Friday, December 09, 2011

Uniknya Sumber Lumpur Kesongo

Sumber Lumpur Kesongo merupakan sebuah keajaiban alam yang ada di KPH Randublatung. Ia terletak di petak 141 RPH Padas, BKPH Trembes dengan luas sekitar 100 Ha, berupa hamparan tanah kosong yang sebagian ditumbuhi rumput serta genangan air (rawa) dan menjadi tempat singgahnya beberapa jenis burung.

Dengan jarak sekitar 30 km dari arah Randublatung ke barat (Kecamatan Gabus, kabupaten Grobogan), Sumber Lumpur Kesongo memiliki keistimewaan, yaitu letupan-letupan lumpur dingin di setiap saat dan bersifat sporadik.

Selain itu pada titik ledakan yang dinamakan “keraton” bisa mengeluarkan letupan lumpur apabila dituang dengan susu cair. Letupan tersebut dipercaya bisa menggambarkan seberapa kuat dan besar keinginan pengunjung tentang suatu niat. Ritual ini bisa dilakukan dengan dipandu oleh juru kunci.

Kesongo ditetapkan sebagai situs ekologi oleh KPH Randublatung. Lokasi sekitarnya dimanfaatkan oleh masyarakat dukuh Pekuwon Lor dan Sucen mencari Rumput Wlingi (Scirpus grossus L.), Rumput Grinting (Cynodon dactylon) dan Rumput Sunduk Welut (Cyperus difformis).

Kawasan kesongo juga merupakan habitat beberapa jenis burung (aves) seperti Bangau Tong-tong (leptotilos javanicus), Manyar Jambul (Ploccus manyar), Belibis (Dendrocygna javanica), Belibis Batu (Dendrocygna javanica), Alap-alap Capung (Microhierax frigillarius).

Untuk jenis alap-alap capung ini sudah masuk kategori hampir punah Ditemukan pula 6 jenis amfibi, yaitu Katak Tegalan (Fejervarya limnocharis), Katak Hijau/Sawah (Fejervarya cancrivora), Bencok (Rana chalconota), Bangkong Kerdil (Limnonectes microdiscus), Katak Pohon Jawa (Rhacoporus javanus).

Kesongo dianggap keramat oleh penduduk sekitar karena ada kaitannya dengan legenda jawa Joko linglung. Konon di tempat tersebut pernah ada kejadian hilangnya 9 anak gembala yang ditelan oleh ular penjelmaan Joko Linglung.

Keajaiban lain di padang kesongo tersebut kadang juga terjadi letupan besar yang dinamai “kurdo” oleh masyarakat. Kurdo ini biasanya menelan korban berupa matinya puluhan burung yang bersarang di kawasan itu. Korban letusan berupa beberapa jenis burung, oleh beberapa orang dimanfaatkan untuk lauk sehari - hari.

Pada jam-jam tertentu, kita bisa melihat segerombolan burung Bangau Tongtong dan sekawanan kerbau milik masyarakat yang dilepaskan di padang rumput. Ini menjadi obyek yang menarik, selain pemandangan alam berupa hamparan lumpur lembab yang meletup-letup keluar dari perut bumi.

Untuk menuju ke Kesongo sudah ada akses yang memadai berupa jalan macadam yang cukup kuat sampai lokasi. Namun perlu juga dipersiapkan beberapa perlengkapan yang memadai karena lokasinya jauh dari warung
ataupun keramaian lain.

Berikut beberapa tips bagi anda yang akan traveling ke Kesongo:
  1. Persiapkan bekal makan dan minum secukupnya.
  2. Membawa kendaraan sendiri ( mobil, motor )
  3. Fisik yang prima karena melintasi jalan hutan .
  4. Persiapkan payung, topi, karena lokasinya terbuka dan sengatan matahari cukup leluasa.
  5. Jika ingin melakukan ritual, atau menjelajahi lokasi hubungi juru kunci karena sangat paham dan hafal jalan menuju lokasi keraton.
  6. Hindari kata – kata jorok, sombong dan congkak di tempat tersebut.
  7. Hati – hatilah kalau berjalan karena banyak lokasi Lumpur yang sudah mengering, namun jika diinjak kadang bisa ambles.
  8. Sebaiknya menurut apa kata juru kunci sebagai pemandu perjalanan.
  9. Tidak membuang sampah di lokasi tersebut
Catatan tulisan pernah dimuat di majalah Duta Rimba

Curug Cipendok Yang Alami

Menuju Curug Cipendok tidaklah terlalu susah. Hanya saja memang belum ada angkutan umum resmi yang sampai ke sana, sehingga anda harus menggunakan kendaraan pribadi atau sewaan untuk berkunjung. Objek tersebut berada sekitar 10 km arah barat Kota Purwokerto atau sekitar 5 km dari Ajibarang, Banyumas.

Dari jalan Jendral Sudirman Purwokerto menuju ke arah alun-alun, kemudian lurus ke jalan raya Losari. Selanjutnya akan ditemui plang tanda jalan masuk ke curug disebelah kiri jalan raya. Plang masuk ini berada di rambu lampu kuning berkelap-kelip di pertigaan jalan raya Cilongok. Dari pertigaan ini ambil belokan ke kanan ke jalan raya Cilongok dengan jarak sekitar 8 km hingga pintu gerbang curug. Kondisi jalannya naik dan berkelok, tapi aspalnya sudah halus.

Lokasi Curug berjarak sekitar 500 meter dari parkir mobil. Namun jangan khawatir, perjalanan setengah kilo meter dengan berjalan kaki tersebut tidak akan membuat anda lelah atau bosan. Anda akan dibawa memasuki panorama dan suasana alam yang masih asri,ditambah suara-suara serangga khas hutan tropisyang sungguh membuat anda merasakan sensasi kedamaian sulit untuk didapat.

Sekitar 15-20 menit sebelum sampai Curug Cipendok, anda akan disambut suara gemuruh bak hujan lebat. Itu adalah suara air terjun, yang jatuh dari ketinggian 100 meter tersebut. Udara dingin ditambah dengan titik-titik air membuat suasana damai dan sejuk. Jika sudah agak siang, sinar matahari yang bersinar membuat pelangi tipis hasil pantulan titik-titik air yang turun. Sedikit tips, jika anda berkunjung ke Curug ini, siap-siaplah membawa payung atau jas hujan, minimal pakaian ganti. Sebab kalau memasuki kawasan ini, badan Anda akan basah oleh titik-titik air yang terbawa angin meski tidak turun hujan.

Legenda

Nama Curug Cipendok konon bermula dari legenda dengan latar belakang sejarah Perang Diponegoro. Perang yang akhirnya dimenangkan Pemerintah Kolonial Belanda itu membuat seluruh wilayah kerajaan Surakarta termasuk wilayah Dulangmas (Kedu, Magelang, Banyumas) berada dibawah kekuasaan pemerintahan kolonial. Perjanjian tersebut tertuang dalam perjanjian Dulangmas

Nah, di salah satu wilayah Banyumas, tepatnya Ajibarang, saat itu dipimpin seorang Wedana bernama Raden Ranusentika. Saat itu ia diberi tugas oleh Pemerintah Kolonial untuk melakukan pembukaan hutan belantara di sekitar lereng Gunung Slamet untuk dijadikan area perkebunan.

Setelah delapan bulan lamanya ia memimpin kegiatan pembukaan hutan tersebut, belum juga mendapatkan hasil. Selalu terjadi keanehan,yaitu setiap pohon-pohon selesai ditebang, esoknya tumbuh lagi seperti semula. Seolah-olah belum pernah terjamah manusia sama sekali. Kejadian ini terjadi berulangulang, sehingga membuat bingung Raden Ranusentika.

Maka kemudian sang Wedana berdoa dan bermohon kepada Tuhan dengan cara bertapa. Namun, setelah beberapa lama ia tak juga mendapatkan petunjuk. Akhirnya ia pun menyudahi bertapanya. Sembari mengusir kegundahan dan mencari jalan keluar, Raden Ranusentika pergi memancing ikan di dekat air terjun.

Di tengah-tengah memancing, tiba-tiba ia merasa kailnya seperti ditarik-tarik oleh ikan yang besar, sampai-sampai gagang pancingnya melengkung. Alangkah terkejutnya ia, saat pancingnya ditarik ternyata bukannya ikan yang didapat, melainkan sebuah benda mirip cincin, atau biasa disebut pendok, yang merupakan cincin warangka keris yang bersinar kuning keemasan.

