Senin, Maret 19, 2007

Keajaiban

PERNAH mengalami keajaiban? Saya pernah, beberapa kali. Saya sebut keajaiban karena dia datang tanpa terduga pada saat-saat paling kritis, yang menolong saya bisa selamat dari sesuatu hal. Seakan-akan ada campur tangan Tuhan secara langsung pada saat itu terjadi. Dan dalam hidupku, ada beberapa kejadian yang selalu saya ingat, yang saya merasa itu sebagai keajaiban.

Pertama terjadi beberapa tahun lalu, semasa baru lulus kuliah. Pada saat itu saya hidup dalam kondisi yang sangat prihatin karena belum mendapatkan pekerjaan, sedangkan kiriman orang tua juga sudah terhenti. Untuk menyambung hidup saya melakukan berbagai cara seperti mengikuti proyek-proyek kecil, membantu teman bikin laporan, skripsi atau thesis atau apa pun yang bisa menghasilkan uang. Namun begitu karena hal-hal tersebut tak selalu ada, saya kerap mengalami masa-masa sulit. Bahkan untuk makan pun kadang tak punya sama sekali. Bila sudah begitu biasanya saya menggunakan langkah terakhir yang paling tak saya suka: meminjam ke teman atau mengutang ke warung. Hal itu berlangsung hampir selama delapan bulan, sampai saya kemudian diterima bekerja di tempat yang sekarang ini.

Nah pada masa-masa itulah pada suatu kali ada sebuah momen yang membuat saya sangat takjub. Saya masih ingat peristiwanya terjadi selepas maghrib. Pada saat itu sudah beberapa minggu tak mendapatkan job, sehingga persediaan uang sudah tak bersisa. Mau meminjam uang, bingung pada siapa lagi, karena hampir semua teman yang ‘memungkinkan’ dipinjami sudah saya pinjami. Padahal malam itu saya lapar sekali karena belum makan. Mau mengutang ke warung malu karena sudah terlalu sering. Bingung, lapar dan tak tahu apa yang harus dilakukan, akhirnya saya berjalan tak ada tujuan ke arah luar kampus (meski sudah lulus saya masih tinggal di asrama mahasiwa yang terletak di dalam kampus). Dalam hati berdoa mudah-mudahan ada seseorang yang bisa menolong.

Dan doa saya terkabul. Di tengah perjalanan, di keremangan maghrib yang gerimis dan sepi itu tiba-tiba saya melihat selembar uang tergeletak di jalan yang akan saya lewati, mungkin seribu rupiah. Dengan gembira dan tak sempat memperhatikan lebih detil, lembaran itu saya raih dan langsung dimasukkan ke saku, sekilas terlihat warnanya merah: ternyata sepuluh ribu. Lumayan, cukup untuk tiga hari makan. Tetapi ketika dirasa-rasa kemudian ternyata lembaran itu terbuat dari plastik. Karena penasaran, lembaran itu saya keluarkan kembali dan ternyata: seratus ribu rupiah.

Malam itu saya langsung makan di rumah makan Padang, membayar utang-utang dan membeli mie untuk persediaan. Saya tak tahu uang siapa jatuh pada saat itu. Tetapi siapa pun itu, di sini saya ingin mengucapkan terima kasih, dan memohon keikhlasannya karena telah saya pergunakan. Semoga Tuhan membalasnya dengan berlipat-lipat. :)

Ketika test masuk kerja pun saya merasakan ada keajaiban. Karena beberapa bulan sebelumnya saya menderita sakit yang cukup parah. Saya pikir dengan kondisi seperti itu saya tidak akan lulus test kesehatan. Tenyata satu minggu sebelum test saya pulih dengan ajaib. Padahal saya juga tidak berobat karena tak punya uang.

Terakhir, kemarin. Dalam beberapa bulan terakhir saya merasakan beban finansial yang cukup berat. Entah, selalu saja ada yang harus saya keluarkan. Parahnya, dana yang diinvestasikan pada seorang teman juga macet karena dia terkena musibah. Mau menagih piutang ke beberapa teman dan saudara juga kebayang takkan memperoleh hasil. Mereka selalu menganggap saya jauh dari masalah-masalah seperti ini. Padahal defisit terus memarah. Puncaknya beberapa hari yang lalu ketika saya harus membayar sebuah kewajiban yang cukup besar. Di hari itu saya terasa dunia begitu sesak.

Bingung karena tak tahu harus dari mana mendapatkan uang, saya teringat buku kumpulan doa karangan seorang ustad Haryono. Malam itu saya membuka-bukanya dan mencoba mengamalkan beberapa doa. Besoknya, saya pergi ke ATM, iseng-iseng mengecek honor tulisan dari sebuah majalah. Apa yang terjadi? Ketika melihat saldonya saya hampir berteriak tak percaya: disana tercatat saldo tabungan yang semula hanya beberapa ribu rupiah telah bertambah menjadi beberapa juta. Heran bercampur gembira saya mencoba sekali lagi, ternyata benar. Sampai sekarang saya belum tahu asal uang itu. Dugaan sementara uang berasal itu dari program tabungan jangka panjang yang sempat saya ikuti beberapa waktu yang lalu. Mungkin karena tak juga terpenuhi saldo minimumnya pihak bank menghentikannya dan mengembalikan ke rekening saya. Tetapi apapun itu, yang jelas saya sangat tertolong, karena dia hadir tepat pada saat yang diperlukan. Saya merasakannya sebagai sebuah keajaiban.

Kejadian-kejadian tersebut membuat saya yakin bahwa hidup memang sudah diatur. Sesuatu bila belum waktunya, takkan bisa bagaimanapun kita berusaha. Sebaliknya, bila memang sudah sampai waktunya, Tuhan akan memberi jalan bagaimanapun caranya.

Hmm... sedikit berbau anti-eksistensialis? Mungkin. Yang jelas saya percaya bahwa adalah kewajiban kita untuk terus berusaha.

Tidak ada komentar: