Menuju Curug Cipendok tidaklah terlalu susah. Hanya saja memang belum ada angkutan umum resmi yang sampai ke sana, sehingga anda harus menggunakan kendaraan pribadi atau sewaan untuk berkunjung. Objek tersebut berada sekitar 10 km arah barat Kota Purwokerto atau sekitar 5 km dari Ajibarang, Banyumas.
Dari jalan Jendral Sudirman Purwokerto menuju ke arah alun-alun, kemudian lurus ke jalan raya Losari. Selanjutnya akan ditemui plang tanda jalan masuk ke curug disebelah kiri jalan raya. Plang masuk ini berada di rambu lampu kuning berkelap-kelip di pertigaan jalan raya Cilongok. Dari pertigaan ini ambil belokan ke kanan ke jalan raya Cilongok dengan jarak sekitar 8 km hingga pintu gerbang curug. Kondisi jalannya naik dan berkelok, tapi aspalnya sudah halus.
Lokasi Curug berjarak sekitar 500 meter dari parkir mobil. Namun jangan khawatir, perjalanan setengah kilo meter dengan berjalan kaki tersebut tidak akan membuat anda lelah atau bosan. Anda akan dibawa memasuki panorama dan suasana alam yang masih asri,ditambah suara-suara serangga khas hutan tropisyang sungguh membuat anda merasakan sensasi kedamaian sulit untuk didapat.
Sekitar 15-20 menit sebelum sampai Curug Cipendok, anda akan disambut suara gemuruh bak hujan lebat. Itu adalah suara air terjun, yang jatuh dari ketinggian 100 meter tersebut. Udara dingin ditambah dengan titik-titik air membuat suasana damai dan sejuk. Jika sudah agak siang, sinar matahari yang bersinar membuat pelangi tipis hasil pantulan titik-titik air yang turun. Sedikit tips, jika anda berkunjung ke Curug ini, siap-siaplah membawa payung atau jas hujan, minimal pakaian ganti. Sebab kalau memasuki kawasan ini, badan Anda akan basah oleh titik-titik air yang terbawa angin meski tidak turun hujan.
Legenda
Nama Curug Cipendok konon bermula dari legenda dengan latar belakang sejarah Perang Diponegoro. Perang yang akhirnya dimenangkan Pemerintah Kolonial Belanda itu membuat seluruh wilayah kerajaan Surakarta termasuk wilayah Dulangmas (Kedu, Magelang, Banyumas) berada dibawah kekuasaan pemerintahan kolonial. Perjanjian tersebut tertuang dalam perjanjian Dulangmas
Nah, di salah satu wilayah Banyumas, tepatnya Ajibarang, saat itu dipimpin seorang Wedana bernama Raden Ranusentika. Saat itu ia diberi tugas oleh Pemerintah Kolonial untuk melakukan pembukaan hutan belantara di sekitar lereng Gunung Slamet untuk dijadikan area perkebunan.
Setelah delapan bulan lamanya ia memimpin kegiatan pembukaan hutan tersebut, belum juga mendapatkan hasil. Selalu terjadi keanehan,yaitu setiap pohon-pohon selesai ditebang, esoknya tumbuh lagi seperti semula. Seolah-olah belum pernah terjamah manusia sama sekali. Kejadian ini terjadi berulangulang, sehingga membuat bingung Raden Ranusentika.
Maka kemudian sang Wedana berdoa dan bermohon kepada Tuhan dengan cara bertapa. Namun, setelah beberapa lama ia tak juga mendapatkan petunjuk. Akhirnya ia pun menyudahi bertapanya. Sembari mengusir kegundahan dan mencari jalan keluar, Raden Ranusentika pergi memancing ikan di dekat air terjun.
Di tengah-tengah memancing, tiba-tiba ia merasa kailnya seperti ditarik-tarik oleh ikan yang besar, sampai-sampai gagang pancingnya melengkung. Alangkah terkejutnya ia, saat pancingnya ditarik ternyata bukannya ikan yang didapat, melainkan sebuah benda mirip cincin, atau biasa disebut pendok, yang merupakan cincin warangka keris yang bersinar kuning keemasan.
Ketika didekatkan ke matanya, tibatiba Raden Ranusentika bisa melihat banyak sekali makhluk halus yang berada di hutan yang telah ditebang habis. Ternyata mereka semua yang selama ini menggagalkan pekerjaan Raden Ranusentika.
Atas usulan Breden Santa, seorang kepala pekerja, air terjun dimana Raden Ranusentika menemukan pendok keris, dinamakan Curug Cipendok. Berasal dari kata curug yang berarti air terjun dan pendok atau cincin dari bilah keris.
Telaga Pucung
Tak jauh dari Curug Cipendok, terdapat sebuah telaga yang juga menakjubkan, namanya Telaga Pucung. Telaga ini dikelilingi oleh hutan pinus dan damar, sehingga sangat cocok untuk camping ground. Daya tarik objek wisata ini adalah telaga dengan air yang jernih dan kawasan hutan alami yang mengelilinginya. Jika beruntung, anda akan dapat mendengar suara-suara burung langka seperti elang Jawa yang terbang berputar-putar di atas telaga, atau sejenis monyet berwarna abu-abu yang disebut rek-rek.
Tempat wisata yang masuk dalam wilayah Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur tersebut mulai dibenahi dengan berbagai fasilitas. Perhutani telah melengkapinya dengan tempat parkir, tempat istirahat, dan kamar mandi.
Di sekitar Telaga juga terdapat tempat lapang yang dapat digunakan untuk camping ground. Tempat tersebut sengaja dibuat, dikhususkan bagi anakanak muda yang suka berpetualang dengan di alam bebas.
Selain itu juga terdapat Kampung Panginyongan, yaitu berupa cottage yang disetting bernuansa kampung jaman dulu yang cocok untuk menghabiskan akhir pekan anda bersama keluarga.
Catatan: tulisan ini pernah dimuuat di majalah Duta Rimba