengambilnya dari anda. Jangan khawatir, saya setiap minggu ke sana, dan tak pernah ada masalah". Maka akhirnya kami pun sepakat ke Chatuchak.

Chatuchak adalah sebuah pasar yang besar. Mungkin sebanding dengan Tanah Abang di Jakarta. Di sini dijual apa saja, termasuk cendera mata. Makanya banyak juga turis-turis yang berkunjung. Kami diberi waktu 2 jam di pasar itu. Semula, saya bertiga dengan Dadung dan Saepudin. Tadinya bermaksud membeli oleh-oleh yang dirasa belum cukup. Karena keasyikan, saya masuk terlalu dalam dan terpisah dari rombongan. Terpikir pulangnya akan mudah, dengan menelusuri jalan ketika masuk. Tetapi celaka, ketika mencari jalan pulang, saya tersesat. Mencoba bertanya, tetapi tak banyak yang mengerti bahasa Inggris di sana. Saya mulai panik karena sudah lewat dari waktu yang diberikan oleh guide. Untung sempat ngirim sms terakhir ke Dadung --Urang nyasar, dagoan tong ditinggalkeun! Hampir saya menyerah. Untungnya ada seorang polantas yang mengerti apa yang saya katakan. Dia lantas membantu menstopkan sebuah taksi.

Tiba di bus, semua orang mengomel, "Dari mana aja kamu?". Saya hanya nyengir.

Tujuan terakhir adalah Ma Bung Krong (MBK). Sebuah pusat perbelanjaan modern di Bangkok, mungkin sekelas Blok M. Karena tak ingin tersesat lagi, saya tak masuk terlalu jauh. Tetapi sempat membeli sebuah baju khas Thailand seperti yang sering dipake Lex, dengan Baht yang tersisa.

Pulang

Image hosted by Photobucket.com Setelah sempat naik MRT, pukul 5 sore kami menuju Dong Muang. Saya mulai kembali dicekam perasaan takut terbang. Beberapa orang ternyata membawa banyak sekali oleh-oleh. Pak Rudi bahkan membawa berdus-dus. Ketika saya tanyakan isinya, ternyata adalah anggrek. "Untuk dijual di Indonesia," katanya. Pak Rudi memang petani anggrek.

Kami take off tepat pukul delapan malam. Bersama dengan rombongan kami ada juga rombongan TKI yang mudik dari Dubai. Mereka masih muda dan nampak polos. Yang menyedihkan saya adalah kebanyakan mereka orang Sunda. Umumnya dari Cianjur dan Indramayu. Seorang duduk disamping Saepudin. Dia seorang janda satu anak dari Indramayu. Menjadi TKI adalah pilihan terbaik, katanya. Karena pilihan yang tersisa cuma jadi PSK!

Saya semakin sedih, ketika mengingat betapa kerja keras dan pengorbanan mereka sering menjadi lahan pemerasan oleh oknum-oknum bangsa kita juga. Oleh oknum Depnaker, PJTKI, bahkan para sopir dan calo. Saya sedih, betapa bangsa kita dengan mudah kehilangan hati, hanya karena kesulitan hidup yang mendera.

Pukul 24.00 kami sampai kembali di Jakarta.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

wah rupanya lama gak nampak ternyata di thailand ya pak. semoga banyak mendapatkan manfaat buat lingkungan Indonesia yah

-maknyak-
http://serambirumahkita.blogspot.com