Ketika didekatkan ke matanya, tibatiba Raden Ranusentika bisa melihat banyak sekali makhluk halus yang berada di hutan yang telah ditebang habis. Ternyata mereka semua yang selama ini menggagalkan pekerjaan Raden Ranusentika.

Atas usulan Breden Santa, seorang kepala pekerja, air terjun dimana Raden Ranusentika menemukan pendok keris, dinamakan Curug Cipendok. Berasal dari kata curug yang berarti air terjun dan pendok atau cincin dari bilah keris.

Telaga Pucung

Tak jauh dari Curug Cipendok, terdapat sebuah telaga yang juga menakjubkan, namanya Telaga Pucung. Telaga ini dikelilingi oleh hutan pinus dan damar, sehingga sangat cocok untuk camping ground. Daya tarik objek wisata ini adalah telaga dengan air yang jernih dan kawasan hutan alami yang mengelilinginya. Jika beruntung, anda akan dapat mendengar suara-suara burung langka seperti elang Jawa yang terbang berputar-putar di atas telaga, atau sejenis monyet berwarna abu-abu yang disebut rek-rek.

Tempat wisata yang masuk dalam wilayah Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur tersebut mulai dibenahi dengan berbagai fasilitas. Perhutani telah melengkapinya dengan tempat parkir, tempat istirahat, dan kamar mandi.

Di sekitar Telaga juga terdapat tempat lapang yang dapat digunakan untuk camping ground. Tempat tersebut sengaja dibuat, dikhususkan bagi anakanak muda yang suka berpetualang dengan di alam bebas.

Selain itu juga terdapat Kampung Panginyongan, yaitu berupa cottage yang disetting bernuansa kampung jaman dulu yang cocok untuk menghabiskan akhir pekan anda bersama keluarga.

Catatan: tulisan ini pernah dimuuat di majalah Duta Rimba

Rasamala, Si Eksotis dari Tanah Pasundan

Rasamala (Altingia excelsa Noronha) adalah pohon hutan yang dapat tumbuh sangat tinggi, mencapai 40 hingga 60 meter. Pohon ini bernilai ekonomi karena kayunya yang kuat dan menghasilkan getah yang berbau harum dan menjadi bahan campuran pengharum ruangan. Di Indonesia dikenal dengan nama daerah: rasamala, mala, tulasan dan mandung. Di Birma dipanggil Nantayok, Laos Sop dan Thailand Sop, Hom serta Satu.

Konon, species ini awalnya menyebar dari Himalaya melalui Burma, menuju Semenanjung Malaysia, Sumatra Sumatra dan Jawa. Di Jawa, pohon ini hanya ditemukan di bagian barat dengan ketinggian antara 500 dan 1500 m dpl di hutan bukit dan pegunungan lembab. Sehingga tidak sedikit yang mengatakan bahwa Rasamala merupakan tanaman lokal Jawa Barat. Di Sumatera, Rasamala tersebar di Bukit Barisan. Mereka tumbuh secara alami terutama pada lokasi yang lembab dengan curah hujan lebih dari 100 mm per bulan dan tanah vulkanik yang subur.

Jenis ini digunakan untuk reboisasi terutama di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Biasanya ditanam pada jarak rapat, karena pohon muda cenderung bercabang jika mendapat banyak sinar matahari.

Kegunaan

Kayu Rasamala dikenal sangat awet meski disimpan langsung bersentuhan dengan tanah. Karena bebas cabangnya tinggi, maka kayunya cocok untuk kerangka jembatan, tiang, konstruksi, tiang listrik dan telpon, serta penyangga rel kereta api. Selain itu, dimanfaatkan untuk konstruksi berat, rangka kendaraan, perahu dan kapal, lantai, rakit, vinir, dan plywood.

Di Jawa Barat, daun yang masih muda berwarna merah sering untuk dikonsumsi sebagai sayur atau lalap. Daun yang ditumbuk halus biasa juga digunakan sebagai obat batuk. Getahnya berbau aromatik dapat digunakan sebagai pengharum ruangan.

