BERITA KECELAKAAN, KEPONAKAN YANG LUCU
DAN KETEMU MANTAN PACAR
SENIN pagi sebuah telepon mengejutkan datang dari sepupuku di Ciamis yang mengabarkan adik bungsu saya mendapatkan kecelakaan motor. "Tabrakan, A," katanya. Ketika saya keadaannya, ia tak memastikan. Tentu saja saya kaget dan panik. Apalagi ketika saya coba menghubungi hp adik saya itu tak juga tersambung. Akhirnya saya memohon izin pada atasan untuk pulang dulu ke Ciamis memastikan apa yang terjadi sekaligus memohon maaf untuk tidak menemaninya melakukan sebuah presentasi pagi itu.
Setelah izin didapat, saya langsung memacu si Merah menuju Ciamis. Untung saja saya sudah menyiapkan pakaian beberapa potong baju ganti plus alat mandi sehingga tak harus pulang dulu ke rumah. Di tengah jalan, bibi yang tinggal di Bandung menelpon menanyakan berita itu. Rupanya dia juga sudah mendapatkan kabar. Saya jawab saya tak tahu pasti, dan sekarang sedang di jalan menuju ke Ciamis.
Untungnya jalanan sangat lancar sehingga tak ada gangguan apa-apa. Sampai Tasik sebuah sms tiba. Adik saya mengabarkan kalau keadaannya baik-baik saja. Saya bersyukur dan lega, namun karena tanggung saya tetap meneruskan perjalanan, setelah sempat berhenti sebentar untuk makan soto betawi karena belum sarapan. Tiba di rumah keadaan pasti baru didapat. Ternyata kejadiannya bukanlah tabrakan seperti yang dikabarkan di telepon. Dia hanya kesenggol motor lain ketika akan berangkat kuliah naik motor diantar pamannya. Namun cederanya cukup parah juga. Sikut kanannya retak dan nampak dibalut. Katanya sudah ditangani oleh ahli tulang tradisional. Karena penasaran, sorenya saya ajak untuk difoto rontgen. Dan memang terlihat tulang sikutnya ada yang nyempal meski ukurannya kecil.
Paman saya bercerita bahwa kecelakaan itu terjadi karena kepanikan si pengendara motor karena melihat ada polisi di depannya. Merasa takut karena tak membawa surat-surat kendaraan dia bertindak gegabah sehingga menyebabkan motornya menyenggol motor yang dikendarai paman dan adik saya.
"Kalau gitu yang salah polisi dong," kata saya di depan paman yang lain dan suami adik sepupuku yang juga anggota polisi.
"Ya salah dia sendiri, kenapa polisi kok ditakuti," bela mereka. Rupanya mereka gak sadar, kalau polisi memang banyak ditakuti. He...
Lepas dari peristiwa itu, pulang ke Ciamis memberikan saya kesempatan untuk bisa melepas rindu kepada keponakanku (putri dari Adikku yang tengah yang berusia 2 tahun) yang biasa saya panggil si Ngekngok (yang membuat ibunya senewen karena panggilan itu). Anak kecil memang selalu membuat rindu. Ketika saya datang dia langsung datang menyambut. "Uwa....," katanya sambil langsung naik ke pangkuan. Ketika orang lain (paman-paman, dan sepupu-sepupuku) mengampiriku, dia marah. "Uyah....uyah...," katanya. Maksudnya Ulah, artinya kira-kira "Jangan ganggu". Kata ibunya dia memang sangat apet (akrab) pada laki-laki. Mungkin kangen sama bapaknya yang kini tengah berada di Jepang.
Sorenya, saya kontak seorang teman lama yang kini bertugas di Ciamis. "Saya sedang di GOR, sini aja," jawabnya di SMS. Saya pun menuju tempat yang ditunjukkan, meski sempat heran dalam hati, "emangnya di sana ada GOR?" Ketika sampai, saya berdegup karena tempat itu sangat saya kenal. Tentu saja, karena GOR itu terletak di depan rumah seseorang yang beberapa tahun yang lalu sempat membuat saya sering tak nyenyak tidur. Turun dari mobil, saya mendapatkan seorang wanita sedang berdiri di depan rumah itu, sepertinya sedang menunggu sesuatu. Ragu-ragu saya sapa dia. Dia nampak kaget, "Avid?" katanya.
Dia adalah Cimon (Cinta Monyet) saya waktu kelas 1 SMP. Kami dulu sekelas. Dia adalah gadis tercantik di kelas itu dan saya adalah (bukan nyombong :)) 'bintang pelajarnya'. Maka tak heran jika kami saling tertarik. Saya tertarik pada kecantikannya, dia mungkin kagum pada kemampuanku menjawab soal-soal matematika dan fisika dengan cepat, meski waktu itu saya juga memiliki stereotif 'orang pintar' yaitu: kaku dan membosankan untuk cewek. Gadis-gadis jaman itu memang masih menghargai intelektualitas.
Bisa dikatakan dia adalah cinta pertama saya. Saya jatuh cinta padanya sejak pertama kali bertemu. Masih terbayang waktu itu hari pertama kami masuk sekolah. Saya terpana melihat seorang gadis cantik berambut panjang dengan bando merah duduk di bangku kedua dari depan. Langsung saja hari-hari saya tak lepas dari bayangan wajahnya. Kami pun kemudian dekat. Apalagi karena juga sering dijodo-jodoin teman-teman. Beberapa kali janjian untuk main bersama, tentu saja bareng teman-teman. Ngaliwet, berenang, belajar kelompok ataupun sekedar jalan-jalan. Sayang, hari-hari itu tak lama. Ketika naik kelas dua dan kami berbeda kelas kami pun semakin jauh. Namun, maklum Cinta Pertama, kenangan itu tak pernah lepas dari kepalaku sampai bertahun-tahun kemudian.
"Kok ada disini?" tanyanya, menyadarkanku.
Dia masih terlihat... cantik. Meski tentu saja jauh lebih cantik 17 tahun yang lalu. Seingat saya kami sudah sekitar 11 tahun tak bertemu muka. Terakhir saya melihatnya ketika pesta kelulusan antar SMA yang tahun itu dilakukan bersama-sama di Alun-alun Ciamis (saya dan dia berbeda SMA).
Saya katakan mencari teman yang sedang main bulu tangkis di GOR belakang.
"Avid sekarang kerja di Perhutani?" tanyanya lagi.
Saya heran juga kenapa dia tahu teman saya adalah orang Perhutani. Saya jawab iya, namun bertugas di Bandung. Obrolan kemudian beralih kepada keadaan masing-masing.
"Saya kurus ya sekarang," katanya, "maklum capek ngurus anak."
"Memang anaknya berapa?" tanya saya.
"Dua, Avid?"
"Saya mah masih bujangan." Kataku tertawa.
Obrolan tidak belanjut lama. Selanjutnya saya mohon ijin untuk ke belakang dulu menemui teman tadi. Ternyata dia masih bermain. Ketika selesai, saya bercerita tentang pengalaman ketemu mantan pacar tadi.
"Perasan dulu mah cantik banget, sekarang kok biasa-biasa saja ya?" Kata saya sambil tertawa-tawa.
Beberapa waktu kemudian, saya kaget ketika dia masuk GOR sambil membawa makanan. Rupanya teman saya tadi memang memesannya. Yang saya heran, kenapa dia yang menghidangkan. Baru saya tahu kemudian, bahwa GOR ini adalah punya orang tuanya.
"Baru ya? Perasaan dulu belum ada?" tanya saya. Ia mengiyakan.
Kami pun kemudian mengobrol lebih banyak lagi. Tentang teman-teman SMP dulu, tentang cerita masing-masing. Perasaan, baru kali ini saya bisa ngobrol lepas dengan dia. Mungkin karena sudah sama-sama 'tua'. He he. Ketika saya tanyakan mana suaminya, dia menjawab:
"Tuh yang lagi main," jawabnya.
"Hah?" saya kaget. Orang tinggi besar itu ada di dekat sana ketika saya bercerita tadi.
Duh, mudah-mudahan saja dia tak mendengarnya. He he...


Posted in:
0 comments:
Post a Comment