Selasa, Desember 15, 2015

Seputar Anjuran Mengkonsumsi Jeruk Nipis & Lemon di Pagi Hari vs Pasien Gastritis atau Tukak Lambung


Pada dasarnya, semua jenis JERUK itu termasuk buah alkalis atau basa di lambung, tanpa dicampur air minum hangat atau bergumul air liur sekalipun.

Rasa asamnya pun termasuk asam organik, bukan termasuk asam non-organik seperti asam pada cuka, yg dapat merangsang asam lambung tinggi & dapat mencederai lapisan lambung (mukosa) sehingga timbul rasa perih.

Namun kandungan asam sitratnya yg tinggi dapat mengganggu atau melukai kondisi lambung yg sedang mengalami perlukaan atau peradangan, seperti pada pasien Gastritis atau Tukak Lambung sehingga timbul rasa perih (WALAUPUN diminum sedikit).

Apalagi diminum di pagi hari ketika perut kosong, ketika lambung sedang “Lemah”, selain membuat perut perih juga memicu sensitivitas lambung bermasalah dalam mengeluarkan asam lambung sehingga timbul gejala refluks seperti sakit ulu hati, heartburn, sakit & panas dada, tenggorokan mengganjal dll dikemudian waktu, biasanya setelah makan, khususnya pasien Gastritis atau Tukak Lambung (terutama bagi yang sudah endoskopi).

Terlebih, PADA AWALNYA anjuran minum jeruk nipis atau lemon peras yg tercampur dengan air hangat di pagi hari sebelum sarapan, sebenarnya dimaksudkan sebagi Tonic bagi Liver yg sudah bermetabolisme & mendetoksifikasi racun dalam tubuh semalaman.

Manfaatnya bagi lambung?? SEDIKIT (jika hanya dikonsumsi setengah potong jeruk+air hangat), namun resikonya yang lebih banyak & besar, seperti yg dijelaskan di atas sebelumnya.

Memang Jeruk Nipis & Lemon termasuk buah tinggi Vitamin C. Vitamin ini bertindak sebagai kofaktor dalam produksi kolagen, serta mencegah pecahnya luka- luka yang sudah sembuh. Vitamin C dibutuhkan untuk dikonsumsi pasien Gastritis atau Tukak Lambung (Termasuk Pasien Gangguan Pencernaan lainnya seperti Maag, GERD dll) yg bisa didapat dari sayur & buah alami (saya tidak menganjurkan dengan suplemen sintetis kimia Vitamin C pasaran).

Pilihan sayur & buah tinggi vitamin C yg relatif aman bagi pasien Gastritis atau Tukak Lambung (termasuk pasien gangguan pencernaan lainnya) diantaranya: Tomat Manis, Bayam, Brokoli, Semangka, Melon, Bengkoang, Apel Hijau (Granny Smith)/Fuji, Kentang, Pepaya dll

Dengan mengkonsumsi buah & sayur tersebut setiap hari, JELAS lebih banyak bermanfaat, lebih aman & lebih efektif dibanding kita mengkonsumsi “seuprit” jeruk nipis & lemon di pagi hari (belum lagi resiko yg ditimbulkan setelahnya).

Karena proses pemulihan pasien Gastritis atau Tukak Lambung itu berjalan membutuhkan waktu yg tidak sebentar, melibatkan semua unsur pola hidup & pola makan yg sehat & tepat, tidak hanya terpaku pada 1 bentuk terapi seperti anjuran minum air Jeruk Nipis/Lemon di pagi hari, yg terkadang saya temukan di grup ini, yg terkadang membuat saya geli grin emoticon

Buah dengan kandungan asam sitrat tinggi lainnya: Buah Mangga, Nanas, Berry2an (Strawberry, Blueberry dll), Belimbing Wuluh dan lainnya.

Selama pengobatan, selain menghindari buah tinggi asam sitrat, sebaiknya pasien Gastritis atau Tukak Lambung juga menghindari atau berhati-hati dengan:
  1. Buah berkalium tinggi : alpukat, pisang (jika ingin, pisang direbus/ kukus untuk menurunkan kaliumnya) pisang ambon kadar kaliumnya paling tinggi diantara pisang lain, makanya dilarang, sebaiknya hanya pilih pisang raja, karena mengandung glukosa yg baik bagi lambung. 
  2. Makanan berpurin tinggi : daging bebek, jeroan, semua produk seafood (terkadang purin pada tahu & tempe bisa jd problem)
  3. Makanan bertekstur “keras” seperti sayur mentah/ fresh (Rawfood) : Lebih menciptakan gass pressure tinggi di perut yg bikin kembung, sebah dll. Termasuk makanan bertekstur keras lain seperti batu, pasir & kerikil (kalau doyan) grin emoticon
  4. Makanan & Minuman Instan (biskuit, roti, “susu” kambing bubuk dll) dan aneka pantangan makanan klenik lain. Contoh : Pegawet & pengembang (beserta zat kimia lain) pada biskuit & roti, jika tercampur dengan asam lambung (digest proccess) akan menjadi semacam “soda api” yg dapat melukai & memperlebar peradangan atau perlukaan di lapisan lambung (mukosa)
  5. Buah tinggi asam sitrat: Buah Mangga, Nanas, Berry2an (Strawberry, Blueberry dll), Belimbing Wuluh dan lainnya

Karena jenis makanan di atas, selain beresiko membuat perut sakit, juga beresiko melebarkan peradangan atau perlukaan pasien Gastritis atau Tukak lambung, sehingga mengganggu proses peremajaan penyembuhan lapisan lambung (mukosa) & proses penyembuhan lama.

*Saya gak apa2 dan gak perih; sakit perut minum jeniper/ lemon dll? Biasanya itu statement penderita non gastritis dan biasanya belum melakukan endoskopi, pasien Gastritis atau Tukak Lambung itu terjadi penyusutan lapisan lambung (mukosa), secara medis tingkatannya Gastritis Erossive, Kronis, Superfisial, Atrofik, Peptic Ulcer dll. Jangan mau disamakan dengan pasien non-Gastritis, karena penanganan; perawatannya berbeda, jelas pemilihan kebutuhan nutrisinya juga berbeda.

Rabu, November 11, 2015

Menilik Kisah Cinta Sang Kembang Mangkunegaran

Pada tanggal 10 Nopember 2015 kemarin, Gusti Nurul, sang kembang Mangkunegaran meninggal dunia di Bandung pada usia 94 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Astana Girilayu, Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah. Astana Girilayu merupakan pemakaman dari keluarga besar trah Mangkunegaran. Siapakah tokoh yang pernah menarik hati para tokoh-tokoh besar negeri ini tersebut?

Gusti Nurul yang cantik dan cerdas ini memang cukup menarik untuk disimak. Beliau dilahirkan pada 1921 oleh GKR Timur Mursudariyah (putri sultan Jogja Hamengkubuwono VII), yang merupakan permaisuri HRH Mangkunegoro VII.

Saat lahir orangtuanya memberinya nama Gusti Raden Ajeng Siti Nurul Kamaril Ngarasati Kusumawardhani. Meski tumbuh dibalik tembok keraton, sang putri yang disekolahkan di sekolah Belanda, memiliki gaya dan pandangan hidup yang terhitung amat modern untuk masanya.

Selain itu sebagai seorang putri keraton yang anggun, beliau tentu mahir menari. Tahun 1937, Gusti Nurul diundang ke Belanda untuk menari di pernikahan Putri Juliana yang dilakukan secara teleconference, yaitu musik gamelan Kanjut Mesem dimainkan di Solo sedangkan Gusti Nurul mendengarkan alunan gamelan melalui telepon dan menari dihadapan tamu undangan pernikahan.

Karena sambungan telepon pada masa itu masih belum sebaik sekarang maka sang Ibu masih memberikan aba-aba secara langsung berupa ketukan-ketukan. Ratu Wilhelmina yang kagum pada Gusti Nurul memberinya gelar de bloem van Mangkunegaran atau kembang dari Mangkunegara.

Dengan segenap kelebihan tersebut, tak heran Gusti Nurul menjadi bunga gemerlap. Tak cuma orang kebanyakan yang takjub. Sedikitnya, ada empat figur top yang menjadi penggemar Gusti Nurul bahkan mereka juga berlomba memperebutkannya. Mereka adalah Soekarno, Sultan Hamengkubuwono IX, Sutan Sjahrir dan Kolonel GPH Djatikusumo. Pada saat itu Soekarno orang nomor satu di republik, Sultan HB IX orang nomor satu di Jogja, Sutan Sjahrir perdana menteri dan Djatikusumo adalah panglima tentara (KSAD).

Begitu kagumnya pada Gusti Nurul, suatu ketika Soekarno mengundangnya ke Istana Cipanas, begitu revolusi usai. Pada saat yang sama, Soekarno juga memanggil pelukis naturalis kesayangannya, Basuki Abdullah. Basuki dimintanya melukis Gusti Nurul. Setelah jadi, lukisan itu pun dipajang di kamar kerja Presiden Soekarno di Cipanas.

Pada setiap rapat kabinet yang digelar di Yogyakarta pada tahun 1946, Sutan Sjahrir selalu mengutus sekretaris pertamanya, Siti Zoebaedah Osman, ke Puri Mangkunegaran, untuk secara khusus mengantarkan kado yang dibelinya dari Jakarta. Bersama kado tersebut, ia juga lampirkan sepucuk surat tulisan tangan dari Sjahrir.

Hubungan kisah cinta Sutan Sjahrir dengan Gusti Nurul lebih banyak melalui korespondensi. Menurut Gusti Nurul sendiri, Sjahrir tidak pernah menemuinya di Istana Mangkunegaran.

Tetapi karena ia menentang pernikahan poligami, Gusti Nurul secara halus menampik semua uluran cinta kasih dari Soekarno, Sultan HB IX, Djatikusumo dan juga tentunya Sutan Sjahrir. Mungkin pengalaman hidup di Istana, dimana ayahnya punya banyak istri membuatnya pantang dimadu.

Konon karena cintanya terhadap Gusti Nurul yang bertepuk sebelah tangan, Sri Sultan HB IX memutuskan untuk tidak memiliki permaisuri, hanya selir saja. Karena beliau menginginkan yang menjadi permaisurinya adalah Gusti Nurul. Dan penerusnya, Sri Sultan HB X adalah putra dari selir ke dua beliau.

Namun bagaimanapun juga, Gusti Nurul tetap menghormati sosok-sosok yang pernah menaruh hati padanya.Demi menentukan pilihan yang diyakininya, Gusti Nurul pun sanggup membujang hingga umur 30 tahun. Usia gadis yang akan bikin orang geleng-geleng kepala ketika itu. Beliau berjuang untuk apa yang beliau yakini terbaik untuk dirinya.

Hebatnya, beliau tak peduli apa kata orang. Baru pada tahun 1951, Gusti Nurul menikah. Yang dipilihnya pun bukan nama besar dengan figur mentereng. Gusti Nurul memilih sepupunya sendiri, Soerjo Soejarso, seorang kolonel militer.   Walau lulusan KMA Breda (lulus 1939), Kolonel Soejarso bukanlah sosok menonjol dalam tubuh TNI. Ia hanya perwira di belakang meja yang diparkir Nasution di detasemen Kavaleri.

Karakternya lembut, dengan tutur kata sopan, khas didikan keluarga aristokrat. Tapi mungkin memang bukan karir yang dicari Gusti Nurul. Toh terbukti, kehidupan keluarganya aman dan damai, sampai akhirnya mereka menjalani hari tua di kota Bandung, kota dimana Soejarso pernah menghabiskan waktu menjadi guru bagi Nasution dan Simatupang, menjadi instruktur pada KMA Bandung.

Saat ini, tak susah untuk menyusuri jejak keayuan masa lalu Gusti Nurul. Datang saja ke Ullen Sentalu yang terletak di lereng Merapi, utara Kota Yogyakarta sebelum Kaliurang. Di museum itu ada ruangan khusus bertajuk Ruang Putri Dambaan yang berisi berbagai memorabilia wanita yang ayu dan kuat tersebut. Hanya sayang, orang tak dibolehkan menjepret ulang foto ayu sang putri. Ruangan ini diresmikan sendiri oleh Gusti Nurul pada hari ulang tahunnya yang ke 81.

Sumber: Semarang Tempo Dulu


Kamis, Juli 09, 2015

Penyembuhan Sakit dengan Alumunium Foil


Jika Anda menderita sakit di leher, punggung, bahu, lutut, dan tumit, cobalah dengan membungkus daerah tersebut dengan beberapa aluminium foil.  Dan trada ... rasa sakit akan segera hilang!

PENGGUNAAN aluminium foil untuk metoda penyembuhan banyak dipraktekkan oleh penyembuh Cina dan Rusia. Praktek telah menunjukkan bahwa aluminium foil dapat digunakan sebagai alat penyembuhan alternatif, di mana ia harus digunakan dengan sangat hati-hati.

Penyembuhan dengan Aluminium foil diterapkan dalam pengobatan berbagai jenis rasa sakit, termasuk rasa sakit di leher, punggung, lengan, kaki, sendi, panggul, rheumatoid arthritis, tumit, dan penumpukan garam. Dapat juga digunakan dalam pengobatan bekas luka pascaoperasi dan asam urat.

Caranya dengan menempatkan sepotong foil pada bekas luka atau bungkus ibu jari Anda dengan beberapa foil dan bungkus dengan perban. Untuk mengobati asam urat, menurut penyembuh Cina, harus berlangsung selama 10-12 jam.  Tempatkan sepotong aluminium foil di tempat yang sakit satu malam. Setelah itu hentikan selama 1-2 minggu. Ulangi pengobatan jika diperlukan.

Aluminium foil juga memiliki efek anti-inflamasi yang kuat.  Ia dapat membantu Anda mengurangi demam.  Caranya: bungkus kaki Anda dengan 5-7 lapisan foil, dan tempatkan selembar kertas atau kain katun antara setiap lapisan. Tekan selama satu jam, setelah itu lepaskan.  Letakkan lagi setelah 2 jam selama satu jam, dan lepaskan. Anda harus mengulanginya sebanyak tiga kali. Seluruh prosedur berlangsung selama seminggu.

Bagaimana penjelasannya?  Kira-kira begini:

Bioenergi yang mengalir dalam tubuh kita di titik biologis aktif, akan terpantul oleh permukaan alumunium foil kembali ke meridian, di mana mereka pertama kali berasal.  Ini memiliki efek positif pada organ yang terkait dengan meridian tersebut. Dengan cara ini Anda dapat memecahkan masalah kesehatan dan mengurangi rasa sakit.  Metode penyembuhan ini dijelaskan dalam buku-buku dari Wilhelm Reich, seorang psikoterapis dan mahasiswa Sigmund Freud.

Namun, kebanyakan orang masih berdebat bagaimana perawatan ini bekerja.  Beberapa mendasarkannya pada ilmu pengetahuan, yang lain menjelaskannya dengan mengacu pada bioenergi.

AV Skvorcov, seorang ilmuwan Rusia, mengatakan:

"Tubuh manusia memiliki sel induk khusus yang terus-menerus terhubung dengan bidang bumi. Karena berbagai sebab, bidang ini terdeformasi, yang mempengaruhi aliran energi yang dibawa ke sel induk.  Aluminium foil memantulkan bidang bumi tersebut sama seperti kaca pembesar dengan fokus yang sangat besar, yang menjadikannya meningkat beberapa kali, yang memungkinkan memulihkan interaksi terganggu antara sel-sel dan bidang bumi tersebut. Selain itu, permukaan terang mencegah penetrasi radiasi eksternal yang buruk dalam tubuh manusia dan juga akumulasi radiasi."

Lebih lanjut tentang artikel2 kesehatan di http://ruangsehat.net/

Kujang, Senjata Tradisional Sunda

Kujang, Senjata Tradisional Sunda
Kujang, Senjata Tradisional Sunda
Kujang adalah senjata tradisional masyarakat Sunda yang dianggap memiliki nilai sakral serta mempunyai kekuatan magis. Konon, kujang berasal dari kata Kudi-hyang. Kudi dan Hyang.

Kudi dalam bahasa Sunda Kuno berarti senjata sakti dan mempunyai kekuatan gaib.  Senjata ini disimpan sebagai pusaka.  Berfungsi sebagai jimat dan penolak bala. Misalnya untuk menghalau musuh atau melindungi rumah dari bahaya dengan meletakkannya di dalam sebuah peti atau tempat tertentu di dalam rumah atau dengan meletakkannya di atas tempat tidur.

Hyang adalah kekuatan supra natural yang dapat disejajarkan dengan pengertian Dewa dalam mitologi. Namun bagi masyarakat Sunda, Hyang mempunyai arti dan kedudukan di atas Dewa. Dalam ajaran “Dasa Prebakti” yang disebut pada naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian disebutkan “Dewa bakti di Hyang”.

Secara umum, Kujang dapat diartikan sebagai pusaka  dan senjata yang mempunyai kekuatan gaib yang berasal daripara dewa (=Hyang).

Sejak dahulu hingga saat ini Kujang menempati satu posisi yang sangat khusus di kalangan masyarakat Jawa Barat (Sunda). Sebagai lambang atau simbol dengan niali-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, Kujang dipakai sebagai salah satu estetika dalam beberapa lambang organisasi serta pemerintahan.

Di samping itu, Kujang pun dipakai pula sebagai sebuah nama dari berbagai organisasi, kesatuan dan tentunya dipakai pula oleh Pemda Propinsi Jawa Barat.

Bentuk dan Fungsi Kujang

Kujang cenderung tipis. Bahannya bersifat kering, berpori dan banyak mengandung unsur logam alam. Bentuknya unik. Memiliki sisi tajaman dan nama bagian, yaitu: papatuk/congo (ujung kujang yang menyerupai panah), eluk/silih (lekukan pada bagian punggung), tadah (lengkungan menonjol pada bagian perut) dan mata (lubang kecil yang ditutupi logam emas dan perak).

Disebutkan dalam Pantun Bogor, kujang memiliki beragam fungsi dan bentuk. Berdasarkan fungsi, kujang terbagi empat yaitu:
1. Kujang Pusaka yang merupakan lambang keagungan dan pelindungan keselamatan,
2. Kujang Pakarang yang digunakan untuk berperang,
3. Kujang Pangarak digunakan sebagai alat upacara, dan
4. Kujang Pamangkas yang digunakan sebagai alat berladang.

Sedangkan berdasarkan bentuk bilah, antara lain:
1. Kujang Jago, yaitu menyerupai bentuk ayam jantan,
2. Kujang Ciung, yaitu yang menyerupai burung ciung,
3. Kujang Kuntul, yaitu menyerupai burung kuntul/bango,
4. Kujang Badak,  yaitu menyerupai badak,
5. Kujang Naga, yaitu menyerupai binatang mitologi naga
6. Kujang Bangkong, yaitu menyerupai kodok.

Di samping itu terdapat pula tipologi bilah kujang berbentuk wayang kulit dengan tokoh wanita sebagai simbol kesuburan.

Di masa lalu Kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda karena fungsinya sebagai peralatan pertanian. Ini disebut dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda NgKaresian yang ditulis pada 1518 M. 

Beberapa tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah di antaranya di daerah Rancah, Ciamis juga memperkuat hal tersebut.  Kujang sebagai peralatan berladang masih dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy, Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi.

Dengan perkembangan kemajuan, teknologi, budaya, sosial dan ekonomi masyarakat Sunda, Kujang pun mengalami perkembangan dan pergeseran bentuk, fungsi dan makna.

Dari sebuah peralatan pertanian, kujang berkembang menjadi sebuah benda yang memiliki karakter tersendiri dan cenderung menjadi senjata yang bernilai simbolik dan sakral.  Wujud baru kujang tersebut seperti yang kita kenal saat ini diperkirakan lahir antara abad 9 sampai abad 12.

Kujang bukan sekadar senjata pusaka. Kujang merupakan simbol ajaran ketuhanan tenang asal usul alam semesta yang dijadikan dasar konsepsi sistem ketatanegaraan Sunda purba. Bentuknya merupakan manifestasi wujud manusia sebagai ciptaan yang sempurna. Wujud kujang merupakan manifestasi alam semesta.

Sabtu, Juni 06, 2015

Apa Hubungan Kerajaan Panjalu Jawa Timur dengan Panjalu Ciamis?

Patung Ken Arok
Kerajaan Bedahulu Bali dinasti Warmadewa

Raja pertama dari Kerajaan Bedahulu Bali dinasti Warmadewa adalah Aji Tabanendra Warmadewa. Raja ini memerintah tahun 955 – 967 M bersama istrinya, Sang Ratu Luhur Sri Subhadrika Dharmadewi.

Penggantinya adalah Jayasingha Warmadewa. Raja inilah yang membuat telaga (pemandian) dari sumber suci di desa Manukraya. Pemandian itu disebut Tirta Empul, terletak di dekat Tampaksiring. Raja Jayasingha Warmadewa memerintah sampai tahun 975 M.

Raja Jayasingha digantikan oleh Janasadhu Warmadewa. Ia memerintah tahun 975 – 983 M. Tidak ada keterangan lain yang dapat diperoleh dari raja ini, kecuali tentang anugerah raja kepada desa Jalah.

Pada tahun 983 M, muncul seorang raja wanita, yaitu Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi (983 – 989 M).

Pengganti Sri Wijaya Mahadewi bernama Dharma Udayana Warmadewa. Ia memerintah bersama permaisurinya, Gunapriya Dharmapatni atau lebih dikenal dengan nama Mahendradatta, putri dari Raja Makutawangsawardhana dari Jawa Timur. Sebelum naik takhta, diperkirakan Udayana berada di Jawa Timur sebab namanya tergores dalam prasasti Jalatunda.

Pada tahun 1001 M, Gunapriya meninggal dan dicandikan di Burwan. Udayana meneruskan pemerintahannya sendirian hingga wafat pada tahun 1011 M. Ia dicandikan di Banuwka. Hal ini disimpulkan dari prasasti Air Hwang (1011) yang hanya menyebutkan nama Udayana sendiri. Adapun dalam prasasti Ujung (Hyang) disebutkan bahwa setelah wafat, Udayana dikenal sebagai Batara Lumah di Banuwka.

Raja Udayana mempunyai tiga orang putra, yaitu Airlangga, Marakata, dan Anak Wungsu. Airlangga tidak pernah memerintah di Bali karena menjadi menantu Dharmawangsa di Jawa Timur. Oleh karena itu, yang menggantikan Raja Udayana dan Gunapriya adalah Marakata. Setelah naik takhta, Marakata bergelar Dharmawangsawardhana Marakata PangkajasthanaUttunggadewa. Marakata memerintah dari tahun 1011 hingga 1022. Masa pemerintahan Marakata sezaman dengan Airlangga.

Kerajaan Panjalu (Kediri) di Jawa Timur

Airlangga

Pendiri Kerajaan Kahuripan adalah Airlangga atau sering pula disingkat Erlangga, yang memerintah tahun 1009-1042, dengan gelar abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa. Nama Airlangga berarti air yang melompat. Ia lahir tahun 990. Ibunya bernama Mahendradatta, seorang putri Wangsa Isyana dari Kerajaan Medang. Ayahnya bernama Udayana, raja Kerajaan Bedahulu, Bali dari Wangsa Warmadewa.

Airlangga memiliki dua orang adik, yaitu Marakata (menjadi raja Bali sepeninggal ayah mereka) dan Anak Wungsu (naik takhta sepeninggal Marakata).

Berdasarkan Babad Arya Gajah Bali A Sri Airlangga memiliki keturunan dua laki-laki utama, yang ketiga putri di luar istana. Putra tertua itu bernama Sri Jayabhaya, dan Sri Jayashaba, lahir dari ibu permaisuri.

Menurut Prasasti Pucangan, pada tahun 1006 Airlangga menikah dengan putri pamannya yaitu Dharmawangsa (saudara Mahendradatta) di Watan, ibu kota Kerajaan Medang. Tiba-tiba kota Watan diserbu Raja Wurawari dari Lwaram, yang merupakan sekutu Kerajaan Sriwijaya. Dalam serangan itu, Dharmawangsa tewas, sedangkan Airlangga lolos ke hutan pegunungan (wanagiri) ditemani pembantunya yang bernama Mpu Narotama. Saat itu ia berusia 16 tahun, dan mulai menjalani hidup sebagai pertapa. Salah satu bukti petilasan Airlangga sewaktu dalam pelarian dapat dijumpai di Sendang Made, Kudu, Jombang, Jawa Timur.

Nama kerajaan yang didirikan Airlangga pada umumnya lazim disebut Kerajaan Kahuripan. Padahal sesungguhnya, Kahuripan hanyalah salah satu nama ibukota kerajaan yang pernah dipimpin Airlangga. Setelah tiga tahun hidup di hutan, Airlangga didatangi utusan rakyat yang memintanya supaya membangun kembali Kerajaan Medang. Mengingat kota Watan sudah hancur, Airlangga pun membangun ibukota baru bernama Watan Mas di dekat Gunung Penanggungan. Nama kota ini tercatat dalam Prasasti Cane (1021).

Menurut Prasasti Terep (1032), Watan Mas kemudian direbut musuh, sehingga Airlangga melarikan diri ke desa Patakan. Berdasarkan prasasti Kamalagyan (1037), ibu kota kerajaan sudah pindah ke Kahuripan (daerah Sidoarjo sekarang).

Menurut Prasasti Pamwatan (1042), pusat kerajaan kemudian pindah ke Daha (daerah Kediri sekarang). Berita ini sesuai dengan naskah Serat Calon Arang yang menyebut Airlangga sebagai raja Daha. Bahkan, Nagarakretagama juga menyebut Airlangga sebagai raja Panjalu yang berpusat di Daha.

Ketika Airlangga naik takhta tahun 1009, wilayah kerajaannya hanya meliputi daerah Sidoarjo dan Pasuruan saja, karena sepeninggal Dharmawangsa, banyak daerah bawahan yang melepaskan diri. Mula-mula yang dilakukan Airlangga adalah menyusun kekuatan untuk menegakkan kembali kekuasaan Wangsa Isyana atas pulau Jawa.

Pada tahun 1023 Kerajaan Sriwijaya yang merupakan musuh besar Wangsa Isyana dikalahkan Rajendra Coladewa, Raja Colamandala dari India. Hal ini membuat Airlangga merasa lebih leluasa mempersiapkan diri menaklukkan pulau Jawa. Penguasa pertama yang dikalahkan oleh Airlangga adalah Raja Hasin. Pada tahun 1030 Airlangga mengalahkan Wisnuprabhawa Raja Wuratan, Wijayawarma Raja Wengker, kemudian Panuda Raja Lewa.

Pada tahun 1031 putera Panuda mencoba membalas dendam namun dapat dikalahkan oleh Airlangga. Ibu kota Lewa dihancurkan pula.

Pada tahun 1032 seorang raja wanita dari daerah Tulungagung sekarang berhasil mengalahkan Airlangga. Istana Watan Mas dihancurkannya. Airlangga terpaksa melarikan diri ke Desa Patakan ditemani Mapanji Tumanggala. Airlangga membangun ibu kota baru di Kahuripan. Raja wanita itu akhirnya dapat dikalahkannya. Dalam tahun 1032 itu pula Airlangga dan Mpu Narotama mengalahkan Raja Wurawari, membalaskan dendam Wangsa Isyana.

Terakhir, pada tahun 1035 Airlangga menumpas pemberontakan Wijayawarma Raja Wengker yang pernah ditaklukannya dulu. Wijayawarma melarikan diri dari kota Tapa namun kemudian mati dibunuh rakyatnya sendiri.

Setelah keadaan aman, Airlangga mulai mengadakan pembangunan-pembangunan demi kesejahteraan rakyatnya. Pembangunan yang dicatat dalam prasasti-prasasti peninggalannya antara lain.

Membangun Sri Wijaya Asrama tahun 1036. Membangun Bendungan Waringin Sapta tahun 1037 untuk mencegah banjir musiman. Memperbaiki Pelabuhan Hujung Galuh, yang letaknya di muara Kali Brantas, dekat Surabaya sekarang. Membangun jalan-jalan yang menghubungkan daerah pesisir ke pusat kerajaan. Meresmikan pertapaan Gunung Pucangan tahun 1041. Memindahkan ibukota dari Kahuripan ke Daha.

Airlangga juga menaruh perhatian terhadap seni sastra. Tahun 1035 Mpu Kanwa menulis Arjuna Wiwaha yang diadaptasi dari epik Mahabharata. Kitab tersebut menceritakan perjuangan Arjuna mengalahkan Niwatakawaca, sebagai kiasan Airlangga mengalahkan Wurawari.

Pada tahun 1042 Airlangga turun takhta menjadi pendeta. Menurut Serat Calon Arang ia kemudian bergelar Resi Erlangga Jatiningrat, sedangkan menurut Babad Tanah Jawi ia bergelar Resi Gentayu. Namun yang paling dapat dipercaya adalah prasasti Gandhakuti (1042) yang menyebut gelar kependetaan Airlangga adalah Resi Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Bhuwana.

Menurut cerita rakyat, putri mahkota Airlangga menolak menjadi raja dan memilih hidup sebagai pertapa bernama Dewi Kili Suci. Nama asli putri tersebut dalam prasasti Cane (1021) sampai Prasasti Turun Hyang (1035) adalah Sanggramawijaya Tunggadewi.

Menurut Serat Calon Arang, Airlangga kemudian bingung memilih pengganti karena kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. Mengingat dirinya juga putra raja Bali, maka ia pun berniat menempatkan salah satu putranya di pulau itu. Gurunya yang bernama Mpu Bharada berangkat ke Bali mengajukan niat tersebut namun mengalami kegagalan.

Fakta sejarah menunjukkan Udayana digantikan putra keduanya yang bernama Marakata sebagai Raja Bali, dan Marakata kemudian digantikan adik yang lain yaitu Anak Wungsu.

Airlangga terpaksa membagi dua wilayah kerajaannya. Mpu Bharada ditugasi menetapkan perbatasan antara bagian barat dan timur. Peristiwa pembelahan ini tercatat dalam Serat Calon Arang, Nagarakretagama, dan Prasasti Turun Hyang II. Maka terciptalah dua kerajaan baru. Kerajaan barat disebut Panjalu atau Kadiri berpusat di kota baru, yaitu Daha, diperintah oleh Sri Samarawijaya. Sedangkan kerajaan timur bernama Janggala berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan, diperintah oleh Mapanji Garasakan.

Dalam prasasti Pamwatan, 20 November 1042, Airlangga masih bergelar Maharaja, sedangkan dalam Prasasti Gandhakuti, 24 November 1042, ia sudah bergelar Resi Aji Paduka Mpungku. Dengan demikian, peristiwa pembelahan kerajaan diperkirakan terjadi di antara kedua tanggal tersebut. Tidak diketahui dengan pasti kapan Airlangga meninggal.

Prasasti Sumengka (1059) peninggalan Kerajaan Janggala hanya menyebutkan, Resi Aji Paduka Mpungku dimakamkan di tirtha atau pemandian.

Kolam pemandian yang paling sesuai dengan berita prasasti Sumengka adalah Candi Belahan di lereng Gunung Penanggungan. Pada kolam tersebut ditemukan arca Wisnu disertai dua dewi. Berdasarkan Prasasti Pucangan (1041) diketahui Airlangga adalah penganut Hindu Wisnu yang taat. Maka, ketiga patung tersebut dapat diperkirakan sebagai lambang Airlangga dengan dua istrinya, yaitu ibu Sri Samarawijaya dan ibu Mapanji Garasakan.

Pada Candi Belahan ditemukan angka tahun 1049. Tidak diketahui dengan pasti apakah tahun itu adalah tahun kematian Airlangga, ataukah tahun pembangunan candi pemandian tersebut.

Maharaja Jayabhaya

Maharaja Jayabhaya adalah Raja Kadiri yang memerintah sekitar tahun 1135-1157. Nama gelar lengkapnya adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa. Pemerintahan Jayabhaya dianggap sebagai masa kejayaan Kadiri. Peninggalan sejarahnya berupa prasasti Hantang (1135), prasasti Talan (1136), dan prasasti Jepun (1144), serta Kakawin Bharatayuddha (1157).

Pada prasasti Hantang, atau biasa juga disebut prasasti Ngantang, terdapat semboyan Panjalu Jayati, yang artinya Kadiri menang. Prasasti ini dikeluarkan sebagai piagam pengesahan anugerah untuk penduduk desa Ngantang yang setia pada Kadiri selama perang melawan Janggala. Dari prasasti tersebut dapat diketahui kalau Jayabhaya adalah raja yang berhasil mengalahkan Janggala dan mempersatukannya kembali dengan Kadiri. Kemenangan Jayabhaya atas Janggala ini disimbolkan sebagai kemenangan Pandawa atas Korawa dalam kakawin Bharatayuddha yang digubah oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh tahun 1157.

Sri Maharaja Kertajaya/Prabu Dandhang Gendis

Sri Maharaja Kertajaya adalah raja terakhir Kadiri yang memerintah sekitar tahun 1194-1222. Pada akhir pemerintahannya, ia dikalahkan oleh Ken Arok dari Tumapel atau Singhasari, yang menandai berakhirnya masa Kerajaan Kadiri.

Nama Kertajaya terdapat dalam Nagarakretagama (1365) yang dikarang ratusan tahun setelah zaman Kadiri. Bukti sejarah keberadaan tokoh Kertajaya adalah dengan ditemukannya Prasasti Galunggung (1194), Prasasti Kamulan (1194), Prasasti Palah (1197), dan Prasasti Wates Kulon (1205). Dari prasasti-prasasti tersebut dapat diketahui nama gelar abhiseka Kertajaya adalah Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikramawatara Anindita Srenggalancana Digjaya Uttunggadewa.

Dalam Pararaton, Kertajaya disebut dengan nama Prabu Dandhang Gendis. Dikisahkan pada akhir pemerintahannya ia menyatakan ingin disembah para pendeta Hindu dan Buddha. Tentu saja keinginan itu ditolak, meskipun Dandhang Gendis pamer kesaktian dengan cara duduk di atas sebatang tombak yang berdiri.

Para pendeta memilih berlindung pada Ken Arok, bawahan Dandhang Gendis yang menjadi akuwu di Tumapel. Ken Arok lalu mengangkat diri menjadi raja dan menyatakan Tumapel merdeka, lepas dari Kadiri. Dandhang Gendis sama sekali tidak takut. Ia mengaku hanya bisa dikalahkan oleh Siwa. Mendengar hal itu, Ken Arok pun memakai gelar Bhatara Guru (nama lain Siwa) dan bergerak memimpin pasukan menyerang Kadiri.

Perang antara Tumapel dan Kadiri terjadi dekat Desa Ganter tahun 1222. Para panglima Kadiri yaitu Mahisa Walungan (adik Dandhang Gendis) dan Gubar Baleman mati di tangan Ken Arok. Dandhang Gendis sendiri melarikan diri dan bersembunyi naik ke kahyangan.

Nagarakretagama juga mengisahkan secara singkat berita kekalahan Kertajaya tersebut. Disebutkan bahwa Kertajaya melarikan diri dan bersembunyi dalam dewalaya (tempat dewa). Kedua naskah tersebut (Pararaton dan Nagarakretagama) memberitakan tempat pelarian Kertajaya adalah alam dewata. Kiranya yang dimaksud adalah Kertajaya bersembunyi di dalam sebuah candi pemujaan, atau mungkin Kertajaya tewas dan menjadi penghuni alam halus (akhirat)

Sejak tahun 1222 Kadiri menjadi daerah bawahan Tumapel (Singhasari). Menurut Nagarakretagama, putra Kertajaya yang bernama Jayasabha diangkat Ken Arok sebagai Bupati Kadiri. Tahun 1258 Jayasabha digantikan putranya, yang bernama Sastrajaya. Kemudian tahun 1271 Sastrajaya digantikan putranya yang bernama Jayakatwang. Pada tahun 1292 Jayakatwang memberontak dan mengakhiri riwayat Tumapel.

Berita tersebut tidak sesuai dengan naskah Prasasti Mula Malurung (1255), yang mengatakan kalau penguasa Kadiri setelah Kertajaya adalah Bhatara Parameswara putra Bhatara Siwa (alias Ken Arok). Adapun Jayakatwang menurut prasasti Penanggungan adalah Bupati Gelang-Gelang yang kemudian menjadi Raja Kadiri setelah menghancurkan Tumapel tahun 1292.

Sumber-sumber sejarah Kerajaan Panjalu Ciamis sedikitpun tidak ada yang menyebutkan secara gamblang hubungannya dengan Kerajaan Panjalu Kediri, akan tetapi kesamaan nama kedua kerajaan ini sedikit-banyak menunjukkan adanya benang merah antara keduanya, apalagi nama Raja Panjalu Kediri Maharaja Kertajaya (1194-1222) juga disebut-sebut dalam Prasasti Galunggung (1194).

Paul Michel Munoz (2006) mengemukakan bahwa sisa-sisa keluarga dan pengikut Kertajaya (Raja terakhir Dinasti Sanjaya di Jawa Timur) melarikan diri ke daerah Panjalu (Sukapura/Ciamis) pada tahun 1222 untuk menghindari pembantaian Ken Angrok (Ken Arok), pendiri Kerajaan Singhasari/Dinasti Rajasa. Kertajaya sendiri sebagai Raja Kediri terakhir tewas dalam pertempuran di Tumapel melawan pemberontakan Akuwu Tumapel, Ken Angrok.

Berdasarkan kitab Nagarakretagama, Maharaja Kertajaya bersembunyi di Dewalaya (tempat Dewa) atau tempat suci, maka bukan tidak mungkin Maharaja Kertajaya sebenarnya tidak tewas di tangan Ken Arok, melainkan melarikan diri ke Kabataraan Gunung Sawal (Panjalu Ciamis) yang merupakan tempat suci dimana bertahtanya Batara (Dewa) Tesnajati.

Penulis: Yudhi S Suradimadja, Sumber: Salaka Nagara

Rabu, Februari 18, 2015

Pelajaran dari Cicak Buaya Jilid III

Kalo melihat ILC tadi malam, maka kita dapat menyimpulkan beberapa hal. Pertama, bahwa KPK pimpinan AS seringkali tidak menggunakan proses yang benar dalam menentukan tersangka. Ini didasarkan pada pengakuan eks penyidiknya yang mengatakan bahwa pada kasus MSG, pada saat ditersangkakan sebenarnya belum memiliki alat bukti yang cukup. Map yang diacung-acungkan AS pada saat konferensi pers dan diakui sebagai sprindik sebenarnya map kosong. AS dengan karakternya yang menggebugebu seringkali mengintervensi penyidik untuk memuaskan keinginan publik.

Inilah yang menjadi jawaban mengapa banyak yang sudah dijadikan tersangka oleh KPK tidak segera diajukan ke pengadilan, bahkan sampai berbulan-bulan semisal HP, SDA, SFS. TR, ketua KPK jilid I juga mengkritik pola kerja ini.  "Pada jaman saya, bahkan tidak cukup 2 alat bukti, tapi harus 4," katanya.

Tindakan AS ini kena batunya pada saat yang ditersangkakan adalah calon bos Polri, dimana di sana banyak eks penyidik yang mengetahui dapur KPK yang dia pimpin. Maka di praperadilan dia kalah. Dan ini malah menjadi blunder, karena setelahnya KPK diserang abis-abisan tanpa ampun. AS sendiri diserang mantan teman baiknya yang sakit hati dan nampaknya dia sulit untuk berkelit.

Pertanyaannya, toh MSG akhirnya dinyatakan bersalah? Di sinilah bahayanya. Di peradilan kita KPK memiliki nama yang sakral. Siapapun yang diproses oleh KPK tidak pernah lepas. Dan hakim kadang terpengaruh oleh kesakralan ini. Hakim takut untuk bertindak tidak populer karena akan dihujat publik sebagai pro koruptor.

Kedua, keputusan Hakim Sarpin menjadi yurisprudensi yang baik untuk penegakan HAM. Dimana, warga negara kini bisa melawan kesewenang-wenangan penegak hukum. Bayangkan bila tiba-tiba anda berurusan dengan hukum, dijadikan tersangka tanpa mengerti masalahnya. Apa yang akan anda lakukan di tengah kekalutan itu? pasrah ditangkap, ditahan, disita, dihancurkan nama baik dan dibawa ke pengadilan?

Hakim Sarpin memberikan jawabannya: ajukan pra peradilan. Kita sebagai warga negara kini bisa mengguggat perlakuan tidak adil yang diakibatkan kesewenang-wenangan penegak hukum.

Kasus cicak buaya jilid 3 ini memang melelahkan, tetapi bukan tanpa pelajaran yang bisa diambil.

Selasa, Januari 20, 2015

Prasasti Tugu

Prasasti Tugu adalah salah satu prasasti yang berasal dari Kerajaan Tarumanagara. Prasasti ini merupakan prasasti terpanjang dari Raja Purnawarman.  Pada tahun 1911 atas prakarsa P.de Roo de la Faille, Prasasti Tugu batu dipindahkan ke Museum Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (sekarang Museum Nasional) serta didaftar dengan nomor inventaris D.124.

Prasasti tersebut isinya menerangkan penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati oleh Purnawarman pada tahun ke-22 masa pemerintahannya. Penggalian sungai tersebut merupakan gagasan untuk menghindari bencana alam berupa banjir yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan yang terjadi pada musim kemarau.

Transkrip Prasasti Tugu:

Pura rajadhirajena guruna pinabhahuna khata khyatam purin phrapya. Candrabhagarnavam yayau pravarddhamanadwavincadvatsa (re) crigunaujasa narendradhvajbhunena (bhuten). Crimata Purnnavarmmana prarabhya Phalgune(ne) mase khata krshnatashimithau Caitracukla-trayodcyam dinais siddhaikavinchakai(h). Ayata shatsahasrena dhanusha(m) sacaten ca dvavincena nadi ramya Gomati nirmalodaka pitamahasya rajarshervvidarya cibiravanim.Bhrahmanair ggo-sahasrena(na) prayati krtadakshino.

Terjemahannya:

Dahulu atas perintah rajadiraja Paduka Yang Mulia Purnawarman, yang menonjol dalam kebahagiaan dan jasanya di atas para raja, pada tahun kedua puluh dua pemerintahannya yang gemilang, dilakukan penggalian di Sungai Candrabhaga setelah sungai itu melampaui ibukota yang masyhur dan sebelum masuk ke laut. Penggalian itu dimulai pada hari kedelapan bulan genap bulan Phalguna dan selesai pada hari ketiga belas bulan terang bulan Citra, selama dua puluh satu hari. Saluran baru dengan air jernih bernama Sungai Gomati, mengalir sepanjang 6.122 busur melampaui asrama pendeta raja yang di pepundi sebagai leluhur bersama para brahmana. Para pendeta itu diberi hadiah seribu ekor sapi.

Nama Candrabhaga diidentikkan dengan kata “Sasibhaga,” yang diterjemahkan secara terbalik menjadi “Bhagasasi”, dan lama kelamaan mengalami perubahan penulisan dan sebutan. Beberapa arsip abad ke-19 sampai awal abad ke-20, menerangkan kata Bekasi dengan “Backassie”, “Backasie”, “Bakassie”, “Bekassie”, “Bekassi”, dan terakhir “Bekasi”.

Senin, Agustus 18, 2014

Sejarah Perum Perhutani

Hutan Jati Perum Perhutani
Hutan Jati Perum Perhutani
PERUM Perhutani adalah Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang Kehutanan. Wilayah kerjanya meliputi kawasan hutan Negara, baik hutan produksi maupun hutan lindung, di Pulau Jawa dan Madura.

Perum Perhutani mengemban tugas dan wewenang untuk menyelenggarakan kegiatan pengelolaan hutan dengan memperhatikan aspek produksi/ekonomi, aspek sosial dan aspek lingkungan. Dalam operasinya, Perum Perhutani berada dalam pengawasan Kementerian BUMN dan bimbingan teknis dari Kementerian Kehutanan.

Sejarah pengelolaan hutan di Jawa dan Madura, secara modern-institusional dimulai pada tahun 1897 dengan dikeluarkannya “Reglement voor het beheer der bosschen van den Lande op Java en Madoera”, Staatsblad 1897 nomor 61 (disingkat “Bosreglement”).

Selain itu terbit pula “Reglement voor den dienst van het Boschwezen op Java en Madoera” (disingkat “Dienst Reglement”) yang menetapkan aturan tentang organisasi Jawatan Kehutanan, dimana dibentuk Jawatan Kehutanan dengan Gouvernement Besluit (Keputusan Pemerintah) tanggal 9 Februari 1897 nomor 21, termuat dalam Bijblad 5164.

Sejak saat itu, hutan-hutan kayu jati di Jawa mulai diurus dengan baik, dengan dimulainya afbakening (pemancangan), pengukuran, pemetaan dan penataan hutan. Aturan pengelolaan hutan di jaman kolonial kemudian mengalami beberapa kali perubahan.

Pada tahun 1930, pengelolaan hutan Jati diserahkan kepada badan “Djatibedrijf” atau perusahaan hutan Jati dari Pemerintah Kolonial (Jawatan Kehutanan). Pada tahun 1940 pengurusan hutan Jati dari “Djatibedrijf” dikembalikan lagi ke Jawatan Kehutanan.

Pasca Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, hak, kewajiban, tanggung-jawab dan kewenangan pengelolaan hutan di Jawa dan Madura oleh Jawatan Kehutanan Hindia Belanda q.q. den Dienst van het Boschwezen, dilimpahkan secara peralihan kelembagaan kepada Jawatan Kehutanan Republik Indonesia berdasarkan Pasal II Aturan Peralihan Undang-undang Dasar Republik Indonesia yang berbunyi: “Segala badan negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut undang undang dasar ini.”

Selanjutnya melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 tahun 1961, berdiri Badan Pimpinan Umum (BPU) Perusahaan Kehutanan Negara, disingkat ”BPU Perhutani”. Pada tahun 1972, melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 15 Tahun 1972, Pemerintah Indonesia mendirikan Perusahaan Umum Kehutanan Negara atau disingkat Perum Perhutani.

Melalui serangkaian PP, kemudian PN Perhutani Djawa Timur (Unit II) dan PN Perhutani Djawa Tengah (Unit I), dilebur kedalam Perum Perhutani, dilanjutkan dengan penambahan Unit III Perum Perhutani untuk daerah Jawa Barat.

Dasar Hukum Perum Perhutani sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1972 juncto Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1978, kemudian disempurnakan/diganti berturut-turut dengan Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1986, Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 1999 dan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2001.

Pada tahun 2001, bentuk pengusahaan Perum Perhutani sebagaimana ditetapkan pada PP Nomor 14 Tahun 2001 tersebut adalah sebuah BUMN berbentuk Perseroan Terbatas (PT). Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tanggung jawab sosial dan lingkungan yang dimiliki PT Perhutani, bentuk pengusahaan PT Perhutani tersebut kembali menjadi BUMN dengan bentuk Perum berdasarkan PP Nomor 30 tahun 2003.

Selanjutnya untuk mendukung pembangunanan nasional, Pemerintah menambah tugas dan kegiatan Perusahaan Umum (Perum) Kehutanan untuk mendukung pengembangan usaha dan kegiatan usaha sebagaimana ditetapkan dalam PP No. 72 Tahun 2010.

Berdasarkan PP No. 73 tahun 2014 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia Ke Dalam Modal Perum Perhutani, Perum Perhutani ditetapkan sebagai Induk Holding BUMN Kehutanan membawahi PT. Inhutani I, PT. Inhutani II, PT. Inhutani III, PT. Inhutani IV dan PT. Inhutani V. 

Kamis, Agustus 07, 2014

Kepada Surtikanti, Isteriku

Saya sangat suka Catatan Pinggir ini.  Berceritera tentang kegalauan Karna, si Raja Angga, menjelang pertempurannya di esok hari dengan adik seibu sekaligus musuh besarnya: Arjuna putra Pandu.  Ada kegetiran sekaligus ketabahan di sana.   Juga kebanggaan dan keberanian menantang nasib yang sudah diputuskan untuknya.

Silakan dibaca...

BEERAPA jam sebelum pagi, sebelum gelombang pertempuran meledak lagi di Kurusetra, Karna tepekur sendirian di dalam kemahnya. Istrinya tidur pulas di peraduan. Karna tahu, hidupnya tak lama lagi. Karena itu, ia menulis sepucuk surat kepada Surtikanti istrinya.

“Peramal menujum aku akan tewas dalam perang ini. Tapi jangan dengarkan mereka, Surtikanti. Dengarkanlah aku. Nasib mungkin memihak musuh. Tapi aku akan menghadapi mereka – juga bila harus melalui mati.

'Mati', saat ini rasanya bukan lagi masalah bagiku, Istriku. Mungkin karena alasan perangku lebih besar ketimbang hidup. Atau setidaknya alasan itu adalah alasan kehidupan sendiri: aku berperang untuk mengukuhkan siapa aku. Di pagi nanti, Karna tewas atau Karna menang, keduanya akan menentukan siapa dia. Sebab, siapa sebenarnya aku, Surtikanti, selama ini, selain seorang yang tak jelas kastanya, tak jelas asal-usul, tak jelas kaumnya?

Jangan kau sedih. Aku memang mengulang kegetiranku. Di dunia kita yang telah dinubuat ini, Istriku, seseorang hanya mendapatkan dirinya tak jauh dari pintunya berangkat. Betapa menyesakkan! Sebab itu, Istriku, aku harus membuktikan bahwa seseorang ada, seseorang menjadi, karena tindakannya, karena pilihannya – bukan karena ia telah selesai dirumuskan.

Seorang resi pernah berkata: pada mulanya adalah Sabda, dan Sabda menjadi Kodrat. Bagiku, pada mulanya adalah perbuatan. Dari perbuatan lahir pengetahuan, dan dengan pengetahuan itu aku bisa merumuskan diriku. Bagiku, Surtikanti, Kodrat adalah sesuatu yang tidak ada; dewa-dewa tak pernah menyabdakannya. Telah kuduga itu ketika namaku masih Si Radheya. Dulu.

Kini bisa kuceritakan kepadamu apa yang terjadi pada Si Radheya, ketika ia berumur 16tahun: hari itu ia tahu bahwa ibunya bukanlah ibunya yang sebenarnya, dan bapaknya — seorang sais — bukanlah bapaknya yang sebenarnya. Ia anak pungut, Surtikanti.Ada yang menduga, seorang putri bangsawan tinggi melahirkan bayi yang tak dikehendaki dan membuangnya ke air. Dan itulah aku. Aku menangis ketika semua itu dituturkan padaku oleh wanita yang selama ini kusebut ibuku. Ternyata, aku bukan lagi bagian seasal dari dirinya, betapapun ikhlasnya kasih sayang. Dan mulai saat itu, aku kembali merasa terbuang, seorang bocah yang hanyut, di sepanjang tepian.

Lalu kucari ilmu, istriku. Kau tahu, mengapa? Ilmu akan mengukuhkan aku bukan cuma anak suta yang hina. Meskipun kukatakan kepada Radha, ibuku, bahwa ilmu tak mengenal kasta, tak memandang harta — dan karena itu di sanalah aku akan bebas — sesungguhnya aku berdusta, juga pada diriku sendiri: diam-diam aku ingin ingkar kepada kelas orang-orang yang mengasihiku. Sebab, ternyata di dunia kita yang menyesakkan ini, Surtikanti, ilmu pun telah jadi lambang tentang mana yang rendah, mana yang tinggi.

Aku datang berguru kepada Durna, tapi Durna menolakku karena aku bukan ningrat, bukan kesatria. Aku datang kepada Bhargawa, mengaku anak brahmana dan jadi muridnya – tapi kemudian ia mengutukku ketika ia menuduhku anak kesatria, kelas yang dibencinya itu, yang berbohong.

Memang, setelah kukuasai semua astra dan semua senjata, aku tahu ilmu bisa melepaskan kita dari perbedaan susunan rendah dan tinggi. Tapi akhirnya hanya tindakan besar yang membebaskanku yaitu tindakan Pangeran Duryudana. Dialah yang mengangkatku jadi penguasa di Angga, istriku, dan dari sanalah aku seakan lahir kembali: kini benar aku bukan anak kasta yang dihinakan. Dan aku meminangmu.

Ya, aku tahu mengapa Duryudana mengangkatku, ketika para Pandawa menghinaku, di pertandingan memanah di arena Hastina belasan tahun yang lalu itu; mereka menolak melawanku karena bagi mereka, anak sais tak berhak bertanding dengan anak raja.Duryudana ingin memperlihatkan, di depan rakyat yang menonton, betapa tak adilnya para Pandawa. Dan Putra Mahkota Kurawa itu mungkin juga memperhitungkan aku bisa digunakannya buat menghadap musuhnya yang lima itu.

Tapi apa pun niat hatinya, tindakannya adil dan kata-katanya benar: ‘Keberanian bisa datang dari siapa saja', karena seorang kesatria ada bukan hanya karena ayahbundanya, tapi toh bisa keluar dari batu gunung yang tak dikenal.

Rasanya, akulah salah satu batu gunung itu, Surtikanti, yang menerbitkan perciknya sendiri. Inilah kemerdekaanku. Arjuna memilih pihaknya karena darah yang mengalir di tubuhnya, aku memilih pihakku karena kehendakku sendiri. Arjuna berperang untuk sebidang kerajaan yang dulu haknya, aku berperang bukan untuk memperolehnya. Maka, jika aku esok mati, istriku, kenanglah kebahagiaan itu. Satu-satunya kesedihanku ialah bahwa aku tak akan lagi bisa memandangmu, ketika kau memandangku.”

Sampai di situ Karna berhenti; tangannya tergetar. Tapi segera ia mengusap busur panah di sisi duduknya. Kurusetra senyap. Malam mengerang kesakitan. Keesokan harinya, Karna memang gugur di tangan Arjuna, saudara seibunya.

Goenawan Mohamad

Kelakuan Orang-orang Kaya di Arab

NEGARA-negara Arab memang dikaruniai dengan kekayaan sumberdaya alam yang berlimpah.  Dan ini berdampak pada kesejahteraan rakyatnya.

Repotnya, semakin kaya, orang akan semakin aneh-aneh.  Berikut adalah gambar kegilaan orang-orang kaya di Dubai..

Hmmm...

Co Driver-nya: Cheetah

Juga Singa

Atau Harimau

Harimau lagi
Ngajak ngelaut Singa

Itu bukan kucing lho..

Kuda mah ...lewat
Mobil dicat emas

Ini mobil polisi nya

Gilee Ndroo....

Macetnya oleh ginian...
ATM emas ....
Tempat sampahnya...

Sabtu, November 23, 2013

“Singa” Gunung Babakan

MAKAM itu berada di tempat yang agak tinggi.  Kita harus mendaki jalan setapak untuk mencapainya.  Tapi tak lama, cukup beberapa menit saja sudah sampai. Letaknya di pinggir jalan Siliwangi Kota Banjar, Jawa Barat.  Di sebuah bukit bernama Gunung Babakan yang masuk kawasan hutan Perum Perhutani.  Cirinya sebuah batu besar yang menjorok ke jalan.  Pemerintah kota sengaja tidak membongkarnya ketika jalan tersebut diperlebar.  Mungkin menghormati tokoh yang disemayamkan di atasnya: Kangjeng Dalem Singaperbangsa.

Ada dua makam kuno berjejer, dikelilingi oleh pagar kawat yang rendah.  Makam yang satu nampak lebih besar. Mungkin itu makam Sang Dalem.  Sedang yang lebih kecil entah punya siapa. Bisa jadi istri beliau, sehingga ditempatkan berda mpingan.  Nisannya memang tidak bertulis.  Batu-batu penutupnya sudah berlumut tebal, menandakan makam tersebut  memang sudah sangat tua.  Pohon-pohon besar dan tinggi menjulang yang tumbuh di sekitarnya menghadirkan kembali suasana masa lalu yang hening dan mistis. 


***

Singaperbangsa adalah seorang tokoh historis. Namanya tercatat dalam beberapa sumber sejarah formal.  Dus, dia bukan sekedar tokoh mitos atau legenda.  Tokoh ini sangat identik dengan kota Karawang, Jawa Barat.  Universitas dan stadion olahraga di kota penghasil beras itu menggunakan namanya.  Ya, karena Singaperbangsa dianggap sebagai pendiri Karawang.  Ia adalah bupati pertama kota itu pada abad XVII, ketika tatar Sunda berada di bawah kekuasaan Kesultanan Mataram. Dia dilantik menjadi bupati oleh Sultan Agung pada tahun 1633 dan wafat pada 1677. Makamnya terletak di Desa Manggung Jaya Kacamatan Cilamaya, sekitar 40 km dari pusat kota Karawang.

Lalu mengapa makam Singaperbangsa juga ada di kota Banjar? Bagaimana hubungannya?

Konon, semua berawal dari sebuah tempat bernama Kertabumi, sebuah kerajaan kecil yang berdiri di akhir Abad XVI berlokasi di tatar Galuh, Kabupaten Ciamis sekarang.   Singaperbangsa diduga memiliki kaitan yang erat dengan tempat ini.  Ini terlihat dari gelar yang ia pakai ketika dilantik menjadi Bupati Karawang oleh Sultan Agung, yaitu Adipati Kertabumi IV.

Pasca runtuhnya Kawali (sekarang sebuah kota kecamatan di Ciamis sebelah utara) sebagai ibukota Kerajaan Galuh oleh serangan Cirebon yang dibantu Demak pada 1570 M, beberapa menaknya mendirikan pusat kekuasaan baru yang masih mempertahankan corak Hindu, di Salawe, Cimaragas, sebuah kota kecamatan di Ciamis selatan.  Oleh karenanya nama kerajaannya sering juga disebut Galuh Salawe, dengan rajanya bernama Prabu Maharaja Sanghiyang Cipta di Galuh.

Pada tahun 1595, pengaruh politik Kesultanan Mataram mulai sampai ke Priangan. Tapi Panembahan Senapati, yang waktu itu masih disibukkan dengan upaya penaklukan wilayah-wilayah pesisir utara Jawa, belum terlalu menegaskan kekuasannya. Kerajaan-kerajaan di tatar Priangan, termasuk Galuh, masih diakui sebagai kerajaan yang mandiri, belum menjadi bagian langsung pemarentahan Mataram. Hal ini dicirikan dengan para penguasanya yang masih diijinkan menggunakan gelar Prabu atawa Maharaja.

Setelah Prabu Maharaja Sanghiyang Cipta wafat, ia digantikan oleh putranya bernama Prabu Cipta Permana, yang selanjutnya memindahkan pusat kekuasaan ke Gara Tengah (sekarang Cineam, Tasikmalaya). Beda dengan ayahnya yang penganut agama leluhur, Cipta Permana sudah beragama Islam, karena dia menikah dengan Tanduran Tanjung, putri maharaja Kawali yang sudah Islam sebelumnya (Kawali saat itu berada di bawah kekuasaan Cirebon). 

Nah, selain Gara Tengah, di wilayah tatar Galuh terdapat juga beberapa pusat kekuasaan daerah (karajaan kecil), diantaranya Kawasen (Banjarsari sekarang) dengan rajanya bernama Sanghyang Permana, putra bungsu Prabu Maharaja Sanghiyang Cipta, dan Kertabumi, dengan rajanya bernama Rangga Permana (putra Prabu Gesan Ulun dari Kerajaan Sumedanglarang, menantu Prabu Maharaja Sanghiyang Cipta) yang bergelar Prabu di Muntur atau Adipati Kertabumi I. Petilasan Kerajaan Kertabumi ini bisa ditemukan di Dusun Bundar Desa Kertabumi kacamatan Cijeungjing, Ciamis.

Ketika Sultan Agung (1613-1645) naik tahta, Kesultanan Mataram mulai mereorganisasi wilayah-wilayah kakuasaannya di Priangan. Kerajaan-kerajaan yang menjadi vassalnya diturunkan derajatnya menjadi hanya setingkat kabupatian. Gelar para penguasanya pun tidak lagi Prabu atau Maharaja, tetapi cukup Tumenggung atau Adipati.

Saat itu yang menjadi penguasa di Galuh adalah Adipati Panaekan (1618-1625), putra Prabu Cipta Permana. Beliau diangkat menjadi Wedana Bupati Mataram di tatar Priangan. Sedangkan yang menjadi bupati di Kertabumi adalah Singaperbangsa (dalam beberapa sumber dikatakan bernama Wiraperbangsa), cucu Prabu di Muntur, dengan gelar Dipati Kertabumi III. Pusat kekuasaannya sudah pindah ke Bojonglopang, Banjar Kolot sekarang.  Oleh karena itu, Kertabumi disebut juga Kabupaten Bojonglopang.

Bila melihat kekerabatan, hubungan Panaekan dengan Singaperbangsa adalah paman-keponakan. Sebab, Singaperbangsa adalah cucu dari Tanduran Ageung, kakak Prabu Cipta Permana, ayah Panaekan. Meski begitu, nampaknya hubungan di antara mereka tidak begitu bagus.  Dalam hal politik, Singaperbangsa lebih berkiblat ke Sumedanglarang, negeri asal sang kakek.

Pada tahun 1625, Sultan Agung mulai bersiap untuk menyerang VOC di Batavia, yang tentunya melibatkan pasukan dari tatar Sunda. Hal ini ternyata menjadi sumber perselisihan antara Panaekan dan Singaperbangsa. Panaekan, menurut beberapa sumber, se-ide dengan Dipati Ukur, yang ingin secepatnya menyerang sebelum VOC semakin kuat. Sedangkan Singaperbangsa menolak.  Ia ingin agar pasukan tatar Sunda memperkuat  logistik terlebih dahulu, sesuai pendapat Rangga Gempol I (Bupati Sumedang, yang juga pamannya).

Entah bagaimana konstelasi politik yang berkembang waktu itu. Yang jelas, perselisihan itu meruncing, sampai akhirnya mengakibatkan terbunuhnya Panaekan oleh Singaperbangsa. Jenazah sang paman dibuang ke sungai Cimuntur dan ditemukan di Situs Karang Kamuliyan yang oleh para pengikutnya kemudian dimakamkan di sana. Panaekan digantikan oleh putranya yang bernama Dipati Imbanagara (1625-1636).

Serangan pasukan Mataram (yang didalamnya juga termasuk pasukan dari tatar Sunda) ke Batavia jadi dilaksanakan pada taun 1628 dan 1629, yang dua-duanya menemui kegagalan.
***
Nama Singaperbangsa kembali disebut pada tahun 1632. Waktu itu Sultan Agung menugaskan beliau dan 1.000 orang cacah untuk mengamankan daerah Karawang dari gangguan tentara Banten, sekaligus menyiapkan logistik untuk serangan selanjutnya ke Batavia (yang tidak pernah terlaksana sampai wafatnya Sultan Agung). Tugas tersebut ternyata bisa dilaksanakan dengan baik. Pada tahun 1633 Singaperbangsa dipanggil ke Mataram untuk mendapatkan penghargaan berupa keris bernama "karosinjang."

Nah, dalam perjalanan pulang dari Mataram tersebut, Singaperbangsa mampir ke Galuh. Mungkin ia rindu pada tanah kelahiran dan saudara-saudaranya di Kertabumi.  Kehendak Yang Kuasa, Singaperbangsa tidak pernah kembali lagi ke Karawang. Ia jatuh sakit dan tak lama kemudian wafat. Jenazahnya dimakamkan di “Galuh”.  Kekuasaan di Karawang diteruskan oleh putranya yang juga bernama Singaperbangsa, dengan gelar Adipati Kertabumi IV. Dialah yang kemudian dianggap sebagai Bupati Karawang pertama dalam sejarah resmi.

Jadi, apabila melihat uraian cerita di atas, kuat dugaan tokoh yang bersemayam di Gunung Babakan adalah Kangjeng Adipati Singaperbangsa yang wafat di Galuh (Wiraperbangsa) atau Adipati Kertabumi III.  Beliau  adalah ayah dari Singaperbangsa yang menjadi Bupati Karawang pertama (Adipati Kertabumi IV). 

Wallohuallam.

Selasa, Oktober 01, 2013

WIdya Handicraft: Merajut Untung dari Bambu

Menjadi seorang enterpreneur memang mengasyikan.  Memiliki fleksibilitas waktu dan kesempatan berkembang yang lebih luas membuatnya bisa mencurahkan segenap daya dan potensi kreatifitas yang ia miliki.  

ITULAH mungkin yang juga dirasakan oleh Widodo (54 tahun), warga Desa Gintangan Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi.  Ia awalnya meniti karir sebagai seorang guru PNS. Di sela-sela kegiatannya mengajar, Widodo tertarik untuk berwirausaha.

Ia melihat besarnya potensi kerajinan anyaman bambu di desanya yang memiliki ciri khas dan tidak dimiliki daerah lain. Ia pun kemudian merintis usaha anyaman bambu pada tahun 1991 dengan mendirikan UD Widya Karya.  

“Pada saat itu, saya dibantu oleh 5 orang tenaga kerja tetap dan 10 orang tenaga tidak tetap,” kisahnya.

Usahanya tak berjalan mulus.  Sebagai pemain baru, berbagai kesulitan Widodo hadapi, terutama pemodalan dan pasar.  Ia pun kemudian mencoba mengakses permodalan melalui program PKBL (dulu namanya masih PUKK) Perum Perhutani.  Pada tahun 1993, ia resmi menjadi mitra binaan Perhutani KPH Banyuwangi Selatan.

Sebagai mitra binaan, Widodo berhak mendapatkan modal pinjaman dengan bunga yang sangat ringan. Selain itu, ia kerap diajak untuk melakukan pameran di berbagai kota, baik tingkat kabupaten, propinsi bahkan nasional, sehingga berkesempatan untuk memperkenalkan produk-produknya ke pasar. Dua hal yang sangat ia butuhkan. Usahanya pun berkembang.  

Dari berbagai pameran yang diikuti, Widodo mendapat banyak pelanggan.  Tidak hanya dari lokal Banyuwangi, tetapi juga dari kota-kota lain Jember, Surabaya, Malang, Jogja dan Bali. Produk-produk buatannya bahkan sudah diekspor ke Malaysia, Eropa dan Amerika.

“Dulu omset usaha anyaman bambu saya hanya 10 juta per bulan, kini sudah mencapai 60 juta,” katanya.  Saat ini Widodo mempekerjakan 12 orang karyawan tetap dan lebih 50 orang yang tidak tetap.

Dengan terus berkembangnya usaha anyaman bambu yang ia bangun, Widodo pun kemudian memutuskan untuk mengajukan pensiun dini dari PNS dua tahun yang lalu.

“Agar saya lebih berkonsentrasi mengembangkan usaha ini. Cita-cita saya ingin terus membuat produk-produk anyaman bambu terbaik bagi semua orang agar nama Desa Gintangan dapat dikenal oleh masyarakat,” ujarnya

Untuk itu ia selalu berinovasi menciptakan kreasi desain produk baru yang bermanfaat bagi konsumen. Ia juga selalu menjaga mutu dan kwalitas produk sebagai tanggung jawab pelayanan terbaik.

Produknya yang ia branding dengan nama Widya Handicraft, adalah berbagai jenis kerajinan yang menggunakan bahan dasar utama bambu. Antara lain tudung saji, tempat koran, keranjang buah, tempat kue, tempat tisu, kap lampu, dan berbagai macam bentuk lain yang biasanya dibutuhkan oleh masyarakat.  Untuk menjaga kwalitas, proses produksinya sebagian besar dikerjakan secara manual (handmade) dengan menggunakan alat-alat sederhana seperti, pisau potong, pisau irat, gergaji, dll.

“Hal inilah yang menjadikan produk anyaman bambu yang kami buat menarik bagi banyak konsumen baik lokal atau luar daerah maupun wisatawan mancanegara,” ujarnya berpromosi.

Dalam hal bahan baku, Widodo mengaku tidak mendapatkan kesulitan.  Pasokan bambu dengan mudah ia dapatkan dari sekitar.  Melimpahnya bahan baku menjadikannya selalu siap mencukupi permintaan pasar yang datang mendadak.

Untuk memasarkan produk, Widodo membuka showroom yang berada satu lokasi dengan tempat kegiatan produksi, sehingga pengunjung dapat melihat langsung proses produksi pembentukan kerajinan anyaman bambu. Selain itu ia bekerjasama dengan mitra-mitra bisnis yang berada di berbagai daerah untuk menjangkau konsumennya.   Untuk lebih memperluas pasar ia juga memanfaatkan media online seperti media sosial, toko online, forum, dll.

Ke depan Widodo berencana untuk membangun satu lagi showroom produk-produknya di pusat kota Banyuwangi.  Untuk itu ia berharap Perum Perhutani dapat terus memberikan dukungannya dengan memberikan bantuan permodalan.

“Kami sangat berterima kasih kepada Perum Perhutani, karena program PKBL-nya sangat kami rasakan manfaatnya sehingga bisa berkembang seperti ini,” ujarnya.

Cari hotel dan tiket penerbangan murah? klik di sini

Rabu, September 25, 2013

Lumbung Desa, Kearifan Lokal Masyarakat Dagangan Yang Masih Terjaga

SIANG itu belasan orang berkerumun di sebuah bangunan sederhana, di pinggir jalan aspal yang membelah Dusun Panggung Desa Dagangan Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun.  Masing-masing dari mereka membawa karung atau wadah lain yang entah berisi apa.

“Mereka sedang setor gabah ke lumbung desa,” jelas Jumali (63), ketua Lembaga Masyarakat Pengelola Sumberdaya Hutan (LMPSDH) Wonosalam Desa Dagangan, ketika kami temui di Balai Pertemuan LMPSDH, beberapa waktu lalu.  “Ini kearifan lokal masyarakat yang sudah jarang ditemui tapi masih terpelihara di desa ini,” tambahnya.  Dikatakan Jumali, dari 17 Desa yang ada Kecamatan Dagangan, mungkin hanya Desa Dagangan ini yang masih memiliki Lumbung Desa.   “Saya tidak tahu berapa jumlah yang masih ada di seluruh Kabupaten Madiun, yang jelas sudah sangat jarang,” katanya.


Ini menarik.  Di tengah isu kekhawatiran terancamnya ketahanan pangan dunia yang memaksa pemerintah berfikir keras untuk meningkatkan produksi padi dan bahan pangan lainnya, desa ini masih memelihara kearifan lokal kemandirian pangan yang sudah banyak ditinggalkan.

Bagaimana sistemnya? Sederhana saja.  Ketika panen tiba, masyarakat menyetor padi untuk ditabung.  Sementara saat musim tanam, mereka bisa meminjam untuk modal.  Dibayarnya, saat musim panen selanjutnya.  Anggota dikenakan tambahan 20% dari berat gabah yang dipinjam.  “Jika dia meminjam 1 kwintal, maka dia harus membayar 1 kwintal 20 kilo,” jelas Jumali.

Dengan sistem ini maka masyarakat tidak kesulitan untuk memperoleh modal ketika musim tanam tiba, sehingga kelangsungan produksi pangan terus terjaga.  Pun mereka memiliki cadangan pangan yang bisa digunakan sewaktu-waktu apabila panen tidak berhasil atau di masa paceklik.  Dalam tahapan selanjutnya, lembaga ini yang juga berfungsi sebagai alat stabilisasi harga bahan pokok, menjaga permintaan dan persediaan (supply and demand) bahan pangan, fungsi yang kini diperankan oleh BULOG.

Sesungguhnya, lumbung desa merupakan perwujudan karakter gotong-royong dan kesetiakawanan yang telah berakar lama pada masyarakat pedesaan.  Di masa kesultanan Mataram, telah dikenal sistem lumbung sebagai pencegah terjadinya kerawanan pangan di wilayah kerajaan, sekaligus penopang untuk logistik perang.

Hal tersebut pulalah yang mungkin menginspirasi Messman untuk melembagakan secara resmi lumbung desa pada tahun 1902. Messman, orang Belanda yang saat itu menjabat sebagai Residen Cirebon dan Sumedang, Jawa Barat dihinggapi kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya kerawanan pangan di daerah yang dipimpinnya. Maka dia pun menganjurkan dibuatnya sebuah lumbung komunal sebagai tabungan pangan masyarakat desa.  Dalam pemikirannya, apabila para petani memiliki tabungan padi atau gabah maka pada masa-masa paceklik kebutuhan pangan mereka akan tetap tercukupi.

Ide Messman kemudian direspon positif oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Sebuah institusi khusus yang membina lumbung desa secara intensif pun kemudian dibentuk, yakni Dienst voor Volkscreditwiysen (Dinas Perkreditan Rakyat). Dinas tersebut bernaung di bawah Departemen Pemerintahan Dalam Negeri Pemerintah Hindia Belanda.  Banyak yang menyebut ini adalah cikal bakal pendekatan monetaris yang menyentuh lumbung tradisional rakyat, dan cikal bakal ide tentang KUD.

Setelah merdeka, lumbung desa tetap memperoleh ruang untuk terus berjalan. Bahkan, keberadaannya semakin berkembang dengan dikeluarkannya Inpres Bantuan Pembangunan Desa (Bangdes), pada tahun 1969.  Setelah itu, lumbung desa banyak bermunculan di berbagai pelosok, baik yang dibangun dengan swadaya masyarakat desa sendiri maupun bantuan pemerintah. Fenomena ini masih bertahan hingga paruh awal tahun 1990-an.

Menurut catatan Direktorat Jenderal Pembangunan Desa (Ditjen Bangdes), pada tahun 1993-1994 diketahui masih terdapat 12.655 lumbung desa, yang umumnya terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Madura. Namun pada akhir 90-an, saat peran BULOG semakin besar, lumbung desa semakin ditinggalkan.

Kearifan pengelolaan pangan itu terkikis oleh perubahan tuntutan hidup, dimana kepraktisan menjadi salah satu dasar perhitungan. Akses perekonomian di pedesaan sudah semakin maju, sehingga kredit pedesaan dalam bentuk innatura mudah didapat dengan ragam yang bermacam-macam.  Sistem tabungan berbasis natura seperti lumbung, dipandang tidak praktis lagi dan karenanya semakin ditinggalkan. Kebijakan pemerintah mengambil alih fungsi lumbung dengan mendirikan BULOG, yang berperan sebagai lumbung nasional, semakin menyurutkan peran lumbung desa sebagai salah satu pengejawantahan kemandirian petani.

Kini, di saat kekhawatiran terhadap ketahanan pangan dunia kembali merebak, banyak pihak yang kembali menganjurkan agar lembaga lumbung desa kembali diaktifkan.  Salah satunya, Menteri Sosial, Salim Segaf Al Jufri.  Maka, pada tataran ini, masyarakat Dusun Panggung Desa Dagangan bisa berbangga hati dengan masih memelihara kearifan lokal yang ternyata memiliki nilai filosofis yang luhur. Yang mungkin bisa kembali menjadi rujukan konsep pengelolaan kemandiran pangan bagi desa-desa lain di sekitarnya.

Cari hotel dan tiket penerbangan murah? klik di sini

Jumat, Desember 09, 2011

Kiprah Indah LMDH Wana Mekar

Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wana Sukamekar di Kampung Ciharum Desa Sukamekar Kecamatan Sukanagara Kabupaten Cianjur didirikan oleh para petani hutan tahun 2005. Tujuannya meningkatkan kesejahteraan anggota dengan mengoptimalkan potensi hutan yang berada di pangkuan desa Sukamekar. Kini jumlah anggotanya mencapai 300 orang dengan 10 orang pengurus.

“Mereka terdiri dari penyadap getah pinus, petani tumpangsari dan para pekerja di tebangan,” kata A Juhana, sang ketua, saat ditemui beberapa waktu lalu. LMDH tersebut mengelola hutan pangkuan desa Sukamekar yang masuk wilayah pengelolaan RPH Campaka BKPH Sukanagara Utara Perum perhutani KPH Cianjur. Luasnya 1.071,08 Ha, terdiri dari tegakan Pinus, rasamala, pulai, acacia mangium, mindi dll.

“Kami bersama-sama Perhutani mengelola hutan,” ujar Juhana. Sejak tahun 2007, LMDH telibat dalam kegiatan pembuatan tanaman dengan hasil yang sangat baik. Sebanyak 47 anggota aktif menjadi penyadap getah pinus. Anggota juga menjadi tenaga kerja pada saat dilakukan kegiatan tebangan. Limbah tebangan/kayu bakarnya dapat mereka manfaatkan dengan gratis.

Para petani hutan memanfaatkan lahan dengan tumpang sari padi gogo, kacang-kacangan, jagung dan cabe. Hasilnya dirasakan sangat membantu perekonomian mereka.

“Kami pun turut mengamankan hutan,” lanjut Juhana. Angka gangguan hutan terbukti terus menurun. Tahun 2007, di wilayah tersebut tercatat terdapat 2 LA (laporan kepolisian atas kehilangan pohon). Tahun 2008 angka tersebut menurun menjadi hanya 1 LA. Dan sejak 2009 tidak ada lagi LA. “Kami terus melakukan penyadaran kepada para penggarap untuk membantu pengamanan,” lanjutnya.

Keberadaan mereka ternyata menarik perhatian pemerintah daerah setempat. Melihat potensi yang baik dari kelompok tersebut, Dinas Peternakan Kabupaten Cianjur pun memberikan bantuan ternak sapi. “Pada 2007 – 2008 kami mendapat sebanyak 50 ekor sapi. Bila diuangkan nilainya kurang lebih Rp.500 juta,” kata Juhana.

Kini sapinya berkembang menjadi 80 ekor dan melibatkan sebanyak 28 orang peternak yang tersebar di beberapa kandang. “Kebutuhan pakan dicukupi dengan rumput gajah yang ditanam di sekitar kandang dan yang ditanam di bawah tegakan dalam kawasan hutan.”

Mereka juga mengembangkan kopi arabika di bawan tegakan. Penanaman kopi kopi sudah dimulai sejak Tahun 2008 seluas 16,30 Ha. Pada tahun 2009, Perhutani KPH Ciajur memberikan bantuan pinjaman PKBL sebesar 15 juta rupiah. Pinjaman tersebut sebagian digunakan untuk persemaian kopi. Tahun 2011 direncanakan untuk memperluas penanaman kopi yang sampai 70 Ha yang bibitnya didapat dari hasil persemaian tersebut.

Tahun 2010, mereka kembali mendapat bantuan dari Dinas Peternakan berupa pembangunan satu Unit rumah kompos dengan mesin pembuat kompos. Juga bantuan dari Gubernur melalui Dinas Pertanian berupa pupuk sebanyak 3 ton.

Keberadaan LMDH, tidak hanya dirasakan oleh para anggota, tetapi juga oleh warga masyarakat lain. Seiring dengan kondisi permodalan LMDH yang membaik, mereka pun menyelenggarakan program-program sosial.

Sekretariat yang mereka bangun, mereka fungsikan sebagai tempat belajar 24 anak PAUD dan Posyandu. LMDH juga membantu membangun Madrasah di kampung, membantu pembuatan balai tempat belajar di luar ruangan Sekolah Dasar, membangun MCK, membantu perbaikan jembatan desa, serta menyantuni anak yatim.

“Kami pun memberikan bantuan biaya pengobatan bagi anggota yang sakit,” kata Juhana.

Kini, Pengurus LMDH punya obsesi lain. Yaitu giat menanamkan kembali nilai-nilai gotong royong di tengah masyarakat yang hampir pudar.

“Kami sering menggerakkan anggota LMDH untuk bersama-sama membantu memperbaiki rumah warga yang rusak,” ujar Juhana.

Sebuah kiprah rakyat kecil yang indah.

Catatan: tulisan ini dimuat di Duta Rimba

Rabu, Agustus 29, 2007

Dan Ecca pun Pulang

Meski awalnya tak suka, ternyata setelah diperhatikan, program reality show Mamamia di Indosiar seru juga. Kontes menyanyi remaja yang dimanajeri masing-masing ibu tersebut ini tidak hanya menyuguhkan kompetisi dalam hal teknis olah vokal, tetapi juga menyangkut banyak hal, mulai setting panggung, tata busana, gaya koreografi dan terutama –yang paling menarik, adalah keterlibatan emosial di antara para anak-anak dan ibunya. Banyak kejadian-kejadian dramatis yang terjadi, dari pingsannya seorang ibu karena anaknya masuk “zona kritis,” anak-anak yang ngambek (atau sebaliknya) karena ketidaksetujuan konsep, penampilan Fiersha yang membuat Dhani “nderes mili,” komentar-komentar “Dewan Eksekutor” yang pedas plus protes ibu-ibu terhadapnya, sampai pada kejutan-kejutan yang memang dirancang sendiri oleh pembuat acara.

Dan di minggu ini –yang main malam tadi– tersisa lima peserta: Margareth, Mytha, Ajeng, Ecca dan Fiersha. Kelima remaja ini memang bisa dikatakan yang terbaik, karena mereka memiliki keunggulan masing-masing, baik dari segi teknis olah vokal maupun yang menyangkut sisi emosionalitasnya. Margareth dan Mytha misalnya. Keduanya memiliki teknis olah vokal yang sangat prima. Margareth bisa dikatakan terbaik dalam hal ini. Dia bisa membawakan setiap lagu tidak saja dengan sempurna tetapi juga berkharakter. Penampilan sang ibu, Sayidah, juga tak kalah menarik. Tingkahnya yang lugu dan kocak memberi nilai tambah yang signifikan untuk menarik para juri “votelock” memilihnya. Sementara Mytha sangat matang dalam musik jazz. Dalam sebuah komentarnya, Helmi Yahya mengatakan bahwa Andien baru telah lahir. Penampilan Mytha, kharakter vokal maupun wajahnya, memang mengingatkan kita pada penyanyi jazz muda itu. Meski sempat tersandung karena salah memilih lagu pada minggu sebelumnya, posisi Mytha nampaknya akan masih sangat aman, khususnya dari eksekusi para eksekutor. Penampilan sang ibu yang kalem juga memiliki kelebihan tersendiri. Saya bahkan memprediksikan, dari keseluruhan peserta, mungkin hanya kedua anak ini yang akan memiliki karir yang panjang dalam musik Indonesia.

Tiga lainnya juga memiliki daya tarik yang tak kalah, terutama secara emosionalitas. Ada Fiersha yang kerap membuat kita terharu. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki ia bisa tampil dengan tegar dan penuh semangat yang membuat kita sangat terenyuh. Penampilan terbaiknya adalah ketika di hari ulang tahunnya dia menyanyikan lagu Air Mata Ibu dengan sempurna yang membuat para pendengarnya merinding dan berkaca-kaca. Didampingi sang ibu yang nampak sekali sebagai seorang “pejuang,” Fiersha mungkin adalah yang paling peserta yang paling diingat oleh para penonton rumahan. Helmi sendiri berkali-kali mengatakan bila saja kompetisi ini ditentukan dengan format sms besar kemungkinan Fiersha yang akan menang. Sementara Ajeng tak kalah faktor emosionalitas-nya. Latar belakang yang sulit sebagai seorang pengamen jalanan memberi dia tempat tersendiri di hati para penonton. Terlebih karena dengan latar belakang seperti itu dia tampil penuh percaya diri dan ceria. Ajeng seakan-akan mewakili komunitas “orang –orang pinggiran” yang dengan gagah berani menantang gemerlap dunia showbiz yang konon tak berbelas kasihan.

Terakhir adalah Ecca. Dia adalah favorit saya. Penampilannya yang imut dan lucu sungguh menggemaskan. Helmi bilang, bahkan bila Ecca tak nyanyi pun orang sudah akan memilih dirinya karena ia memang memiliki daya tarik yang kuat karena ke-imutan-nya. Penampilan terbaiknya menurut saya adalah ketika ia menyanyikan lagu Apa Kata Bintang membuat besoknya saya langsung mencari kaset Gita Gutawa. Sophia Latjuba mengatakan salah satu keunggulan Ecca adalah karena dia tampil sesuai umurnya. Sayangnya, dengan kharakter seperti itu, seperti yang pernah dikeluhkan ibunya, Ecca tak punya banyak lagu yang selalu cocok dinyanyikan, sehingga di beberapa minggu terakhir terpaksa menjadi dewasa juga dengan menyanyikan lagu cinta. Apalagi kompetisi memang berjalan cukup panjang.

Dan salah satu konsekwensi dari panjangnya kompetisi juga adalah kebosanan. Pada peserta yang lebih menampilkan sisi emosionalitas sebagai keunggulannya sudah mulai mendapatkan dampaknya. Malam tadi, dari kelimanya, hanya Margareth dan Mytha –yang memiliki keunggulan dalam bidang teknis, yang dalam posisi aman. Tiga yang lain, bahkan Fiersha yang biasanya selalu aman, masuk zona kritis. Dan akhirnya Ecca pun harus tersisih. Sedih memang. Namun, apapun, ini adalah konsekwensi dari sebuah kompetisi.

Well, C U Ecca!