Deskripsi botani

Pohon Rasamala selalu hijau. Tingginya dapat mencapai 40-60 m dengan tinggi bebas cabang 20-35 m. Diameter bisa mencapai hingga 80-150 cm. Kulit kayunya halus, berwarna abu-abu. Kayunya berwarna merah. Pohon yang masih muda bertajuk rapat dan berbentuk pyramid. Bentuk ini berangsur menjadi bulat seiring bertambahnya umur. Letak daun bergiliran. Bentuknya lonjong dengan panjang 6 - 12 cm dan lebar 2,5-5,5 cm. Bentuk khasnya adalah tepi daun yang bergerigi halus.

Bunganya berkelamin satu. Bunga jantan dan betina terpisah pada pohon yang sama. Malai betina terdiri dari 14-18 bunga, berkumpul menyerupai kepala.

Deskripsi buah dan benih

Buah Pohon ini berdiameter 1,2-2,5 cm dan berwarna coklat seperti kapsul yang terdiri 4 ruang. Setiap ruang berisi 1-2 benih yang telah dibuahi. Selain benih yang dibuahi, dalam setiap ruang tersebut juga terdapat benih yang tidak dibuahi yang jumlahnya mencapai 35 butir.

Bentuk benihnya pipih dan dikelilingi sayap yang berbau aromatik. Setiap kg benih terdiri 177.000 butir atau 75.000 benih/liter. Sistem perkecambahannya epigeal.

Musim berbunga dan berbuah

Di Jawa, Rasamala berbunga dan berbuah sepanjang tahun. Tetapi mencapai puncaknya pada bulan April-Mei. Puncak pembuahan dan saat terbaik untuk pengumpulan benih terjadi pada Agustus-Oktober. Belum diketahui vektor penyerbukannya, tetapi diduga perantara penyerbukannya adalah angin, berdasarkan tinjauan bahwa bunga tidak memiliki kelopak dan mahkota, benang sari sangat berlimpah, dan kepala putiknya berupa “papila”.

Panen buah

Buah harus segera dikumpulkan sebelum warnanya berubah hitam. Apabila terlambat, buah mungkin telah kosong karena benih sudah terpencar. Pengolahan dan penanganan benih Benih diekstraksi dengan penjemuran selama 2 hari, atau dengan pengering benih suhu 38-42_C selama 20 jam. Dengan perlakuan ini, buah akan terbuka sehingga benih mudah diekstraksi. Meja sortasi benih mungkin dapat digunakan untuk memilah benih berdasarkan berat.

Penyimpanan dan viabilitas

Benih segar segera menurun vibilitasnya sehingga hendaknya segera ditabur. Hasil penelitian Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan Bogor menunjukkan bahwa viabilitas dapat dipertahankan hingga 12 minggu apabila benih dikeringkan hingga kadar air 5-8 % kemudian dimasukkan wadah plastik kedap udara dan disimpan di dalam ruang sejuk suhu 5-8_C.

Penaburan dan perkecambahan

Benih hendaknya direndam di dalam air selama 24 jam sebelum ditabur. Media tabur yang digunakan biasanya adalah campuran pasir-tanah 1:1. Perkecambahan mulai pada hari ke-10. Kecambah yang telah berumur 1 bulan dapat disapih ke polybag yang telah berisi media kaya bahan organik.

Kerajaan: Plantae (tidak termasuk) Eudicots (tidak termasuk) Core eudicots
Ordo: Saxifragales
Famili: Altingiaceae
Genus: Altingia
Spesies: A. excelsa
Posted in: Altingiaceae

(Dari berbagai sumber)

Catatan: Tulisan ini pernah dimuat di majalah Duta Rimba

Kiprah Indah LMDH Wana Mekar

Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wana Sukamekar di Kampung Ciharum Desa Sukamekar Kecamatan Sukanagara Kabupaten Cianjur didirikan oleh para petani hutan tahun 2005. Tujuannya meningkatkan kesejahteraan anggota dengan mengoptimalkan potensi hutan yang berada di pangkuan desa Sukamekar. Kini jumlah anggotanya mencapai 300 orang dengan 10 orang pengurus.

“Mereka terdiri dari penyadap getah pinus, petani tumpangsari dan para pekerja di tebangan,” kata A Juhana, sang ketua, saat ditemui beberapa waktu lalu. LMDH tersebut mengelola hutan pangkuan desa Sukamekar yang masuk wilayah pengelolaan RPH Campaka BKPH Sukanagara Utara Perum perhutani KPH Cianjur. Luasnya 1.071,08 Ha, terdiri dari tegakan Pinus, rasamala, pulai, acacia mangium, mindi dll.

“Kami bersama-sama Perhutani mengelola hutan,” ujar Juhana. Sejak tahun 2007, LMDH telibat dalam kegiatan pembuatan tanaman dengan hasil yang sangat baik. Sebanyak 47 anggota aktif menjadi penyadap getah pinus. Anggota juga menjadi tenaga kerja pada saat dilakukan kegiatan tebangan. Limbah tebangan/kayu bakarnya dapat mereka manfaatkan dengan gratis.

Para petani hutan memanfaatkan lahan dengan tumpang sari padi gogo, kacang-kacangan, jagung dan cabe. Hasilnya dirasakan sangat membantu perekonomian mereka.

“Kami pun turut mengamankan hutan,” lanjut Juhana. Angka gangguan hutan terbukti terus menurun. Tahun 2007, di wilayah tersebut tercatat terdapat 2 LA (laporan kepolisian atas kehilangan pohon). Tahun 2008 angka tersebut menurun menjadi hanya 1 LA. Dan sejak 2009 tidak ada lagi LA. “Kami terus melakukan penyadaran kepada para penggarap untuk membantu pengamanan,” lanjutnya.

Keberadaan mereka ternyata menarik perhatian pemerintah daerah setempat. Melihat potensi yang baik dari kelompok tersebut, Dinas Peternakan Kabupaten Cianjur pun memberikan bantuan ternak sapi. “Pada 2007 – 2008 kami mendapat sebanyak 50 ekor sapi. Bila diuangkan nilainya kurang lebih Rp.500 juta,” kata Juhana.

Kini sapinya berkembang menjadi 80 ekor dan melibatkan sebanyak 28 orang peternak yang tersebar di beberapa kandang. “Kebutuhan pakan dicukupi dengan rumput gajah yang ditanam di sekitar kandang dan yang ditanam di bawah tegakan dalam kawasan hutan.”

Mereka juga mengembangkan kopi arabika di bawan tegakan. Penanaman kopi kopi sudah dimulai sejak Tahun 2008 seluas 16,30 Ha. Pada tahun 2009, Perhutani KPH Ciajur memberikan bantuan pinjaman PKBL sebesar 15 juta rupiah. Pinjaman tersebut sebagian digunakan untuk persemaian kopi. Tahun 2011 direncanakan untuk memperluas penanaman kopi yang sampai 70 Ha yang bibitnya didapat dari hasil persemaian tersebut.

Tahun 2010, mereka kembali mendapat bantuan dari Dinas Peternakan berupa pembangunan satu Unit rumah kompos dengan mesin pembuat kompos. Juga bantuan dari Gubernur melalui Dinas Pertanian berupa pupuk sebanyak 3 ton.

Keberadaan LMDH, tidak hanya dirasakan oleh para anggota, tetapi juga oleh warga masyarakat lain. Seiring dengan kondisi permodalan LMDH yang membaik, mereka pun menyelenggarakan program-program sosial.

Sekretariat yang mereka bangun, mereka fungsikan sebagai tempat belajar 24 anak PAUD dan Posyandu. LMDH juga membantu membangun Madrasah di kampung, membantu pembuatan balai tempat belajar di luar ruangan Sekolah Dasar, membangun MCK, membantu perbaikan jembatan desa, serta menyantuni anak yatim.

“Kami pun memberikan bantuan biaya pengobatan bagi anggota yang sakit,” kata Juhana.

Kini, Pengurus LMDH punya obsesi lain. Yaitu giat menanamkan kembali nilai-nilai gotong royong di tengah masyarakat yang hampir pudar.

“Kami sering menggerakkan anggota LMDH untuk bersama-sama membantu memperbaiki rumah warga yang rusak,” ujar Juhana.

Sebuah kiprah rakyat kecil yang indah.

Catatan: tulisan ini dimuat di Duta Rimba

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons